Beragama Adalah Kebenaran Al-Haq Min Robbika

0
1068
views

Saat agama hanya dianggap sebagai mata pelajaran, bukan sebagai “pakaian”, maka hanya akan bernuansa lahiriyah. Nilai agama hanya berhenti pada angka-angka. Saat seorang pelajar ditanya definisi agama, Jawabannya, “agama adalah mata pelajaran”. Manajemen sekolah atau guru tidak peduli anak menerapkan agama dalam kehidupan sehari-hari atau tidak. Yang penting saat ujian nilai agamanya di atas 75. Selesai. Kita semua mendengar dan melihat, namun sedikit yang memperhatikan dan menganalisa. Ada apa sesungguhnya dengan “agama”? Kenapa agama begitu kering, kosong, tanpa makna, dan tanpa ruh?.

Selama ini beragama identik hanya bernuansa syar’i, syariat lahiriyah semata, tanpa makna hakiki atau dengan kata lain aktifitas berdunia dengan segala pola dan tatanannya tanpa “ideologi” yang menyertai. Penilaian keberagamaan “seseorang” hanya dilihat dari unsur fisik yang kasat mata saja:  atribut, labelling, cerita sejarah tanpa nuansa kontekstual, legenda tanpa aplikasi, dan tidak membangun pengayaan pengalaman hidup.

Demikian pula (agama) Islam. Faktanya, setiap individu telah terkotak-kotak sedemikian rupa sesuai selera. Dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, lingkungan, dan pendidikan. Sehingga muncul islam konvensional atau islam tradisional, islam modern, islam campuran, islam bebas, islam kamu, islam aku, islam kami, dan islam mereka. Setiap perilaku dan pemikirannya, membangun “karakteristik” ke-islaman-nya masing-masing. Hal itu dibentuk dan dibangun sesuai dengan akal pikiran serta yang cocok dengan golongan dan kelompoknya saja. Sedangkan yang tidak sejalan dengan apa yang diyakini, dianggap (pasti) salah.

Dalam pelaksanaan beragama cenderung mencerminkan karakteristiknya masing-masing. Sehingga bisa berbeda sesuai dengan budayanya, baik dimana ia terlahir dan dimana ia tinggal. Munculnya varian-varian islam tersebut akan terus berkembang sesuai jumlah pemikiran, budaya, dan adat istiadat masing-masing. Bahkan sesuai dengan perkembangan karakter manusia. Sedang islam yang benar dan dibenarkan menjadi begitu sangat sulit ditemukan. Guru kami, (alm) Mbah K.H. Mohammad Munawwar Afandi menulis “bagai mencari welirang abang di tumpukan jerami-jerami. Bagaikan mencari belerang merah. Tidak mungkin. Seperti tidak mungkinnya menghidupkan orang yang telah meninggal dunia. Sebab kami tidak bisa bertanya kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber utama, Sang Utusan, seperti apa islam yang seharusnya. “Apakah iman dan islam yang selama ini saya jalani telah benar dan dibenarkan, serta apakah yang saya lakukan akan benar-benar menghantarkan untuk dapat selamat dan masuk surgaNya?” Sehingga kami hanya berani menempatkan “semoga” dan menempatkan sebagai “pelajar” yang sedang belajar untuk menjadi benar dan semoga dibenarkan. Semoga Allah memberi pertolongan dan belas kasih-Nya. Kami menjalani ke-islaman dengan senantiasa terbuka walau tetap berusaha menjaga prinsip-prinsip Al-Haq-Nya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sifat penyitraan akibat keinginan untuk menonjol akan mempengaruhi karakteristik keberagamaan seseorang, pun kelompok. Pemakaian atribut keislaman yang ditunjang dan didukung adanya pemahaman “agamis” atau “rohis” dari pakaian yang dikenakan: bersarung, bersorban, berbaju takwa, bergamis, berjenggot khas, dan sebagainya. Terbentuklah perilaku nafsu, klaim kebenaran yang diaku sebagai benar kepemilikan. Hanya karena atribut, sudah disepakati “telah” islam”. Terlepas perilakunya mencerminkan islam ataupun bukan islam. Sifat, watak, dan perilaku tampak islami. Tetapi, apakah sebagai karakter dasar manusia atau sebagai karakter islam? “Kebenaran” islam dalam keimanan lah yang perlu ditelaah lebih dalam. Semudah itukah beragama? Parameter sebagai “tokoh agamis” dibenarkan khalayak hanya karena atribut yang dipakai.

Jika suatu kelompok atau seseorang terus membawa karakter dasarnya, lalu melebur kepada orang lain atau satu kelompok tersebut, maka pola keberagamaannya akan terbentuk sesuai dengan karakter, kebiasaan, dan pemikirannya. Model islam baru akan muncul seiring dengan daya intelektualitas yang terdukung dan karakter yang terbangun dalam seseorang atau kelompok tersebut. Perlu kecermatan dalam menelaah, apakah ini ritual berdasar pemikiran, karakter, dan kebiasaan belaka atau “keimanan”? Waspada sebelum terjebak dan terjerembab di dalamnya.

Akibat atribut “agama” menjadi alat atau tools kepentingan untuk mencapai keinginan masing-masing individu dan  kelompok. Hal ini menjadikan semakin rancu, kabur karena tidak jelas, dan semakin sulit memilah dan memilih, adakah mereka di dalam kebenaran atau sebagai kelompok yang benar, bagaimana saya mengetahuinya bahwa mereka berada di dalam kebenaran atau di luar kebenaran.

Sekali lagi Islam akhirnya didefinisikan dari yang tampak luar yang bersifat kulit, kehilangan makna atau ruhnya. Islam menjadi kaku,beku, dan kosong dari nilai-nilai batiniyah. Sekali lagi, kita tidak bisa bertanya kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW atas kebenaran islam kita, kita hanya bisa berusaha, berikhtiyar dan memohon seperti yang selalu terucap dalam do’a. Dalam Qs. Al-Fatehah, “ihdinash shiratal mustaqim” (memohon) selalu tunjukkan kami pada jalan mustaqim. Realisasi permohonan ini adalah kesadaran hamba yang tidak akan pernah mengaku telah berada ditengah-tengah “petunjuk” (hidayah) dan sadar hamba sangat rapuh. Sadar tempatnya salah dan dosa.

Beranikah kita berpikir, “apakah agama yang saya anut ini telah benar dan akan menjamin keselamatan jika saya menjalankannya sesuai dengan apa yang “tertulis” dalam buku-buku, yang tersampaikan melalui para “pembicara”, atau pernahkah kita mempertanyakan tulisan-tulisan yang beredar melalui media sosial atau tulisan-tulisan yang beredar begitu banyak dan marak? Apakah buku ini akan menghantarkan saya masuk surga?” (termasuk tulisan ini).

Apa “sesuatu” yang telah di-agama-kan selama ini memang benar-benar ajaran dari para Nabi. Tidak hanya Nabi Muhammad SAW namun semua nabi, sebab  ajaran semua nabi adalah sama. “Apa yang saya turunkan kepada kamu (Muhammad) sama persis seperti yang telah saya turunkan kepada para nabi sebelum kamu.” Bahkan, (seharusnya) saat ini pun, di zaman sekarang pun “esensi” sebagai inti keberagamaan mestinya sama dengan apa yang diturunkan oleh nabi Muhammad dan para nabi sebelumnya.

Beranikan kita meragukan dan mengkhawatirkan keberagamaan diri kita sendiri? Namun dengan tetap berlaku terbuka. Tidak skeptis-frontal. Maksud “meragukan” bukan ragu perihal keberadaan Allah, keberadaan para utusan, dan adanya risalah rasul atas keberadaan risalah al-kitab, al-hikmah, dan an-nubuwah, sama sekali tidak. Namun sudahkah apa yang kita jalani sesuai dengan kehendak Allah dan sesuai dengan ajaran para utusan Allah itu. Sehingga kita akan selalu berlaku hati-hati dan waspada.

Ragu terhadap diri kita sendiri, sehingga kita akan hati-hati dan waspada terhadap penyusupan kebenaran. Ragu terhadap apa yang kita dengar sebagai kebenaran Al-Haq min robbika, maka rasionalitas dalam kontekstualitas kehidupan diperlukan. Berlaku hati-hati dan waspada, mengkhawatirkan “nasib”, jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia. Sebab meninggal dunia hanya sekali. Jika selamat, merasakan kebahagiaan hanya kepada Tuhannya, namun jika didalam kegelapan, maka akan “merasakan” kegelapan. Keduanya akan merasakan selama-lamanya, abadi-abadan. Demi Allah hal ini mengerikan, “gegirisi!”.

Benarkah klaim beragama yang selama ini? Jika kita perhatikan, ada pola beragama dengan gaya “lunak”, cenderung “sing penting slamet”, yang penting selamat. Semua bentuk budaya diikuti, tanpa memperhatikan syariatnya. Bagaimana kita menyaringnya? Bagaimana kita mengetahui bahwa pola-pola terebut merupakan perilaku islam?

Kedua, ada pola beragama tradisional-pesantren. Memberlakukan keberagamaan dengan mengedepankan kehidupan ritualitas ibadah yang mahdhoh semata, sedang perilaku ibadah yang ammah muamalah, yang ghairu mahdhoh dikesampingkan. Kegiatan berdunia dipandang sebelah mata, dianggap tidak penting. Dengan satu joke, “berdunia” tidak menjadi pertanyaan kubur.

Ketiga, ada pola beragama yang keras dan ekstrim yang cenderung radikal. Para penganutnya yang meyakini akan hal ini bersikeras bahwa “berjihad” adalah berperang. Jika meninggal dunia di dalam medan perang akan mati syahid sebagai syuhada. Jika meninggal pasti langsung masuk surga. Bagi yang berprinsip begitu, menegakkan agama dengan menegakkan syariat adalah mutlak. Berbagai cara ditempuh, bahkan menyesat-nyesatkan kelompok lain adalah hal yang lumrah bagi mereka.

Adakah  model “keberagamaan” yang dapat menghantarkan kepada “esensi” kebenaran al-haq min robbika? bahwa kebanaran al-haq mutlak dari Tuhan pada tingkat kepastian dalam persaksian, sehingga keberagamaannya tidak dalam menduga-duga, prasangka-prasangka, dan keraguan. Sebab tersebut dalam ayat-Nya, menduga-duga, prasangka tidak akan pernah menyentuh al-haq-Nya sedikitpun. Prasangka tidak menyentuh apapun. QS. Yunus (10); 36.

Bagaimana supaya pola keberagamaan menjadi jelas dan terang dalam rengkuhan Illahi. Perilaku kaku, beku, fanatik, jumud, tertutup, kultus, taklid (buta) yang menjadi larangan dalam menjalankan agama yang selama ini tampak kusut bagai benang yang tidak diketahui ujung pangkalnya dapat terurai, menjadi terang dan gamblang. Sehingga kapasitas “nadhiran”, sang penyampai menjadi terang, jelas, gamblang. Kapan berlaku lunak, lemah lembut, andhap asor, sopan santun, berlaku tegas, berlaku keras, bahkan kapan berlaku perang. Sebab saat di zaman nabi, hal ini tidak memakai penafsiran, kira-kira, dan prasangka, namun sikap apa yang akan diambil jelas atas kehendak Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Perhitungannya bukan semata-mata masalah fisik lahiriyah, namun masalah batininyah. Masalah keselamatan.

Kita beragama untuk mendapatkan keselamatan dunia dan keselamatan akhirat, mewujudkan kedamaian, ketentraman, kemerdekaan yang sejati dalam suasana nyaman, memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, dan memperoleh surga-Nya. Pelaku beragama adalah mereka yang yakin akan adanya kematian, yakin akan ada kehidupan setelah kematian. Sehingga membangun perilaku keselamatan, kedamaian cinta kasih, dan ke-dharma-an adalah perilaku yang seharusnya dibangun oleh mereka yang bercita-cita selamat, dengan watak, sifat, dan perilaku selamat saat di dunia. Akhirnya setelah mati berada di dalam keselamatan.

Kita mendengar bahwa kita beragama untuk memiliki perilaku akhlaqul karimah, karena nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak. Yang sempurna adalah diri Tuhan sendiri. Akhlak sebagai perilaku yang baik, disempurnakan dengan ilmu dan laku. Ilmu yang menjadikan batin berfungsi. Berlaku di dunia dengan tatanan, pola, dan akhlak yang baik. Kita beragama untuk bebas dari sifat, watak, dan perilaku kejahiliahan, kebodohan, semena-mena, kekikiran, menghancurkan kehormonisan, perilaku SARA, dan anti-sosial.

 Seandainya seseorang benar-benar telah berada di dalam kebenaran tanpa taksir dan tanpa tafsir karena telah mengetahui kepastian atas persaksian sekalipun, “logikanya” tidak akan pernah “memaksa” orang lain, dan “menjamin” melebihi kapasitasnya sebagai hamba. Sebab kapasitas hamba adalah menghamba. Para nabi hanya sebagai nadhiran atau sang pemberi peringatan, hanya menyampaikan. Setelah kebenaran itu tersampaikan, maka umat yang telah menerima seruan itu mendengar lalu mengikuti seruan atau menutup telinga untuk menolak adalah hak pendengar atau umat tersebut, itu pilihan mereka. Hanya saja, dalam catatan sejarah penolakan itu selalu disertai dengan perilaku kebencian, kedengkian. dan permusuhan. Bahkan, menolaknya dengan cara-cara radikal, bahkan pengusiran dan pembunuhan. Padahal para nabi hanya menyampaikan. Manakala menolak dan tidak mau menerima, memilih jalan yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh para nabi dan para rasul, sungguh para nabi dan para rasul Allah tidak ambil pusing. Beliau sangat sadar akan hal itu. Semua itu adalah pilihan dan hak mereka. Memilih jalan kebaikan dan ketaqwaan atau jalan gelap dan kefasikan. Para utusan Allah juga sadar bahwa hak “hidayah” adalah mutlak milik Allah, manusia tidak ada kuasa memberi hidayah.

Para nabi dan para utusan itu hanya membuka jalan melalui penalaran dengan menyampaikan perintah Allah supaya bertafakkur, berpikir secara mendalam bahwa kehidupan yang dijalani ini ada batas pakai yang disebut dengan umur. Penalaran rasional kehidupan yang akan membuka kesadaran untuk mencari kebenaran al-haq min Rabbika. Kebenaran Al-Haq itu mutlak dari Tuhanmu.

Bagaimana kita menyikapi keanekaragaman beragama supaya tetap dalam keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan dalam ikatan cinta kasih Tuhan. Jembatannya adalah esensi diri. Mengenal hakikat jati diri sebagai jembatan lautan kehidupan berdunia yang akan menyeberangkan pada ujung pesisir kehidupan setelah kematian menuju kehidupan abadi-abadan dalam kebahagiaan kehidupan akherat.

Demikian, ini kami haturkan bagi para pembaca. Selanjutnya, “insya Allah” kami akan menghaturkan perihal keberagamaan, “addiin” dalam perpektif an-nubuwah. Addiin sebagai dinullah, diinulhaq, dan diinul khalish dengan risalah al-kitab, al-hikmah, dan an-nubuwah.

Oleh: (Kyai Tanjung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here