HIDUP YANG DICINTAI ALLAH

0
967
views

PETUNJUK MENJALANI HIDUP YANG DICINTAI

ALLAH DAN YANG DIAMPUNI DOSA-DOSANYA

Dengan rasa syukur kehadirat Allah Swt, segala puja dan puji hanya bagi-Nya serta berkah dan rahmat-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa bagi Junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau yang setia lahir dan batin yang selalu mengada sampai hari ini hingga kiyamat nanti.

Petunjuk menjalani hidup yang dicintai Allah Swt dan yang diampuni dosa-dosanya adalah dari firman Allah Swt sendiri, dalam QS. Ali Imran ayat 31 1) yang artinya: Katakanlah: ”jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ada tiga hal besar yang diperintahkan oleh Allah di dalam firman-Nya tersebut supaya dikatakan. Qul yang artinya katakanlah, adalah fiil amr. Perintah Allah yang berlaku sekarang ini. Perintah Allah apabila tidak dilaksanakan sama artinya dengan berani menentang-Nya. Resikonya adalah azab.

Tiga hal besar yang ada di dalam firman Allah tersebut adalah, jika kamu benar-benar mencintai Allah (yang pertama). Yang kedua: maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Yang ketiga: Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tiga hal besar yang apabila dikatakan dan dijelaskan sejalan dengan kehendak Allah, petunjuk-Nya dan perintah-Nya, sama sekali tidak mungkin dilakukan manusia selama manusia ini tetap saja diperbudak oleh nafsu dan watak akunya. Sebab nafsu dan watak akunya manusia itu adalah hakekat dunia, dan wujudnya nafsu adalah jiwaraganya manusia yang dicipta oleh Allah dari setetes mani akan tetapi ternyata hanyalah menjadi penentang yang terang-terangan (terhadap kehendak Allah, terhadap petunjuk-petunjukNya dan perintah-perintahNya).

Hal besar pertama, jika kamu benar-benar mencintai Allah. Bagaimana bisa mencintai Allah apabila seyakinnya tidak mengenal dan mengetahui Ada dan Wujud Diri-Nya Allah. Sebab Allah adalah nama. Namanya Dzat AL-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya. Dekat sekali di dalam rasa hati. Asal fitrah jatidiri manusia dicipta dan tempat kembali yang selamat pulang kembali bertemu dengan-Nya. Dzat Wajibul Wujud yang meliputi hamba-hambaNya dan yang senantiasa menyertai. Orang kafir saja, yakni orang yang tidak percaya terhadap Ada dan Wujud-Nya Dzat AL-Ghayb Yang Allah nama-Nya, diliputi oleh Allah. (QS. AL Baqarah: 19). 2) Sebab sekiranya tidak diliputi oleh-Nya, jangankan bisa berbicara, bisa melihat, bisa mendengar, bisa bekerja, bisa berpikir, bernafaspun tidak. Karena itu mengapa ancaman Allah sangat keras kepada orang-orang kafir ini.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir (yang tidak percaya mengada-Nya Dzatullah Yang AL-Ghayb dan tidak percaya pula terhadap yang secara hak dan sah menunjukkan mengenai Al-Ghayb (wama huwa ’ala al-Ghaybi bidhanin, QS. Takwir: 24), dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka sama sekali tidak akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, meskipun dia menebus dengan itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh pertolongan. (QS. Ali Imran: 91). 3)

Dzatullah Al-Ghayb (isim mufrad dan ma’rifah) adalah tauhid. Satu-satuNya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya, adalah Kalimatan Baqiyyatan. Kalimat yang kekal. Sebagaimana yang dibisikkan adalah kalimat mengenai Diri-Nya Dzat Yang Maha Kekal. Waja’ala kalimatan baqiyyatan fi aqibihi la’allahum yarji’un. (QS. Az Zuhruf: 28). 4) Dia (Nabi Ibrahim) menjadikan kalimat yang kekal di dalam diri anak keturunannya supaya anak keturunannya dapat selamat kembali kepada kalimat yang kekal itu.

Karena itulah alladziina yu’minuuna bi Al-Ghaybi adalah syarat pertama menjadi muttaqin. Sedang yang sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala tetapi bukan Diri-Nya Allah Dzat Yang Al-Ghayb, di dalam firman-Nya Allah menyebut Al-Ghuyuub. Beberapa hal yang dibangsakan Al-Ghayb karena sama-sama tidak bisa dilihat mata kepala tetapi bukan Diri-Nya Ilaahi Dzat AL-Ghayb.

Di dalam QS. Ali Imran ayat 28 dan ayat 30 adalah firman Allah yang sama sekali tidak pernah dipedulikan. Yaitu wa yuhadz-dzirukumullaahu nafsahu. Dan Allah selalu memperingatkan kamu terhadap (Ada dan Wujud) Diri-Nya (Yang Al-Ghayb itu). Sebab hanya kepada-Nya lah tempat kembali. Sebab apabila tidak selamat kembali kepada-Nya, akan merasakan kehancuran selama-lamanya di tempat sesat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Isra’ ayat 72 5) yang arti dan maksudnya: Dan barang siapa yang di dunia ini buta (mata hatinya tidak mengenali dan mengetahui Ada dan Wujud-Nya Dzatullah Yang Al-Ghayb yang dekat sekali di dalam rasa hatinya, senantiasa meliputi dan menyertai hamba-hambaNya, karena tidak kenal dan tidak mau tahu kepada yang berhak dan sah menunjuki tentang Ada dan Wujud-Nya Dzat Yang Al-Ghayb itu), maka di akherat (juga) buta dan lebih sesat jalannya. Itulah sebabnya mengapa di dalam QS. Ali Imran ayat 30 ditutup dengan: Wa Allahu raufun bi al ’ibaadi. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hambaNya.

Hanya saja kasih sayang Allah ini ternyata dikhianati oleh nafsu dan watak akunya manusia yang menjadi hakekatnya dunia dan wujudnya nafsu adalah jiwaraganya manusia. Maka dari itu mengadulah utusan Allah kepada Tuhannya: Ya Rabbi inna qaumitakhadzdzihadza al-Qur’ana mahjuura. Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini suatu yang tidak diacuhkan (QS. Al Furqan: 30).6)

Seyakinnya mengenal dan mengetahui Diri-Nya Ilaahi Dzat Yang AL-Ghayb, ini adalah ”pintunya mati” yang selamat kembali kepada-Nya. Karena itu di dalam dada manusia disimpan Allah di dalam rahasia batin, yakni rasa, di dalamnya ada lubang (misykat atau minhajun) yang isinya cahaya. Cahaya Terpuji-Nya Dzatullah, yang cahaya dengan Dzat-Nya Allah kekal menyatu bagaikan sifat dan mausufnya atau bagaikan kertas dan putihnya. Tempat titik temunya fitrah jatidiri manusia atau benih gaib sucinya manusia dengan Fitrah-Nya Allah Swt. (QS. Ar Ruum : 30).7)

Di dalam QS. Al Hadid ayat 13 difirmankan oleh Allah bahwa: Baatinuhu fihi al rahmatu. Di dalam batin manusia (apabila dibuka oleh yang berhak dan sah membuka) isinya adalah rahmat-Nya Allah Swt. Wadzahiruhu min qibalihi al ’azabu. Dan bagian lahir (yang menjadi tutup gelap karena hanya mengikuti kepentingan-kepentingan yang lahir saja) maka azab.

Dan (alangkah ngerinya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada saat matinya), maka mereka tidak bisa melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadyabalanya iblis ke tempat sesat), dan (di waktu itu) mereka berkata: ”kami beriman kepada Allah”, bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu.

Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu (ketika masih hidup di dunia) dan (sebabnya) mereka (hanya) menduga-duga saja tentang Al-Ghayb dari tempat yang jauh.

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (untuk kembali ke dunia meluruskan kesalahan imannya) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam. (QS. Saba’ 51-54).8)

Hal besar kedua, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu, apabila kamu benar-benar mencintai Allah.

Fattabi’uni (maka ikutilah aku) adalah fiil amar. Perintah Allah yang berlaku sekarang ini. Aku yang diperintahkan Allah untuk diikuti itu adalah hamba yang secara hak dan sah dikehendaki Allah dengan hidayah-Nya sebagai penerus yang mewakili tugas dan kewajiban Junjungan Nabi Muhammad SAW Rasulullah yang hak-hak beliau tidak pernah habis sampai kiyamat. Wakil yang secara hak dan sah ada dalam sebuah rantai silsilah yang gilir gumantinya tidak pernah terputus sama sekali sampai kini hingga kiyamat nanti. Sekaligus juga wakil-Nya Allah yang selalu mengada di bumi milik-Nya. Sebab Allah Dzat Al-Ghayb Yang Mutlak Wujud-Nya, dekat sekali di dalam rasa hati ini harus dapat dengan mudah selalu diingat dan dijadikan tujuan tempat kembali. Padahal Allah Yang Al-Ghayb itu tidak akan pernah ngejawantah di bumi. Karena itu Dia membuat wakil yang tugas pokoknya sebagai Wasithah, penghubung yang memper-temukan kembali fitrah jatidiri manusia dengan Fitrah-Nya Allah di dalam rahasia batin hamba yang dikehendaki dengan hidayah-Nya.

Hal yang juga diperintahkan Allah dalam QS. Lukman ayat 15. Wattabi’ sabila man anaaba ilaiyya. Dan ikutilah jalan orang yang telah pernah kembali kepada-Ku. Sebab hamba ini oleh Allah telah pernah dibuat kembali kepada-Nya. Bertemu dengan-Nya. Agar sama sekali tidak ragu-ragu menjelaskan seperti apa benarnya mati yang selamat dengan rasa bahagia bertemu dengan-Nya. Karena tugasnya, oleh Allah dikembalikan dalam kehidupan dunia supaya menjadi panutan di jalan Allah yang lurus menuju kepada-Nya sehingga sampai dengan selamat.

Dan jalan itu adalah Shirathal Mustaqim. Jalan lurus-Nya Allah. Mengumpulkan bagusnya kewajiban syareat dan hakekat. Dan bagusnya kewajiban syareat guna beribadah kepada-Nya itu yang diikuti adalah ucapannya dan perbuatannya, lahirnya dan batinnya. Ilmunya dan amalnya. Dibarengi dengan hakekat, yakni mengingat-ingat dan menghayati Ada dan Wujud satu-satuNya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya di dalam batinnya. Semua tertuang di dalam sumpah dan janji.

Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada kamu sesungguh-nya mereka baiat kepada Allah. Tangan Allah di atas mereka semuanya, maka barangsiapa yang melanggar (sumpah dan janji yang dilakukan ketika di dalam baiat menerima Ilmu Nubuwah) maka akibat melanggarnya itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barangsiapa yang memenuhi (sumpah) dan janjinya kepada Allah maka Allah akan memberikan kepadanya kanugrahan yang besar. (QS. Al Fath: 10). 9)

Mengikut lahir batin dengan benar dan ikhlas kepada jalan orang yang oleh Allah telah pernah dijadikan kembali kepada-Nya adalah hamba Allah yang secara benar mengikuti jejak para Malaikat-Nya yang disucikan oleh-Nya. Sama-sama sibghatallah. Sama-sama berada di dalam celupan Allah. Sama dengan dibentuk Allah dijadikan ahlul baitnya Junjungan Nabi Muhammad SAW yang selalu berada di dalam celupan-Nya Allah yang dijanjikan Allah dengan firman-Nya: Innama yuridullah liyudzhiba ankumu al rijsa ahlal baiti wa yuthahhirakum tathhira. Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan semua dosa-dosamu hai ahlul bait dan mensucikan kamu yang sesuci-sucinya.

Yaitulah mereka (yang berada di dalam celupan Allah dan dijadikan ahlul baitnya Junjungan Nabi Muhammad SAW) adalah mereka setelah secara benar baiat Ilmu Nubuwah kepada yang berhak dan sah menunjuki lalu mau sungguh-sungguh berusaha bagaimana agar setiap masuknya nafas disertai dengan ingatnya hati kepada Wangsit-Nya Guru. Sebab nafas itu jika masuk tidak keluar lagi, itulah mati (selamat kembali kepada-Nya).

Kemudian jalan yang paling dekat dan jelas bermartabat disisi-Nya, yang pertama harus mau melakukan amal perbuatan baik yang mudah dikerjakan oleh tingkah lakunya jasad. Seperti melaksanakan kewajiban shalat. Memperbanyak shalat-shalat sunat sebagaimana dicontohkan oleh Wasithah. Berpuasa yang wajib dan yang sunat. Memperbanyak membaca Al Qur’an dan perbuatan-perbuatan lain yang memang diajarkan oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW. Kemudian senang bermujahadah bersama-sama dengan murid yang setujuan menuju Tuhan. Yakni memerangi nafsunya sendiri-sendiri supaya patuh dan tunduk dijadikan tunggangannya hatinurani roh dan rasa menuju kepada Allah sehingga sampai. Disertai dengan selalu membangun akhlaqnya. Membeningkan hati agar tidak mudah dijajah nafsu mengingat-ingat hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah. Mensucikan jiwaraga yang caranya bagaimana agar yang dimakan makanan yang benar-benar halal. Demikian pula yang disandang dan yang ditempati. Karena itu harus menjadi pekerja-pekerja yang profesional dibidangnya, demi untuk dijadikan pancatan yang kokoh pulang kepada Tuhan. Serta dengan senang bersama-sama saudara setujuannya untuk meramaikan syiarnya agama Allah. Seperti membangun jamaah yang kompak dan seia sekata dengan ajarannya Wasithah. Membangun sumber pendidikan yang Islami, bermartabat dan menjadi cikal bakal generasi yang salih dan sholihah. Tapa ana ing sak tengahing praja lan nyingkrih ana ing sak tengahing kalangan.

Yang ketiga senang bersama-sama saudara setujuannya berjalan menuju kepada Allah sehingga sampai. Mereka inilah yang disebut Asy Syaththar, orang-orang yang ahli mencintai Allah sebagai jalan yang tetap terhadap selamatnya mati yang benar.

Untuk hal ini harus mau terus belajar bagaimana menghayati dasar taubat. Dasar zuhud. Dasar qanaah, dasar tawakkal ’ala Allah dan dasar uzlah.

Wakil-Nya Allah dengan ajarannya inilah yang habis-habisan ditentang dan dimusuhi oleh iblis yang selalu berusaha dengan keras agar tidak satupun hamba Allah di bumi ini mau mengikutinya. Dan perlu diketahui bahwa tangan kanan iblis ini adalah nafsunya manusia dan watak akunya itu.

Cara mereka memusuhi adalah sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al Hijr ayat 39 10): Iblis berkata: ”Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku menjadikan mereka memandang baik, memandang benar, memandang indah, memandang menguntungkan (padahal sebenarnya salah dihadapan-Mu) di muka bumi, (dengan demikian) pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.

Hamba yang mukhlis adalah mereka yang ikhlas berniat membuktikan yang dimaksud oleh surat Al Ikhlas. Qul Huwa Allahu Ahad.….dst.

Katakanlah bahwa Huwa (= dhamir = sesuatu yang tersimpan di dalam rasa hati mengenai Ada dan Wujud-Nya Dia Dzatullah Al-Ghayb yang Mutlak Wujud-Nya adalah Dzat Yang) Allah nama-Nya. Satu-satuNya Dzat Yang Wajib Wujud-Nya….

Yakni mengenal dan mengetahui dzikir Huw. Dan Huw ini adalah bunyinya rasa sebagai dasar manusia. Sebab ilmu ini adalah ilmu yang berada di dalam rasa.

Karena itu Allah berfirman dengan susunan kalimatnya Junjungan Nabi Muhammad SAW bahwa Al Ikhlasu sirri min sirri, istauda’tuhu qalba man uhibbu min ’ibadi.

Bahwa ikhlas itu adalah rahasia-Ku daripada rasa yang merasakan

Ada dan Wujud-Ku, yang hanya Aku letakkan di dalam hatinya orang yang Aku cintai di antara hamba-hambaKu.

Hal besar ketiga adalah bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Disebut hal besar sebab tanpa seyakinnya mengenali Diri-Nya Yang Al-Ghayb supaya dijadikan tempat bergantung, tempat berlindung, tempat berpasrah diri. Menyadari al-faqirnya. Apesnya, menyadari kebodohannya, hinanya dan bahkan menyadari tidak ada apa-apanya sehingga selalu bangkit kesadaran butuh kepada-Nya. Butuh ampunan-Nya. Butuh belas kasih-Nya. Butuh pertolongan-Nya. Butuh didekatkan sehingga ditarik fadhal rahmat-Nya selamat bertemu dengan-Nya, yang cara untuk itu harus selalu rela belajar memahami dawuh Guru dan ajarannya supaya secara benar dan ikhlas diamalkan dengan kesungguhan. Ajaran Wasithah ini demi untuk membuktikan kebenaran kalimat tauhid: Laailaaha illallah (kalimat nafi dan kalimat itsbat).

Karena itulah maka kita selalu mohon kehadirat-Nya agar kita semua selalu memperoleh berberan, berkah dan sawab pangestu-Nya.  Amin.

Pondok Sufi, Tanjung, akhir Januari 2010

Hamba al-faqir,

Muhammad Munawwar Afandi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here