KUNCI KEMANDIRIAN ADALAH KESADARAN

0
1003
views

Tempatkan sebagai hamba yang diterima, hanya penghamba. Maryam : 93

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣

Sungguh, dengan sebenar-benarnya, setiap manusia (hidup) dalam langit dan bumi tidak akan diterima (amal perbuatannya) kecuali menempatkan pada ikatan inti penghambaan Ar-Rahman (rahman adalah kasih tuhan yang telah diberikan berupa ‘potensi-potensi’ yang mesti dikembangkan dan ditingkatkan).”

Kita terus belajar untuk menjadi baik, belajar menjadi islam dan semoga islam yang kita jalani menjadikan setiap diri kita masing-masing berada dalam ridha, fadhal, dan rahmat Allah dan dalam maghfirah Allah. Karena “belajar” menjadi bagian yang tidak terpisahkan, maka watak dan sifat yang menyertai adalah terbuka, lapang dada, sadar bahwa manusia tempat salah, kurang, dan tidak bisa apa-apa, bisanya hanya membuat salah dan dosa. Kemudian untuk terus menjaga, mengembangkan, dan meningkatkan diri untuk menjadi manusia yang “sadar”.

JEMBATAN UNTUK MENJADI SADAR ADALAH MENGENALI DIRI
Untuk dapat mengalami kebahagiaan dan kemerdekaan sejati murni, hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah menjadi “sadar”. Sadar sebagai manusia, makhluk, dan hamba. Inti kehidupan adalah kesadaran. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti pengelolaan yang benar urus adalah kesadaran. Inti kemakhlukan adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ”tertidur”. Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ”tertidur”.  Seperti seseorang yang mengigau, ngelindur, dan bermimpi. Kita sebagai manusia sering mengalami, tampaknya kita beraktivitas, namun sesungguhnya kita tidur. Seperti orang yang terhipnotis.

Pernah ada orang bercerita tentang pengalamannya. Saat dia tengah berbelanja, ada seseorang menawarkan handuk, kemudian dia membeli handuk yang ditawarkan karena sangat murah. Lalu dia mengeluarkan dompet untuk mengambil uang dari dalam dompet dan menyerahkan uang tersebut kepada penjual handuk. Kemudian dia meneruskan ke tempat lain. Setelah sampai tempat belanja lain, saat hendak mengambil uang dari dalam dompetnya, betapa kagetnya dia, ternyata uang di dalam dompet telah habis terkuras. Kemudian dia berpikir, mungkin saat beli handuk tadi uangnya dikuras habis. Namun  saat dia kembali ke tempat penjual handuk, ternyata si penjual handuk sudah pergi.

Banyak manusia yang terlelap dalam tidur (bergerak tanpa rasionalitas hati nurani), tanpa tafakur (mendalami dan menyelami) di balik hal yang tampak kasat mata, atau di balik yang tampak sebagai fenomena-fenomena. Tanpa menyadari dan menyelami hakikatnya. Tertutup karena taasub, jumud, fanatik, kaku, beku, ikut-ikutan tanpa hujatul mubin, sehingga bergerak hanya berorientasi lahiriyah jasadiyah, tanpa rasionalitas dan akal yang sehat. Bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain. Bergerak karena kemuliaan, kehormatan materi, keduniawian, nilai-nilai gengsi, dan pencitraan euforia kulit semata. Padahal Inti kehidupan adalah kesadaran, dan inti kesadaran adalah berfungsinya akal pikiran berdasar rasionalitas hati nurani. Dan hati nurani yang berfungsi adalah dzikrullah dengan perilaku “subhanaka”.

Kita semua mengetahui bahwa “menyadari” amat berbeda dengan “mengetahui”. Banyak orang mengetahui sesuatu bahkan dapat berbicara dan mendiskusikannya dengan baik. Analogikanya, seperti orang yang mengetahui dan paham  perihal makanan sehat, perilaku sehat, pikiran sehat, beras sehat, sayur sehat, dapat menguraikan dan mendefinisikan serta mendeskripsikan kandungan-kandungannya, semua buku mengenai makanan sehat telah tuntas dibaca, semua pendapat para ahli telah dipelajari, bahkan cara mengolahnya pun telah memahami, namun belum pernah mengetahui wujud beras sehat, sayur sehat, pikiran sehat, dan makanan sehat.

Seperti dua orang yang sedang naik perahu berlayar di tengah samudra. Yang satu adalah si tukang perahu, dan yang satunya lagi adalah penumpang yang “ahli” baca dengan gelar segudang. Saat di tengah-tengah samudra si ahli berbicara, “Hai nelayan, apakah kamu telah membaca mengenai laut dan jenis laut?”
Si tukang perahu menjawab, “Tidak.”
“Apa kamu tidak pernah membaca perihal laut?”
 “Tidak.”
“Bagaimana kamu mengetahui karakter laut yang begitu luas dan banyak berbagai jenis ikan?”
Si tukang perahu menjawab, “Dari pengalaman dan dari wasiat leluhur serta membuka telinga dan mata serta arah angin. Hanya bermodal sikap terbuka, lapang dada, menjadi pendengar yang baik, dan menjadi pelihat yang baik.”
“Ohhh… betapa kasihan kamu, separuh hidup kamu sia-sia, tanpa pengetahuan, tanpa membaca, perlu kamu ketahui bahwa saya hidup penuh dengan buku, mengenai kelautan telah tuntas saya baca”.
Si tukang perahu bertanya, “Apakah Anda bisa berenang?”
“Tidak, namun semua buku mengenai renang telah habis saya baca”
Si tukang perahu menjawab, “Oh… kasihan kamu, sebab seluruh hidupmu habis sia-sia, dan tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bisa menolongmu, sebab pengetahuan kamu mengenai renang tidak akan bisa menolongmu. Perahu ini bocor dan sebentar lagi akan tenggelam.”

Orang mengetahui bahwa berdunia harus bekerja, lebih baik jika ditunjang dengan kreatifitas dan inovasi-inovasi. Orang tahu bahwa jika tidak bekerja maka tidak dapat menjalankan perintah i’mal lidunyaka ka-annaka ta’isyu abadan wa’mal liakhiroti tamuutu ghodan. Beramalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup abadi (ini adalah posisi pada fungsi lahiriyah), dan beramalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok (ini adalah posisi pada fungsi batiniyah).

Namun faktanya manusia kebanyakan lebih memilih “diam” tidak beraktifitas apapun dan tidak mau memaksa dirinya untuk meningkatkan skill dan keahliannya supaya dirinya memiliki jiwa mandiri. Akibatnya, saat salat mengharapkan makanan. Saat puasa mengharap malaikat pembagi rezki turun ke bumi dan menemui dia. Saat zakat berharap ada orang yang datang dan memberikan sebagian harta bendanya untuk diserahkan kepadanya. Mengharapkan proposal bantuan dan bantuan dari orang lain, berharap belas kasihan dari orang lain. Parahnya saat ada orang yang benar-benar menyerahkan sebagian harta bendanya, hanya saja tidak diberikan kepada dirinya, kecewa, marah, bahkan mengumpat dengan umpatan baik kepada orang yang telah berzakat juga kepada yang telah menerima zakat, “Saya yang beribadah, saya yang selalu berdo’a, saya yang selalu berpuasa, saya yang selalu khataman setiap saat setiap waktu kok”. Kemudian menebarkan olokan, fitnah yang dikemas dengan agama.

Banyak orang mengetahui dan menginginkan guyub rukun, semua orang tahu “guyub agawe santosa”, namun faktanya tidak menyadari bahwa jargon konsep tersebut mesti disertai kesadaran metode dalam berperilaku islam. Niat dan tujuan tanpa tekad dan tanpa metode tidak ada artinya. Itulah contoh, tahu tapi tidak sadar!

Kematian seharusnya merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita untuk menjadi sadar. Banyak tokoh terkenal meninggal begitu saja. Mereka sedang sibuk memperjualbelikan kekuasaan, saling menjegal, berjuang meraih jabatan, lalu tiba-tiba saja meninggal. Bayangkan kalau kita sedang di depan televisi, sedang asyik-asyiknya menikmati tayangan tv, atau sedang aktivitas apapun kemudian tiba-tiba listrik padam. Kemudian ada pengumuman, ”mohon maaf listriknya mati!” kita protes, bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali. Tapi, yang berwenang dengan tegas mengatakan, ”Pertunjukan sudah selesai, listriknya tidak akan pernah hidup kembali.”

Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat kita, sering menyadarkan kita pada arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita meributkan hal-hal sepele, dan betapa naifnya kita mati-matian mempertahankan sesuatu demi gengsi, kemuliaan-kemuliaan dan kehormatan-kehormatan material keduniaan.

Perilaku berdunia membangun jiwa mandiri adalah “keniscayaan”. Kita mengembangkan potensi yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah hal ‘lumrah’ sebagai kemestian. Kalau kita memberdayakan diri, berlaku kreatif, inovatif, bekerja dengan rajin yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, “semestinya ini bukanlah hal istimewa” karena secara lahiriyah penciptaan manusia yang terdiri dari otak, organ, dan indera sebagai potensi adalah keniscayaan untuk diberdayakan, karena ini adalah bagian dari amanah. Kita berbaik kepada orang lain, saling membantu, saling menolong, saling menghormati, saling memaklumi adalah lumrah sebagai keniscayaan dalam menjalani kehidupan berdunia. Seharusnya adalah hal lumrah (normal) seandainya ditempatkan dalam kesadaran “sadar hamba”. 

Hidup ini seringkali menipu dan meninabobokkan orang. Untuk menjadi bangun dan bangkit dari tidur, kita harus sadar mengenai tiga hal, yaitu siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan kemana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu bertafakur, menyelami makna, dan nilai-nilai kedirian, hati-hati dan waspada dengan melakukan kontemplasi.

Yang “lahir” bersungguh-sungguh dalam menggarap garapan berdunia, sedang yang batiniyah bersungguh-sungguh untuk tetap dalam cita-cita dan tujuan luhur terwujudnya kedamaian, ketentraman, dan mewujudkan kemerdekaan sejati murni. Hati yang dalam keselamatan.

Hakekat Diri “Man arafa nafsahu, faqod ‘arafa Rabbahu. Ar-Ruum:8.

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ٧
أَوَ لَمۡ يَتَفَكَّرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ٨

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang tentang (keberadaan) akhirat mereka lalai. Dan mengapa mereka tidak menafakuri dalam anfus (anfus adalah fitrah manusia yang hakekat fitrah manusia berasal dari Fitrah Allah Sendiri) mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (adanya Keberadaan) AlHaq (min Rabbika) (adanya hakekat kehidupan sebagai inti) dan (secara fisik lahiriyah adanya) waktu yang ditentukan (masa pakai habis). Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (sebab pertemuan dengan DiriNya Tuhan Yang Al-Ghayb, Yang Allah AsmaNya ada pintu pulang melalui dada [pintu rahmah] menyatunya fitrah manusia yang asal Fitrah manusia berasal dari Fitrah Allah Sendiri).”

Setiap dari diri ingin merdeka, sebab memang kita adalah makhluk merdeka karena ada ruh Illahi (nafahtu min Ruhii). ”Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman ruhiyah, namun kita adalah makhluk ruhiyah yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.” Kita adalah makhluk ruhiyah, tubuh kita sebenarnya hanyalah seonggok daging yang jika tanpa ruh tuhan tidak bisa apa-apa, dan tidak ada apa-apanya.  Tubuh diperlukan karena merupakan salah satu syarat “diuji” yang jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis di dunia untuk dimuliakan disisi Allah. Dan seonggok daging ini sesungguhnya adalah wujud nafsu manusia untuk dijadikan kendaraan hati nurani, ruh, dan rasa supaya kembali pulang dengan selamat kepadaNya lagi. Jangan lupa!, kematian masa pakai jasad habis ini bukan berarti mati karena esensi inti manusia tak pernah mati. Yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.

Lantas, apakah kita perlu mengalami sendiri peristiwa-peristiwa yang pahit tersebut agar kita sadar? Jawabnya, Ya! Tapi kalau kita merasa cara tersebut terlalu mahal, ada cara kedua yang jauh lebih mudah, mendengarkan, menyimak, mencermati, dan menafakuri ayat-ayat Tuhan yang qauniyah dan qauliyah.

Membuka mata dan hati untuk mengerti, mendengar, dan mempertanyakan semua pikiran dan paradigma kita. Sayang, banyak orang yang mendengarkan semata-mata untuk memperkuat pendapat mereka sendiri, bukannya untuk mendapatkan hal baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat mereka sebelumnya. Orang yang seperti ini masih tertidur dan belum sepenuhnya terbangun. Semoga kita selalu dalam ampunan Allah, dalam maghfirah Allah, dan ditarik dengan fadhal dan rahmat Allah untuk menjadi hambaNya yang dikasihi.

Setiap bencana, ujian, cobaan adalah ketetapan Allah, agar tidak bersedih hati, dan Allah tidak suka kepada yang membanggakan diri. Al-Hadid:23

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ٢٣

“(Keadaan dan situasi yang carut marut, yang terasa dan mempengaruhi dalam kehidupan kita, yang menjadikan prihatin dan susah, pun yang menyenangkan, kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Kalau kita ingin membuka hakekat jati diri fitrah manusia yang asal fitrah dari fitrah allah sendiri, maka membukanya dengan pikiran yang jernih  dan terbuka dengan hati yang bersih dan lapang dada. Sebab saat tidak menggunakan akal, Allah mengecam dan mengancam. Lihat dalam QS.Yunus:100;

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تُؤۡمِنَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَجۡعَلُ ٱلرِّجۡسَ عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ١٠٠

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

وَإِذَا نَادَيۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ٱتَّخَذُوهَا هُزُوٗا وَلَعِبٗاۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ٥٨

Dan apabila kamu menyeru (kebenaran adalah al-Haq min Robbika) untuk (mengerjakan) salat (inti dari iqomash-salat adalah dzikr yakni ingatnya hati nurani kepada Keberadaan Al-Ghaybullah), mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”

Oleh: (Kyai Tanjung)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here