ISLAM ataukah KASLAN

0
827
views

(Sekedar bacaan) semoga menjadi renungan yang mendorong “aksi” dan berbuah pejuang-pejuang yang terus berkembang, meningkat dan bertambah!!.

Saya ingat pengendikan Guru kami (alm) Mbah Kyai Haji Muhammad Munawwar Afandi Abdullah, “sak gelem ukril ya gempil”; “isih enom kok jograk-jogrok ngomong ngalor ngidul lali wektu lan tanpa arah”

Dua kata yang memiliki makna “DEAMETRAL”.

Islam itu, selamat; islam itu memerdekakan; islam itu mendamaikan; islam itu menentramkan; islam itu “ummat yang satu (kesatuan dan persatuan” islam; islam itu berjihadunnafsi (memerangi nafsunya sendiri) islam itu sabar (mau memaksa berbuat kebaikan, menerima keadaan dan berikhtiyar, menerima kekurangan diri dan kelebihan orang lain) Dan bagian dari islam itu: berkepedulian, memberdayakan, berkarya, beraktifitas serta berbuat dan beraksi). Menjaga kelestarian juga merupakan bagian dari perilaku islam. Islam itu kesungguhan bergerak, beraktifitas dan beraksi akibat batiniyah dalam kesadaran makhluk ruhiyah. Mengetahui dan menyadari atas “punjer” yang ‘munjer’.

Sebaliknya, kaslan itu malas, perilaku jiwa jenuh dan merasa cukup, selalu dalam keprasangkaan; pembiaran waktu berlalu sia-sia; pembiaraan lahan sela tanpa aktifitas bermanfaat; mengolok dan menghujat. Kaslan itu hanya berorientasi kepada retorika, simbol-simbol, plakat, jargon-jargon dan legenda sejarah tanpa kedalaman hikmah.

Permisalan sebagai contoh,

Membaca (kitab) Qur’an dan i’tikaf di Masjid (sepertinya) Ibadah namun, (hati-hati dan waspada) ini bisa berubah menjadi (sesungguhnya) pelampiasan “ali-alih” atas perilaku malasnya (kaslan).

Setiap saat setiap waktu membaca (kitab) Qur’an dan i’tikaaf dilakukan ini memang hebat namun..!! apa benar (musti) begini..!!

Orang-orang (dalam kesamaan pola pikir) akan “gumun, heran, terperanjat, takjub, “oh… orang itu sangat “rajin” i’tikaaf dan membaca kitab (Qur’an) bahkan di-speaker-kan (voice) dengan suara yang keras maksimal…. weeh luar biasa..!! sampai-sampai keluarganya diajak puasa: sehari puasa sehari berbuka (puasa daud). Saat ada orang (beda dalam pola pikir) yang bertanya dan menanyakan atas sikap dan perilakunya, “mas…. kamu…kan punya keluarga, kok setiap hari ‘sema’an’, …..saya setiap hari mendengar jenengan membaca (kitab) Qur’an, dan berhenti hanya saat jenengan tidur memang, ini luar biasa namun, bagaimana kamu menghidupi diri kamu dan keluarga kamu, istri dan anak-anak kamu, juga bagaimana kamu akan beramal: infaq shodaqoh. Dan saya juga mengetahui kalau kamu punya ladang sawah yang tidak kecil walau tidak luas, menurut saya ini kan juga (Al)-Qur’an yang mesti dibaca, ditelaah, dicermati..!!”.

Ternyata dijawab, “semua telah saya serahkan kepada Allah, saya hanya menginginkan pahala dari Allah saya ingin memperoleh Syafaat dari (Kitab) Qur’an, perihal “rezki” (uang; beras; lauk-pauk; dan material lainnya. Biasanya  rezki telah terbias dengan makna sempit seperti ini.red) saya percaya penuh dan pasrah dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt, saya yakin Allah akan memberikan rezki kepada saya, Dia Maha mengetahui (dia berbicara sepertinya orang lain tidak memahami akan hal ini), saya yakin akan hal ini, dan saya yakin karena Allah Swt memiliki malaikat Mikail (sang pembagi rezki, sepertinya orang ini memerintahkan kepada Allah supaya Malaikat Mikail bergerak dan menggerakkan pasukan Mikali untuk bekerja mencarikan nafkah bagi dia dan keluarganya..!!).

“Mas mengetahuikan bahwa, orang-orang yang bekerja dan berkarya. Mereka semua tetap berlaku hukum “laa haula walaa quwwata illa billah” tidak ada dan kekuatan (berpikir, bekerja, berkarya, dan akfitas apapun yang dilakukan setiap orang) kecuali daya dan kekuatan Allah Sendiri sebab faktanya tanpa dengan Dia manusia tidak bisa apa-apa”. Artinya bahwa kita semua ini telah Allah “pinjam”kan bagian kehidupan ‘RUH” dari-Nya, kita memahami ini atau tidak, kita mengenali ini atau tidak, kita menyadari ini atau tidak!! Ini kan permasalah utamanya. Jika kita sadar berarti bersama dengan-Nya dan jika kita tidak sadar maka kita terlepas dari-Nya berarti digerakkan oleh nafsu ego keakuan diri”

Dan saat sedikir didebat, sikap dan perilakunya berubah menjadi marah “muntab!!”. Kemudian orang yang bertanya berpikir, ‘islam itu lapang dada, tidak ada paksaan, damai dan sejuk, nyegoro, namun ini “emosi”nya menguasai, merasa telah benar dan telah (sepertinya) disurga’, merasa telah berada didalam “shirotol mustaqima” padahal fakta kongretnya bahwa, jalan shiratal mustaqim ini selalu Allah perintahkan untuk selalu di mohonkan di setiap shalat. Yaa Allah tunjuki kami untuk berada di atas jalan-Mu ini”.

Dan setelahnya bahkan, yang bersangkutan menyebarkan “isu” kepada yang lain-lain bahwa “orang itu” adalah aliran tidak benar..!! dan orang-orang yang sepaham itupun percaya dan jadilah “fitnah” merabak menyebar kesemua penjuru arah mata angin tanpa bisa dihentikan, menyebar “masif” bagai cahaya lampu yang menyebar kesemua sisi arah tanpa jeda dan tanpa sela. Dan ini hanya bisa dihentikan dengan memperbanyak kubangan-kubangan air yang akan menyerap energi panas menjadi energi positip, dan tinggal berharap semoga Allah SWT ikut menyejukkan orang-orang tersebut.

Jika kita merenung dalam, padahal makna rezki berkaitan dengan kebahagiaan, ketentraman dan kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan hal ini tempatnya berada didalam hati nurani. Karena faktanya uang segudang sama sekali tidak menjamin yang bersangkutan akan “bahagia” kecuali hanya kesenangan, dan bersifat sesaat. Banyak dari kita berpikir bahwa rezki “identik” dengan material sehingga tanpa sadar sesungguhnya kita telah menciptakan materialistik dalam kehidupan beragama, dan diperperah dengan pemahaman bahwa Tuhan akan menghujankan (materi) rezki tersebut. Tuhan dipatronkan material.

Wahai warga JATAYU bergeraklah, beraktifitaslah, berjuanglah dengan perilaku ‘AKSI’: “uswah”; “budi”; dan “darma”. Kita bergerak mengajak kebaikan, kemaslahatan kepada siapa saja, sebagai apa saja dimana saja bagi yang mau dan yang peduli “kebangkitan” Nusantara bangkit terwujudnya persatuan dan kesatuan.

Kita memerlukan “pejuang-pejuang” yang berjiwa Ruhiyah dalam bergerak dan beraktifitas dalam rengkuhan malakah Rubbubiyah, yang terus di optimalkan dalam pemberdayaan diri keluarga lingkungan masyarakat bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Meneruskan perjuangan para pendahalu kita mewujudkan kemerdekaan sejati lahir dan merdeka batin. Memanusiakan manusia seutuhnya. Maka terwujudlah “negara yang baldatun toyyibatun war rabun ghafur” negara yang tata titi tentrem karta raharjo, tidak hanya berhenti pada jargon dan retorika, semata!!.

Mikir…..!! kata Cak Lonthong.

Dari Sang Pendosa

Tanjung Sulaiman Jatayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here