Lengkapi Perilaku Berduniamu dengan “Ilmu Tauhid Annubuwah” Supaya Sempurna!!!

2
1573
views

Tanjunganom, 12 Januari 2017 M / Al Arif 04 MHD

Innamaa bu’its-tu li-utamimma makaarimal akhlaq. Bahwa Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang sudah mulia. Menjalani proses kehidupan berdunia ini, (mempolaterap adab, akhlaq, pola pikir, bermasyarakat, mengembangkan potensi, sebagai apapun dan siapapun, menjalani tatanan lahir sama dengan syareat (tatanan syaro’a lakum) agar tidak dalam kesia-siaan, maka harus dilengkapi dengan “ilmu”. Menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, dengan metode mendamaikan dan membangun kasih sayang, dilakukan seperti air yang mengalir. Mengalir menuju sumbernya (lautan). Penyempurnaan dengan ilmu terhadap akhlaq yang telah baik dan mempola menuju sumber sehingga menyatu, melebur dengan ahadiyatNya dalam tauhidul Khaliq, itulah tugas utama Rasul/ Wasilah/ Walliyan Mursyida/ Nadhirun Mubin. Sehingga muncullah keniscayaan, bahwa kita menjalani kehidupan ini, muthlaq, harus dilengkapi dengan ilmu Tauhid, dan itulah yang disebut IMAN.

Menjadi hal yang sia-sia saat kita melakukan aktifitas tanpa disertai dengan butiran iman. Perilaku atau akhlaq yang baik dibangun untuk kebangkitan. Sehingga jangan sekali-kali merendahkan orang lain karena yang direndahkan bisa jadi lebih baik dari yang merendahkan atau mengolok-olok. Urusan batin tidak bisa dinilai oleh orang lain, urusan batin yang tahu adalah diri sendiri. Karena iman adalah urusan masing-masing, tidak dapat dibagi.

(قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ (الحجرات: ١٤

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. (Al Hujurat : 14)

Walaupun perilaku telah mencerminkan perilaku yang islami, namun belum tentu iman ada di dalam dada. Sebab iman itu butuh persaksian secara nyata. Persaksian terhadap keberadaan Nur Muhammad, yang untuk mengetahuinya (Nur Muhammad) harus dengan ilmu yang tidak dapat disentuh oleh indera, tapi dapat dipersaksikan keberadaan-Nya. Karena tanpa adanya persaksian, maka belum beriman, hanya perilakunya yang baik. Sehingga, perilaku baik digenapi, dilengkapi dan disempurnakan dengan IMAN. Iman, menyatakan isinya HUW dengan persaksian/bai’at kepada Rasul. Rasul menggenapi apa yang sudah menjadi perilaku baik dengan iman sehingga apa yang dilakukan tidak sia-sia.

Allah tidak ngejowantah (menampakkan bleger/fisik). Sebagai konsekuensinya, membuat Wakil untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang sudah baik (iman) supaya mencapai tujuan yang sesungguhnya, yaitu kebahagiaan yang sesuangguhnya, dengan metode dzikir (ingatnya hati kepada Tuhan). Logikanya, jika keberadaan Rasul berhenti di Nabi Muhammad, maka tidak akan ada yang bisa menunjukkan keberadaaan dzikr (ingatnya hati kepada Tuhan) Dzat Al-Ghayb selepas wafatnya KN Muhammad. Sehingga rasionalnya, berarti manusia tidak ada yang beriman sampai saat ini. Sehingga jangan heran bila sholatnya pun menjadi tidak khusyu’. Padahal perbuatan fakhsya’ wal munkar hanya dapat dicegah dengan sholat. Nyatanya fakhsya dan munkar merajalela, padahal banyak yang melaksanakan sholat? Dimana letak benang merahnya? Sehingga sangat berasalan mengapa orang yang melaksanakan sholat diancam dengan Neraka Wail. Fawailun Lil Mushalliin. Banyak yang lupa bahwa tegaknya sholat adalah untuk mengingat (mendzikiri) Aku (Tuhan, Dzat Wajibul Wujud Yang Allah AsmaNya). Wa-aqimish shalaata lidzikriy. Alatnya sholat supaya khusyu’ yaitu dzikir.

Untuk itu, paksa diri untuk melaksanakan sholat, untuk menegakkan sholat. Karena sholat mencegah fakhsya’ wal munkar. Dan tanpa dengan dzikir manusia kosong (bagai wadah tanpa isi). Supaya wadah yang baik dapat bermanfaat untuk menghilangkan dahaga maka diisi dengan air (dzikir).

Lengkapi kehidupan dengan perilaku baik dan genapi dengan iman. Apapun yang dilakukan, bergerak untuk kebaikan. Jangan digunakan untuk mencari celah kesalahan orang lain (iri, dengki). Hadapkan wajahmu (wajah batin) ke masjidil haram (فاسجدوا الى ادم –> selalu sujud kepada kholifah Allah, sujud dalam makna ketaatan).

Sami’na, menyimak (peduli kepada sesama) karena ketaatan kepada kholifah (peduli Dhawuh Guru). Masjidil haram yang dimaksud adalah ditanggalkannya semua kotoran dalam baju (kotoran-kotoran batin). Sehingga saat melihat orang lain yang lebih dari kita, bukan iri, dengki atau rasan-rasan yang timbul. Rasan-rasan adalah satu-satunya kemampuan yang tidak memerlukan kecerdasan, tidak memerlukan gelar. Jangan mengotori dada dengan kotoran-kotoran (saling mengolok, iri, dengki, dsb). Tapi berlomba-lomba lah dalam kebaikan.

Lahan kosong untuk dikelola dengan baik. Optimalkan alat (asah/latih), baik alat lahir maupun alat batin. Mulailah dari sekarang, gali potensi. Latih diri untuk berbuat kebaikan (contohnya melatih istiqomah dalam menegakkan sholat). Allah mengutus Rasul (karena Allah tidak ngejowantah) supaya manusia dapat kembali kepada-Nya untuk menunjukkan makna yang terkandung di dalam kalimat nafi-itsbat (لا اله الاّ الله).

Tidak akan terwujud Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur manakala sistem yang dibangun tanpa pola Ghofur. Wa Robbun adalah sistem rububiyah, sadar punya fisik yang semua perilakunya diproses untuk kembali kepada SUMBER. Huwal ladzi arsala rosuula bil huda. Allah mengutus Rasul, membawa risalah sebagai Hudan/Obor penerang dengan ilmu inti yang menunjukkan keberadaan Tuhan yang Al Ghayb. Dengan proses gulowentah.

Ahlulbait bukan keturunan atau darah daging. Ahlulbait adalah orang yang di dalamnya itu maqom-muqim dalam rumah. Rumah yang didiami oleh Kanjeng Nabi. Rumah yang selalu didiami oleh Kanjeng Nabi adalah rumah untuk selalu memakmurkan ingatnya hati (dzikir) kepada sang pemilik hati, ruh dan rasa dalam minhaj/jalan cahaya menuju kepadaNya. Ahlulbait, tahu persis apa yang ada di dalam dada Kanjeng Nabi. Semua dilakukan dengan disertai dzikir.

Cahaya harus dicari, tanpa cahaya tidak ada kehidupan. Demikian pula masalah batin. Jika tidak ada cahaya, maka menjadi robot. Terjadi gontok-gontokan, pertikaian, perselisihan dan hanya dalam pencitraan karena tanpa isi (cahaya). Wa diinil haq, maka mintalah cahayanya itu, karena Rasul diturunkan bersama cahaya yang berorientasi dengan yang Haq.

Kehidupan sehari-hari hati nuraninya tetap dalam dzikir. Agar berfungsi semua organnya sehingga tidak sia-sia dan selamat. Untuk ditampakkan yang Al-Haq dalam perilaku uswah, dharma dan budi sesuai dengan kemampuannya supaya Ad-Diin (kehidupan sehari-harinya) berada dalam Huda (dalam kejelasan).

Sami’na harus dipaksa untuk jihadunnafsi. Mendengarkan dan menyimak dalam kerangka Al-Haq. Butuh kader yang saling kokoh mengkokohkan sesuai bidangnya masing-masing. Melatih diri sejak awal. Kuncinya adalah memaksa diri.

Perilaku baik digenapi dengan ilmu. Jika sudah memiliki ilmu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Paksa diri untuk menjadi jiwa pejuang. Tapi berjuang tanpa iman akan menjadi berbeda maknanya.

Membangun Baldatun (dada tentrem, luar dan dalam) Thoyyibatun (tentram hingga bertemu/ kembali pada Tuhan hingga selamat). Dengan bertindak/beraksi. Jangan takut salah (tempatkan pada dasar taubat). Takutlah jika niat kita salah. Jika tujuan dan niat kita sudah benar, maka orientasinya kepada Al Haq. Takut salah berarti ada ego (kepentingan). ***


Oleh :  : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Wahyudi
Penyunting : Jarwo 
Ilustrator : Bambang Wahyu HD

Video selengkapnya :

PART 1

PART 2

 

2 KOMENTAR

  1. Syukron akh atas artikelnya yang sangat bermanfaat. Semoga kita senantiasa dilimpahkan rahmat dari Allah SWT. Simak tentang ilmu tauhid di web saya ya akh transparan.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here