JADILAH PENOLONG ALLAH

0
643
views

Jadilah penolong Allah sebagaimana yang dikehendaki oleh firmanNya dalam QS. Ash Shaf ayat 14, yang ditujukan kepada orang-orang yang berimannya benar-benar ma’rifatun watashdiqun.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ (١٤)
 

Yaitu telah secara benar memperoleh ilmu untuk mengenali dan mengetahui Ada dan Wujud DiriNya Dzat Al-Ghayb, Allah namaNya, lalu hanya itu yang selalu diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati kapan saja, dimana saja dan sedang apa saja.

Serta membenarkan bahwa yang berhak dan sah menunjuki, Wasithah, adalah hamba Allah yang dikehendaki dengan izinNya untuk meneruskan tugas dan kewajiban gurunya mewakili tugas dan kewajiban Junjungan Nabi Muhammad SAW rasulNya agar hak-haknya sama sekali tidak pernah terputus sampai kiyamat nanti.

Jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa putra Maryam yang telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia:

Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menuju kepada Allah?”
Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah”.

Menolong Allah adalah bahasa kias.
Allah adalah Dzat Yang tidak kurang suatu apa.
Ungkapan firman yang demikian itu oleh karena ternyata manusia yang diwujudkan berjiwa raga dalam menjalani ujian dunia, dicipta Allah dari setetes mani tetapi tiba-tiba hanyalah menjadi musuh (Allah) yang terang-terangan.

Sebagaimana firmanNya di QS Yasin ayat 77:

أَوَلَمْ يَرَ الإنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami ciptakan dari setetes mani, maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”.

Penantang nyata pada kehendak Allah sama artinya berani menjadi musuhnya Allah. Menentang kehendakNya tentang berimannya kepada para malaikatNya supaya nyata, harus dengan cara mengikuti jejak para malaikatNya yang taat pada perintahNya. Yaitu sujud kepada wakilNya Allah di bumi.

Yaitu menghormati dengan patuh dan tunduk ka al-mayyiti dihadapan hamba yang ditugasi mewakili DiriNya karena Al-Ghayb (tidak akan pernah ngejawantah di bumi). Yakni hamba yang tugas pokoknya sebagai Wasithah karena Laa biwushulin ilaihi illa biwaasithatin.

Inilah yang ditentang habis-habisan sebagaimana makhluk yang dijuluki iblis oleh Tuhan. Menentangnya pada kehendak Allah bahkan menantang dengan kerasnya sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS. Al Hijr ayat 39 dan 40.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ   (٣٩)
إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠)

Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang benar, memandang indah dan memandang baik (perbuatan yang sama sekali tidak sejalan dengan kehendakMu) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

Penolong-penolong Allah adalah hambaNya yang dikehendaki mukhlis.
Mereka yang dengan ikhlas memenuhi firmanNya dalam QS. Al-Ikhlas.

Qul huwa Allahu ahad.
Qul (katakanlah) adalah fiil amr. Perintah dari Allah.
Perintah itu harus sekarang juga dilaksanakan.
Huwa adalah dhomir. Artinya, sesuatu yang tersimpan di dalam rasa hati. Diitsbatkan dalam rasa hati (ditetapkan dalam rasa hati).
Mengenai Dia Dzat Al-Ghayb, Allah namaNya, Ahad (satu-satuNya Dzat yang Mutlak WujudNya).

Maksud satu-satuNya Dzat Yang mutlak WujudNya sebab selain Ada dan WujudNya, termasuk wujud jiwa raganya manusia, semua saja disebut bangsa wujud.
Sebab sebenarnya tidak ada dan tidak wujud.
Diwujudkan nampak ada oleh mata kepala disengaja Allah sebagai ujian.
Semuanya adalah bayang-bayangnya Dzat Yang Mutlak WujudNya.

Lalu mengapa hidup hanya habis mengejar bayang-bayang?

Karena itu Allahu Ash Shamadu.
Allah adalah Tuhan tempat bergantung.
Maksudnya adalah bagaimana dalam segala tingkah dan perbuatan lahir dan batin, kapan saja, dimana saja dan sedang apa saja selalu berusaha untuk mendzikiriNya. Mengingat-ingat dan menghayati Ada dan WujudNya, dengan merendahkan diri dan dengan rasa takut. Sebab segala sesuatu hancur kecuali Ada dan Wujud DiriNya.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Hanya watak akunya nafsu manusia ternyata berlagak seperti anak Allah dan atau yang memperanakkan Allah.
Yaitu kesombongannya dengan watak melampaui batas karena memandang dirinya serba cukup. Terhormat. Bergengsi. Terpuji. Terhebat. Aku kok!

Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Hanya nafsu dan watak akunya manusia yang kemudian merasa setara dengan Tuhannya. Maksudnya, sama sekali tidak butuh mengenal dan mengetahui Ada dan WujudNya Dzat Al-Ghayb Yang mutlak WujudNya, dekat sekali dalam rasa hati. Karena itu bernafas pun tidak kalau tidak dengan DiriNya Ilaahi. Sadar dan tidak sadar telah merasa setara dengan Tuhannya. Lupa sama sekali bahwa manusia adalah al-faqir. Bahkan telah merasa bisa, merasa lebih mengerti bagaimana mengelola garapan dunia meskipun tanpa dengan Tuhan yang menciptakannya. Dzat yang senantiasa meliputi dan menyertai hamba-hambaNya.

Merasa telah cukup hanya mengenal namaNya, Allah, dan Asmaul husnaNya.
Padahal sebagaimana halnya sebuah nama, tidak bisa berbuat apa-apa.
Yang bisa apa-apa dan bahkan menciptakan jagad seisinya adalah Yang EmpuNya nama Allah.
Yakni Dzat yang meskipun Al-Ghayb mutlak WujudNya dan dekat sekali dalam rasa hati. Akibat dari pada itu adalah sebagaimana maksud firmanNya dalam QS Saba’ 51 s/d 54. Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang yang matinya sesat itu) terperanjat ketakutan (pada hari kematiannya);
maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadyabalanya iblis dibawa ke tempat sesat),
dan (di waktu itu) mereka berkata: “Kami telah beriman kepadaNya, bagaimana mereka dapat mencapai keimanan dari tempat yang jauh?”
Dan sesungguhnya mereka telah ingkar sebelum itu (ketika masih berkesempatan menjalani hidup di dunia);
dan (karena) mereka (hanya) menduga-duga saja mengenai (Ada dan Wujud DiriNya Dzatullah Yang) Al-Ghayb dari tempat yang jauh.
Ketika di dunia acuh, sombong, nafsu dan watak akunya gengsi untuk meminta petunjuk kepada ahlinya (Wasithah).
Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (kembali ke dunia meluruskan kesalahannya) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam.

Menjadi penolong Allah sama sekali tidak pantas apabila niatnya menyembah kepadaNya tidak sungguh-sungguh, tidak benar dan tidak ikhlas.
Harus berusaha supaya tetap dalam keadaan nglenggana.
Maksudnya, plong, gamblang, yakin atas kebenaran ajarannya Wasithah.
Lalu berusaha tumata lahirnya dan batinnya.
Yakni dzahiruhu syareat wa batinuhu hakekat.

Kemudian berani ndada meskipun ternyata rumpil margane, akeh pengorbanane, gede cobane, abot sanggane, adoh jero lembut tebane, berani ndada. Berani nekat dengan selalu sabar dan tawakkal supaya sampurna wusanane.
Dan dijaga dengan akhlaknya yang mulia.
Supaya jamaah ini padu dan seia sekata dengan dawuh guru.
Dan kalaulah terpaksa ada yang mendustakan dan berbalik ke belakang,
Allah telah memberi petunjuk harus bagaimana menghadapinya.
Sebagaimana firmanNya dalam QS. Al An’am ayat 66:

وَكَذَّبَ بِهِ قَوْمُكَ وَهُوَ الْحَقُّ ۚ قُلْ لَسْتُ عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Dan (sekiranya) kaummu mendustakannya (Ada dan Wujud DiriNya) bahwa Huwa al Haq (IsiNya Huw adalah Dzat Al Haq), katakanlah bahwa aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.

Hal di atas dipaparkan sebab dalam QS. Ash Shaf ayat 14 ini Allah juga memfirmankan bahwa segolongan Bani Israil (kaumnya Nabi Isa) beriman dan segolongan yang lain mengingkari.
Faayyadnaa alladzina amanu ‘ala ‘aduwwihim faashbahuu dzohiriina”.
Maka Kami berikan kekuatan pada orang-orang yang telah beriman itu terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menampakkan secara nyata kebenaran Al-HaqNya (karena dijadikan menang).

Jaminan dimenangkan di jaman Al-Mahdi ini juga datang dari Junjungan Nabi Muhammad SAW sendiri.
Sebagaimana khutbahnya dihadapan 120.000 orang lebih, tiga bulan menjelang kewafatannya.
Sungguh, dia adalah penampak secara nyata kebenaran Ad-Dinullah. Dinul Haq dan Dinul Qayyim.
Sungguh, dia adalah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya.
Sungguh, dia adalah penghancur kelompok-kelompok kemusyrikan.
Sungguh, dia adalah yang akan membalaskan darah kekasih Allah yang tertumpah.
Sungguh, dia adalah peneguk air samudra (hakekat dan ma’rifat) yang mendalam.
Sungguh, dia adalah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh.
Sungguh, dia adalah manusia pilihan Allah dan kekasihNya.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhannya ‘Azza wa Jalla dan yang memberitahu tentang perkara iman.
Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakan olehNya.
Sungguh, dia adalah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya.
Sungguh, dia adalah manusia  yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya.
Sungguh, dia adalah hujjah Allah yang terakhir yang masih hidup, dimana tiada hujjah lain setelahnya. Tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada disisinya.
Sungguh, dia adalah manusia yang tak terkalahkan dan tiada yang akan menang terhadapnya.
Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang hak dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) lahir dan batinnya.

Allah Swt berkehendak demikian kepadaku karena sesungguhnya adalah (juga) Ahmad bila mim.
Karena itulah sekiranya aku sampai berani ngaku dan rumangsa, sama artinya dengan berani menerima azab karena telah berbuat sebesar-besarnya murtad.
Maka dari itu aku benar-benar sak derma nglakoni perintahnya guruku yang juga dari gurunya yang silsilahnya terus ke atas sampai kepada Sayidina Ali bin Abu Thalib dari Junjungan Nabi Muhammad SAW, tidak pernah terputus sama sekali.
Hanya karena tugas dan kewajiban dalam melaksanakan perintahnya Guru.
Aku berwasiat pada jamaah yang aku pimpin.
Supaya benar-benar bersiap diri memenuhi kehendak Allah dengan firman yang ditujukan kepada orang-orang yang disukai olehNya.
Bahwa sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang (memerangi nafsu dan watak akunya hingga patuh dan tunduk ditunggangi cita-citanya hati nurani, roh dan rasa) di jalanNya dengan teratur bagaikan sebuah bangunan yang tersusun kokoh. (QS.61:4).

Jalan Allah adalah Shirathal mustaqim.
Shirathal mustaqim itu Ilmu Nubuwah yang menjadi ajarannya Wasithah.
Yaitu mengumpulkan syareat dan hakekat.
Syareat itu asal kata syara’a.
Maksudnya, mempola jalan menuju kepada sumber.
Karena itu syareat adalah perintahnya Wasithah yang dapat dilihat mata kepala dan dikerjakan anggotanya jasad, agar dapat sampai kepada sumber (dengan rasa bahagia bertemu dengan DiriNya Dzat Yang mutlak WujudNya).
Seperti syahadat, sholat, siam, zakat, haji yang berkuasa.
Tetapi juga beramal, mujahadah disertai dengan bagusnya akhlak, beningnya hati, sucinya jiwa raga (yang dimakan makanan yang halal, yang dipakai pakaian yang halal, yang ditempati tempat tinggal yang halal), berjihad bersama bagi syiarnya agama Allah, wataknya, kelakuannya, pekertinya dibangun terus sebaik-baiknya dibarengi dengan hakekat.
Yakni selalu dibarengi mengingat-ingat dan menghayati satu-satuNya Dzat Yang Wajib WujudNya dalam rasa hati.

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap istikomah (madep mantep) di atas jalan itu (memenuhi perintahnya Wasithah = mengumpulkan syareat dan hakekat = berjalan di atas Shirathal mustaqim), benar-benar Kami akan memberi minum air yang segar” (QS.72:16).

Jamaah kita ini sekaligus merespon seruan Allah sebagaimana yang Dia kehendaki, supaya sekarang juga bersegera memenuhi dengan sepenuh hati.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (١٦)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang telah beriman untuk tunduk hati mendzikiri Allah dan (tunduk hati pula) kepada mengadanya AL-Haq yang telah diturunkan, dan janganlah orang-orang yang telah beriman seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al Hadid: 16).

Semoga kita semua selalu memperoleh berberan, sawab, berkah dan pangestunya Wasithah.  Amin.

Pondok Sufi,  Tanjung,  24  April  2006
Imam Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobin,

 

 

  1. MOHAMMAD MUNAWWAR AFANDI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here