Kami, Tanjung – tempat salah, kurang dan dosa

0
691
views

Kepada Yang Terhormat
Saudara sebangsa dan setanah air

Saya Tanjung bersama dengan JAMAAH JATAYU POMOSDA.
Kami, kepada handai taulan, masyarakat dan yang terhormat, terutama yang berkaitan dengan “kebijakan”..
Kami sangat sadar “manusia” sebagai hamba, tempat salah dan dosa dan sebagai warga negara Indonesia, kami masih belum bisa berbuat apa-apa karena kami tidak ada apanya kepada masyarakat dan kepada lingkungan demi kebaikan bangsa dan negara, demi kemajuan dan tatanan yang baik dan benar dalam ridha Allah Swt.
Kami berusaha semampu kami sebisa kami dalam terapan “penghambaan” jika ternyata “tampak” ada kesalahan dan kekurangan (inilah fakta menunjukkan kami, tempat salah kurang dan pendosa), sungguh maafkan kami….
Kami selalu mohon ampunan Allah karena kami sangat takut jika mati tidak selamat. Kami memahami hal ini sangat gegirisi, bahkan petunjuk Guru kami kehidupan yang paling sengsara di dunia tidak bisa melebihi kesengsaraan seseorang yang meninggal dunia jika tidak selamat kembali kepada Diri Dzatullah Yang AlGhayb, Yang Wajib WujudNya, Mutlak KeberadaanNya.
Guru kami juga menekankan kesadaran kepada kami yang Sebaliknya, yaitu kehidupan yang bergelimang dengan kehormatan dunia dengan jabatan di dunia tertinggi sekalipun dengan bergelimang harta benda, tidak pernah dapat MELAMPAUI dan TIDAK SEBANDING dengan KESELAMATAN jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia, walau dipinggir sekalipun.
HIDUP DI DUNIA HANYA SEKALI, ADA SAAT WAKTU MASA PAKAI JASAD HABIS DI DUNIA. Maka bagi kami berlaku saling menghormati, menghargai, saling bantu membantu, toleransi, komunikasi yang baik adalah perilaku kemestian sebagai hamba, juga menjalani kehidupan berdunia dalam kehidupan masyarakat dengan berbagi membangun perilaku “kemandirian” pemberdayaan, bekerja berkarya sebagai perilaku “subhanaka” untuk pancatan yang kokoh pulang kepadaNya. Dunia sebagai ladang akherat.
Kami sering mendapat dhawuh penekanan dari Guru kami (alm Mbah Kyai Moh. Munawwar Afandi) AKTIFITAS KEGIATAN ADA YANG RANAH BATIN DAN ADA YANG RANAH LAHIR. Ranah lahiriyah untuk berbuat kemaslahatan kebaikan dan menyebarkan perilaku akhlak dan adab membagusi pola pikir memiliki kepedulian kepada lingkungan masyarakat bangsa dan negara, tanpa melihat agama dan keyakinannya, tanpa melihat kelompok dan golongannya, selama, siapa saja membangun kebaikan maka berbaiklah dengan siapapun. Ini hal lahiriyah.
Sedang hal yang BATINIYAH ada perihal “butiran” iman didalam rasa hati nurani supaya berfungsi, sehingga berada pada keimanan senyatanya dalam persaksian. Ini sebagai pintu pulang keselamatan, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia. Dan ini adalah ajaran inti “ADDIIN” demikian penekanan dari baliau, Guru kami.
Jadi bagaikan antara wadah dan isi. “Wadah” dapat digunakan sesuai dengan keadaan dan situasi dan siapapun bisa menggunakan dan bisa bergantian, sedang yang “isi” yang merasakan hanya yang bersifat personal pribadi bahkan privaci.
Namun demikian dalam membangun aktifitas berdunia dalam menjalankan tatanan syareat baik yang mahdhoh dan yang ammah serta muamalah (permisalan perilaku wadah) maka, tentu kami sadar sesadar-sadarnya kami banyak sekali kekurangan kesalahan kebodhohan ketidaktahuan kekhilafan bahkan perilaku bergelimang dengan dosa, masih banyak keterlibatan ego keakuan nafsu diri. Sadar ataupun diluar kesadaran kami, masih sering membawa kepentingan ego nafsiyah. Walau kami “berjihad” memerangi hal ini dalam diri kami. SEMOGA SEMUA PIHAK MEMAHAMI MEMAKLUMI MEMAAFKAN….

Kemudian kami berusaha semampu kami untuk “bersama” membangun kebaikan kemanfaatan, perilaku kesatuan dan persatuan dalam wadah NKRI yang utuh berdaulat berintegritas dalam kedaulatan berbangsa dan bernegara menuju adil dan makmur, bahkan negara yang TATA TITI TENTREM KARTA RAHARJO, NEGARA YANG BALDATUN TOYYIBATUN WARROBUN GHAFUR.

Dari JATAYU-POMOSDA

Sang “pendosa” Kyai Tanjung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here