Seperti Menyuguhkan Kopi Tanpa Wadah

0
800
views

Cabang Takeran / Koja Ponorogo, 14 Januari 2017

Fitrah itu ada di dalam rasa. Nafahtu fihi min ruhiy adalah saat dimana Allah meniupkan ruh, maka manusia memiliki kehidupan. Berangkatnya orang yang ngaji, ditentukan dari niatnya, jika niatnya untuk mencari humor/lucu, jadinya kecewa bila ternyata dalam kajian itu tidak ada humornya). Niat menentukan hasil yang didapatkan. Jika niatnya hijrah kepada Allah dan utusanNya, maka yang didapat adalah hijrah, menjadi nilai ibadah. Secara mendasar, yang seharusnya ditata adalah, niat sing sak kerso karo Pangeran, niat yang sesuai dengan kehendak Tuhan, kehendak Allah SWT. Namun yang sering terjadi niat ditunggangi oleh kepentingan maupun kekuasaan. Sehingga jika demikian, walaupun niatnya untuk ibadah, tetap tidak di terima Tuhan. Oleh karena itu, tata niat! Nata niat, ngarungi dunia iki niat’e nyata’ake selamet Kita mengarungi kehidupan dunia ini, niatnya adalah menyatakan selamat, agar saat raga habis masa pakainya bisa selamat. “Aja sira pada mati kejaba mati ISLAM Walaa tamutunna illa wa antum muslimuun.

Islam bukanlah kelompok atau golongan apalagi partai. Allah tidak suka kepada mereka yang membentuk dan membangga-banggakan kelompok dan golongan, sehingga mengkultuskan, yang pada akhirnya berusaha menjatuhkan kelompok lain. Maka tata niat dan tekad! Niat disertai dengan ruh tekad. Jika tujuannya selamat, maka niatnya hijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Niat disertai fakta aksi dengan metode dan cara. Punya niat kuat, maka disertai dengan tekad kesungguhan. Kalau berdunia dimaknai hanya melenggang, Donya ki lembean, berakibat tujuan tidak pasti. Tujuan yang pasti adalah berjalan untuk menuju alamat yang dituju, dengan menggunakan metode dan system.

Shalawat berarti menyalakan lampu agar bisa berjalan menuju titik sumber kehidupan. Mengerti asal usul kejadian dan kembali hingga selamat.

Pada cerita Wayang Sunan Kalijaga, Dewa (Bhs. Semit) berarti malakah atau malaikat, malikul mulk (kekuasaan Tuhan sendiri). Dan Ruci adalah Guru Suci, yang menunjukkan jati diri kehidupan yang diberikan kepada Brataseno, orang yang bersungguh-sungguh memerangi dirinya sendiri supaya mengerti jati dirinya sehingga membuat tempat yang disebut Jodhipati. Muutu qobla an tamuutu, belajar mati sebelum kedatangan mati yang sesungguhnya. Lelagon sluku sluku batok berkaitan dengan babatan Dewa Ruci.

Shalawat atau syukur bukan hanya kalimat yang dilisankan karena keinginan untuk memperoleh syafa’at Rasul. Orang bersholawat tapi jika setelah itu tukaran (bertengkar), maka harus koreksi diri. Sholawat gandeng dengan syukur. Orang sholat jika tanpa syukur dan sholawat, tidak sah. Tapi kita tidak bisa menilai sah atau tidak nya. Kandungan makna sholat bukan pada gerakannya, tapi esensi sholat yang terpenting di AlFatehahnya dan AtTahiyyatnya.

Syukur tidak sekedar terimakasih. Belajar dadi wong islam. Karena lebih utama orang ngaku salah ketimbang bener ngaku bener.

Sholawat dilakukan, diucapkan sebanyak-banyaknya, tapi kalau masih saja tukaran (bertengkar), tidak bekerja, maka tidak akan mendapat syafaat dan tidak akan mendapat rezeki juga. Rezeki bukan hanya sekedar uang yang banyak. Semisal wong kalo sowan ke orang tua dengan sopan santun namun dibelakang (hati) mengharapkan warisannya, pasti kalau orang tua mengetahui tujuan sebenarnya akan pegel (marah). Logikanya sama persis, sama halnya dengan ibadah, jika ibadahnya punya karep untuk dunia, maka Tuhan pasti marah.

Jangan menginginkan syafa’at karena tidak akan dapat syafa’at kecuali menggunakan metode/cara yang sesuai (berinteraksi, guyup rukun,dll). Di dalam Al-Qur’an QS. Al Maidah ayat  32 mengatakan:

مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Ayat tersebut jelas menyatakan Man QotalaNnas, bukan QotalalMukmin atau Muslim (bukan siapa yang membunuh mukmin atau muslim) tapi siapa yang membunuh 1 manusia maka membunuh semua manusia, dan siapa yang menghidupi 1 manusia maka menghidupi seluruhnya.

Pengertian Nusantara selama ini hanya pada Indonesia, Negara yang diapit oleh 2 benua dan 2 samudra, yang terdiri dari pulau yang dipisahkan oleh laut dengan berbagai perbedaan suku dan budaya. Nusantara yang sesungguhnya adalah pulau-pulau yang diikat oleh laut dan laut yang diikat oleh pulau (daratan) dengan segala potensi dan keberagaman yang ada (sebagai perekat dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan).

Makna Bhinneka Tunggal Ika bukan berbeda-beda tapi keberagaman (kekayaan) yang manunggal (persatuan dan kesatuan). Tan Hana, tidak ada kebenaran. Darma dengan ciri khas seperti Al Quran, yaitu DiinulKholis, DiinulQoyyim dan DiinulHaq. Darma sebagai perwujudan perilaku sosial yang tinggi demi kemajuan bangsa. Meningkatkan potensi dan skill yang dimiliki. Tungga merupakan wujud tatanan. Dewa adalah malakah atau rububiyah.

Selama kita memiliki fisik, maka kita memiliki perilaku penghambaan. Sedangkan iman adalah kepribadian masing-masing. Namun kebenaran perlu disampaikan. Jika tidak dianggap orang lain, ya tidak apa apa, tidak boleh pegel apalagi nesu, karena selamet ki dewe dewe (keselamatan itu butuhnya sendiri-sendiri).

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ ﴿١٩٠﴾

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴿١٩١﴾ 

(QS. Ali ‘Imran : 190-191)

Allah tidak menyukai orang yang berbangga-bangga dengan kelompoknya. AdDiin dan Agama itu beda. Agama, A itu tidak, dan Gama itu rusak. Agama berarti tidak rusak. Sedangkan Diin maknanya kehidupan.

Kafir adalah orang yang memiliki watak tertutup, jumud, beku dan kaku. Seperti air, air itu menyesuaikan wadahnya. Kecuali air yang beku (es). Siapa yang kufur maka adzab yang didapat.

Pendidikah (tarbiyah) diambil dari kata “Rabb” yakni sistem untuk membangun adab dan akhlaq. Rob, sistematika menuju dari titik awal hingga akhir. Orang sholat yang diancam fa wailun karena di dalam sholatnya saahun, tanpa adanya keterlibatan hati untuk ber(dzikir), mengingat Dzat Wajibul Wujud Yang Allah AsmaNya.

Indonesia tidak akan maju jika kita yang mengaku islam ini hanya berkutat dengan kelompoknya, yang dimaknai ibadah hanyalah sebatas ritual. Padahal ayatnya mengatakan BI AYYAAMILLAH, seluruh kehidupan. Jadi makna sholat yaitu nyambung dan melebur.

Bid’ah itu lebih disukai daripada maksiat. Karena orang yang bid’ah tidak merasa bahwa dirinya bid’ah (iri, dengki, merasa diri lebih, menjatuhkan orang lain, kelebihan yang diaku, dsb). Dalam hadits disebutkan Wujuuduka Dzanbun Kabiirun Walaa Yunqatsu Dzanbun Akharu. Orang itu wujud (pandai dan pinter) diaku wujud’e maka sebesar-besar dosa.

Nabi diutus untuk menggenapi mereka yang telah berperilaku baik (secara syareat, ubudiyahnya, akhlaqnya, budi pekertinya dsb). Secara fakta, sejak lahir kita belajar. Setelah dilahirkan, bayi menangis pada saat tali pusar diputus karena terputus dari diri Tuhan. Ada ruh didalam diri manusia, ruh/fitrah dari fitrah Allah piyambak.

Saat sisi-sisi komponen, elemen dari kehidupan ini diabaikan, lantas melupakan “lahan” kosong, tidak digarap, hanya sholat dan baca al qur’an terus menerus, akibatnya sholat hanya mengharapkan dunia tanpa bekerja (sia-sia). Saat kita melakukan sesuatu, ada proses yang harus dilakukan. Ingat kepada Allah sebagai apa saja, kapan pun dan dimana pun. Aktifitas yang dilakukan dengan niatan ibadah sama dengan sholatu dhaim. Orang sering gagal dalam selamat karena iri dan benci.

Isa Almasih sebagai utusan Allah yang digulowentah nyambung tanpa terputus, digenapi oleh penerusnya saat itu supaya memiliki kecondongan, agar dapat mengenali dan kembali kepada yang dituju (Tuhan piyambak). Dengan digenapi ilmu yang menunjukan diri Tuhan (isinya dzikir).

Benturan terjadi karena wadah (botol) yang dikira ada isinya (padahal tanpa isi) kemudian disuguhkan. Pasti banyak terjadi benturan (karena masalah wadah). Hakekat tanpa syareat seperti nyuguhne kopi tanpa gelas. Hakekat harus disertai syareat, pun sebaliknya.

Untuk mengenal Tuhan adalah dengan mentaati yang ada di dalam dada. Kita beragama, tapi jika melecehkan sesuatu yang berbeda maka sama saja melecehkan Tuhan. Sesungguhnya yang dimaksud kubur adalah jasad. Yang tidak bisa menjawab dalam kubur berarti dadanya sempit. Talkin (para wali) itu sebenarnya diperuntukkan bagi para pelayat bukan buat si mayit. Karena Allah lebih dekat dari urat leher, bahkan lebih dekat dari putihnya mata, maka tidak logis jika Dia tidak mengetahui ada orang yang meninggal. Al-Ghayb satu-satunya yang tidak dapat dilihat mata tapi dapat dikenali keberadaan-Nya.

Jangan melihat fisiknya Muhammad. Karena akan habis masa pakai (jasad) nya. Setelah Nabi Muhammad, ada penerus yang menunjukkan Al-GhaybNya Tuhan. Di dalam Al Quran tidak ada istilah Diynul Islam. Karena Ad Diin adalah kehidupan yang memiliki tujuan dan Al Islam adalah perilaku yang memiliki metode selamat.

Makna setan adalah yang mempengaruhi seseorang untuk berbuat keingkaran dengan Tuhan. Dan kiamat sebenarnya adalah bangkit kesadarannya saat meninggal dunia. Garuda (konsep dari Nabi Dzulkifli): nyigar jero dada.


Oleh :  : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Wahyudi
Penyunting : Jarwo 
Ilustrator : Bambang Wahyu HD

Video selengkapnya:

PART 1

PART 2

PART 3

PART 4

PART 5

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here