INDAHNYA KEBERSAMAAN NUSANTARA

0
681
views

 

Wawasan nusantara sebagai wawasan kebangsaan sangat menarik untuk dibahas dan diselami. Akhir-akhir ini jiwa nasionalisme-patriotisme tampak memudar, jiwa kesatuan persatuan semakin tenggelam, jiwa kemandirian tidak begitu tersentuh, padahal semuanya adalah kekuatan nusantara ini.

Kalau kita membahas dan membicarakan wawasan nusantara memang tidak akan ada habisnya, karena memiliki cakupan yang sangat luas. Intinya adalah bagaimana membangun kesatuan dan persatuan serta mewujudkan kemerdekaan  dalam mencapai tujuan nasional. Dan dalam hal ini, “sungguh” para pakar dan para ahli telah menguraikan sedemikian rupa, apalagi dengan perkembangan teknologi di zaman globalisasi sekarang. Untuk itu kami menghaturkan kepada pembaca, ‘wawasan nusantara demi terwujudnya nusantara bangkit’ ini hanya sekedar uneg-uneg atau secuil pemikiran yang sesuai dengan batas kemampuan kami dan sesuai dengan apa yang telah kami lakukan selama ini.

 

I. Sekilas Perihal Wawasan Nusantara

Pengertian Wawasan Nusantara Menurut Para Ahli
Kelompok Kerja LEMHANAS, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Kelompok Kerja LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 adalah cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungan yang beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

Tap MPR Tahun 1993 dan 1998 Tentang GBHN, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Tap MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

Secara etimologis, pengertian wawasan nusantara adalah cara pandang terhadap kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samura hindia dan samudra pasifik. Istilah wawasan nusantara berasal dari kata wawas (jw)  yang artinya “pandangan, tinjauan atau penglihatan indrawi”, dan kemudian ditambahkan akhiran –an , sehingga arti wawasan adalah cara pandang, cara meninjau, cara melihat.  Sedangkan kata nusantara terdiri dari dua kata yaitu nusa yang berarti “pulau, juga berarti bangsa atau kesatuan kepulauan”, dan antara yang berarti “letak antara dua unsur yaitu dua benua dan dua samudra”. Sehingga arti dari kata nusantara adalah kesatuan kepulauan yang terletak dari dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samudra hindia dan pasifik.

Fungsi wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional adalah sebagai konsep dalam pembangunan, pertahanan keamanan dan kewilayahan; sebagai pembangunan nasional adalah mencakup kesatuan politik, sosial dan ekonomi, sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan; sebagai pertahanan dan keamanan adalah pandangan geopolitik Indonesia sebagai satu kesatuan pada seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara; sebagai wawasan kewilayahan adalah pembatasan negara untuk menghindari adanya sengketa antarnegara tetangga.

Tujuan Wawasan Nusantara – Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi dari segala aspek kehidupan rakyat indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan tersebut tetap dihargai agar tidak bertentangan dari kepentingan nasional.  (http://www.artikelsiana.com/2015/04/wawasan-nusantara-pengertian-fungsi-tujuan.html)

Betapa luhurnya konsep-konsep ke-nusantaraan dan kebangsaan tersebut, sesuatu yang memiliki nilai yang agung dan luhur, seperti yang telah terumuskan dalam pembukaan UUD dasar 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Tujuan suci nan luhur atas wawasan nusantara adalah membebaskan dari segala bentuk penjajahan untuk mencapai kemerdekaan. Wawasan nusantara lahir akibat dari imperialis atau penjajahan bangsa lain terhadap bangsa kita. Efek dari perkembangan teknologi dan globalisasi, “terapan” dalam aplikasi wawasan nusantara tergerus,tergerogoti, semakin pudar dan semakin menjauh dari konsep cara pandang Nusantara. Oleh karena itu,  penyegaran-penyegaran yang mendobrak kesadaran berbangsa dan bernegara sangat dibutuhkan.

II. Kebutuhan Kontemplasi Wawasan Nusantara untuk Nusantara Bangkit

Nusa berarti pulau juga berarti bangsa, sedangkan antara memiliki arti sela-sela yang memisahkan antara dua hal. Bangsa yang beragam penduduknya, beragam sukunya, beragam bahasanya, beragam adat-istiadatnya, beragam agama dan keyakinannya. Bangsa yang memiliki keberagaman. Jika antara dimaknai celah pemisah, maka seolah-olah daratan dipisahkan oleh lautan. Padahal lautan dan daratan adalah kesatuan, negeri ini dikenal karena kedua-duanya. Laut dan daratan menyatu membentuk negeri ini. Sehingga Indonesia menjadi negara kepulauan atau juga disebut sebagai negara kelautan. Justru seharusnya antara dimaknai sebagai pengikat. Faktanya, tidak ada ruang kosong atau ruang hampa, namun malah menjadi karakteristiknya. Demikian pula keberagaman justru menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Jadi, antara adalah pengikatnya. Karakteristik bangsa Indonesia adalah kepulauan, berupa daratan yang diikat oleh lautan.

Nusantara diikat oleh kekayaan sumber daya alam, keberagamaan adat-istiadat, budaya, kultur, bahasa, dan lain sebagainya. Diikat oleh penerapan kebangkitan peduli operasional “Nusantara Bangkit”. Diikat dalam persatuan dan kesatuan ideologi Pancasila. Keberagaman yang diikat oleh kebangkitan semangat kesatuan dan persatuan NKRI. Nusantara dalam ikatan Bhinneka Tunggal Eka (tan hana Darma mangrwa) yang (bisa) bermakna keberagaman dalam kemanunggalan, kesatuan, dan persatuan  ?  tidak ada dharma atau kebaikan yang merusak.

Beragam namun tidak dipandang sebagai perbedaan. Tetap berada dalam ikatan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan, bersama membangkitkan kesadaran kepedulian yang dioperasionalkan dalam perilaku peduli operasional. Bangkit ideologinya, bangkit kesadarannya, bangkit kemandiriannya, bangkit gotong royongnya, bangkit sistem tata kelolanya, bangkit kemanusiaanya.

Salah satu program stimulan kami, Jamaah Tatanan Wahyu (JATAYU) adalah program peduli operasional memakmurkan bumi Allahdengan memanfaatkan lahan kosong, sela, menggunakan benih-benih lokal, memenuhi kebutuhan sendiri secara mandiri, dan mengedukasi masyarakat dengan memberdayakan potensinya secara gotong royong.

Bagi kami, kita semua, untuk memahami bagaimana wawasan nusantara diterapkan dan direalisasikan, perlu penelaahan dan perenungan supaya tidak menjadi sekedar wawasan atau wacana. Lalu diwujudkan  pada konteks ke-ilmuan. Bagaimana penerapan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Bagaimana terapan falsafah Pancasila yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku? Supaya karakter bangsa yang utuh terbentuk,“memanusiakan manusia seutuhnya”.

III. Indahnya Jika Ke-Nusantara-an Terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Terlahir sebagai orang jawa, bukan karena kita memesan tempat kelahiran di Jawa. Bukan kemauan kita, kita terlahir sebagai orang islam, dari keluarga yang beragama islam. Bahkan kita terlahir di bumi nusantara pun Tuhan juga tidak memberitahu kita terlebih dahulu, tanpa memberikan pilihan. Siapapun terlahir tanpa pilihan sebelumnya, dengan kata lain adalah mengikuti kodrat Tuhan. Semua itu akan melekat pada siapapun hingga meninggal dunia. Semestinya kita semua justru bersyukur.

Saat seseorang terlahir dari keluarga Islam, atau Kristiani, atau Katolik, atau Hindu, atau Budha, atau terlahir di keluarga yang beraliran “kepercayaan pada nenek moyang”, niscaya memiliki kecenderungan kuat akan mengikuti agama keluarganya. Peran akal-pikiran, rasionalitas, adalah berpikir sesuai dengan yang ditetapkan dalam hati nuraninya. Pilihan keyakinan yang bersifat batiniyah itu adalah individual. Apa yang akan ditetapkan dalam hati sebagai keyakinan agama tergantung dari pemikiran dan tingkat rasionalitas masing-masing individu. Namun perihal yang lahiriyah, kasat mata, adalah sama. Sama-sama penduduk Indonesia, tidak mencampuraduk antara yang lahiriyah, jasadiyah, dan batiniyah. Semestinya, akal pikirannya tetap digunakan untuk mengevaluasi keyakinan dalam diri sebagai individu, “bagaimana saya bertuhan demi keselamatan yang seharusnya?” Sekalipun berbeda keyakinan agama, tapi tetap “sadar” dalam perilaku “kesadaran” hamba di bumi nusantara, yang secara lahiriyah adalah sama dengan penduduk bumi Nusantara lainnya.

Kalau perihal kelahiran itu semua atas kehendak Allah, dan kita sebagai manusia tidak ada kemampuan untuk melakukan pilihan, masih layakkah kita berbangga-bangga? Apalagi menjadi pijakan untuk menghantam kelompok, suku, dan yang berbeda keyakinan. Pantaskah jika kita melecehkan, menjatuhkan, bahkan mengolok-ngolok mereka, membantai mereka yang tidak satu suku, tidak satu bangsa, dan tidak satu negara? Agama bukanlah milik siapapun dan golongan apapun. Agama bukanlah milik nenek moyang, milik keluarga, atau milik suku tertentu. Agama bukan milik saya, kamu, kami, dan milik mereka. Agama adalah milik Tuhan.

Saat terjadi pertikaian, polemik, dan pertengkaran karena perbedaan-perbedaan tersebut, tidakkah ini adalah ke-naif-an, keanehan yang luar biasa? Saat suatu golongan dan kelompok tertentu melecehkan, mengolok-olok, menjatuhkan, tidakkah ini sama artinya dengan telah “menyalahkan” Tuhan, “melecehkan” Tuhan, “menyingkirkan” Tuhan dari kehidupannya?Seolah-olah agama adalah milik seseorang atau golongannya. manusia tidak memiliki pilihan pada siapa seseorang itu akan dilahirkan, memilih orang tua, dan memilih tempat kelahirannya. Dipikir dengan tingkat rasional seperti apapun tetap tidak akan dapat diterima. Kalau seseorang beragama adalah untuk kebahagiaan, untuk meraih kemerdekaan sejati, dan bertujuan demi keselamatan lahir dan batin, dunia dan akherat, menjadi ironi dan anehbin ajaib saat menjalani kehidupan berdunia tetapi tidak membangun keharmonisan.

Demikian pula perihal keyakinan agama, menyangkut hati. Perihal batiniyah yang posisinya berada di dalam dada masing-masing individu. Perbedaan pemikiran, apa yang di dalam hati, batin adalah keniscayaan. Tidak perlu dipertentangkan. Pembenaran ego keakuan diri, merasa diri sendiri yang paling benar dan yang berhak masuk surga, justru akan merusak kemurnian agama itu sendiri. Menyampaikan sesuai dengan keyakinannya silahkan, namun tidak dengan “memaksa”, apalagi ekstrem atau radikal.

Sedang perihal duniawi adalah perilaku syariat yang lahir, bersifat jasadiyah, yang telah terbagi menjadi perilaku ibadah mahdhoh danammah atau ghoiru mahdhoh. Ada perilaku ritualitas yang mahdhoh, artinya ada perilaku batin yang tampak dalam tatanan syariat berdunia. Syahadat diucapkan namun “persaksian” ditinggalkan menjadi sia-sia.  Salat dilakukan namun hatinya lalai mengingat keberadaan Tuhan, berarti tidak khusyuk dan diancam fawailun, celaka.  Puasa dijalankan namun menempatkan hati sok suci, suka mengolok-olok, mengucapkan kata-kata jorok, melecehkan, merendahkan, maka puasanya manjadi batal, hanya memperolah lapar dan dahaga. Demikian pula dengan berhaji. Sedang ibadah yang ammah atau ghairu mahdhoh merupakan pilihan seseorang akan menjadi apa dan menjadi siapa dalam pekerjaan berdunia.  Menjadi petani, pedagang, pegawai, TNI, POLRI, buruh, menjadi apapun dan sebagai siapapun adalah pilihan masing-masing. Saat seseorang bertani atau berdagang, maka orang lain tidak akan mempermasalahkan perbedaan keyakinan lagi (seharusnya).

Bagi umat beragama, surga adalah tempat yang damai, tempat yang nyaman, tempat yang jauh dari perilaku-perilaku keprasangkaan, jauh dari watak-watak suuzan, jauh dari perilaku yang merusak. permasalahannya adalah saat di dunia kehidupan seseorang penuh dengan ego-keakuan, kepentingan diri, kelompok, dan golongan, penuh dengan nuansa kebencian dan kedengkian, bersifat dan berwatak , , dan fanatik, kaku, beku dan keras kepala, tidak menggambarkan perilaku “surgawi”, mungkinkah perilaku-perilaku “kefasadan” tersebut terbawa ke dalam surga-Nya? Sedang dalam FirmanNya sangat jelas, “perbuatan baik walau sebesar biji zarah akan dibalas kebaikan itu, sebaliknya perbuatan rusak dan kotor akan memperolah balasan sesuai dengan apa yang diperbuat saat di dunianya”. Surga berisi orang-orang beriman yang penuh dengan kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan, dan telah terbebas dari perilaku yang terkekang nafsu.

Untuk itu, terapan wawasan ke-nusantara-an sangat diperlukan bagi kita sebagai bangsa Indonesia, supaya utuh dan terintegrasi menjadi kesatuan, kedaulatan berbangsa dan bernegara. Seyogianya kita bersyukur, para pendahulu kita telah merumuskan falsafah ideologi sebagai pijakan hidup yang luar biasa hebatnya, yaitu pancasila.

Oleh: (Kyai Tanjung)  

Sumber :
Majalah Jatayu Nusantara, diterbitkan bulan November 2016
http://abditanjung.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here