BANGKITLAH JIWA-JIWA PEJUANG!!!

1
1666
views

Tanjunganom, 05 Januari 2017 M / Al Arif 04 MHD (Malam Jum’at Legi)

Keberadaan Nabi Muhammad SAWW, tidak hanya dimaknai sebagai fisik, namun sebagaimana Nur Syamsiyah. Cahaya matahari yang memberikan kehidupan secara bathin. Seperti matahari yang memberikan kehidupan secara fisik. Makhluk hidup tidak bisa apa-apa tanpa adanya matahari. Kebenaran (Al-Haq) itu adalah bahwa apa yang dilakukan oleh manusia hanya tampak secara fisik, akan tetapi yang disebut manusia adalah yang ruhiyah, orientasi hidup untuk keselamatan kehidupan lahir-bathin, dunia-akhirat.

Kita memerlukan kekuatan (penataan) secara utuh, totalitas lahir dan bathin. Karena perintah Allah adalah menjadi islam secara kaaffah (totalitas).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً (Al-Baqarah : 208)

Keberadaan tauhid harus disebarkan di muka bumi. Fungsinya untuk menggenapi atau menyempurnakan akhlak supaya hidupnya tidak dalam kesia-siaan. Supaya manusia berlatih hal yang bersifat batiniyah dengan cara syariat.

Kita membutuhkan kader yang siap diajak perang, siap diajak berjuang, mengangkat “senjata”. Selama ini banyak orang yang berperilaku baik dan sholeh. Supaya kebaikan itu bermanfaat dan tidak dalam kesia-siaan maka harus diisi dengan sebuah ilmu. Pengelolaan bangsa dan negara ini butuh suntikan penyempurna, agar tidak dalam kesia-siaan. Karena sifat saling mendukung dan saling mengisi telah pudar dari bangsa ini. Mudah tersulut emosi dan sangat mudah terprovokasi.

Semua berharap untuk kebangkitan bangsa dan kemerdekaan yang sejati, lalu langkah dan metode yang bagaimanakah untuk mewujudkannya?? Faktanya membalik watak itu berat, jika tidak melatihnya sejak sedari awal.

Semua para pengikut nabi dan rasul terdiri dari beberapa kelompok yakni: ndherek, nyengkuyung, mbela. Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolongmu.

Semua kelompok agama menunggu kedatangan Imamnya masing-masing. Penganut Kristen maupun Katolik menunggu turunnya Nabi Isa. Islam menunggu kedatangan Imam Mahdi. Buddha menunggu kedatangan Sidharta Gautama II/ III. Hindu pun menunggu kedatangan Kalki Avatar. Semua agama berharap turunnya semua itu. Akan tetapi, (rata-rata) hanya bersifat material semata, memahaminya harus dalam sosok. Akan tetapi yang diwujudkan adalah kebahagiaan bathin, tentang ilmu yang menunjukkan  keberadaan diri Tuhan Karena ألا بذكر الله تطمئن القلوب , tanpa dengan dzikir tidak akan mungkin mencapai kebahagiaan.

Rumusan berfikir manusia saat ini, kemuliaan dalam hal berdunia (harta, tahta, dlll) adalah kebahagian. Faktanya tidak akan pernah puas dengan apa yang diperoleh, sehingga akan terus berusaha untuk mencapai kebahagiaan yang diinginkan sampai pada saat meninggalnya.

Cita-cita beberapa ORMAS dan LSM yang aktif adalah menuju negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, karena dikira bahwa keselamatan dan kebahagiaan dapat diperoleh dengan kekuasaan. Harapannya semua orang Islam dapat menjadi pemimpin, tapi faktanya banyak orang Islam yang menjadi pemimpin tidak jujur dan tidak baik.

Berkaitan dengan hal tersebut, diharapkan semua dapat menjadi kader di bidangnya masing-masing. Karena ada yang bersifat perilaku dharma, perilaku uswah dan perilaku budi. Apapun yang dilakukan Nabi Muhammad, dalam kesungguhannya berdunia, sebagai teladan dengan peleburan dalam diri Tuhan (niat dan tekad). Menjadi teladan pada masing-masing bidang atau keahlian yang dimiliki, seharusnya menjadi orientasi kita, baik dalam bersosial, akhlaq maupun adabnya.

Sebagai Diinul Qoyyim, apapun yang dilakukan manusia, pada fitrah manusia terdapat jati diri Tuhannya, sebagai orientasi hidup dan kehidupan. Belajar dan bekerjanya, berkembang untuk sosial.

Manusia ada unsur lahir (jasad, pikiran, organ, indera, dll) diislamkan dengan cara memberdayakan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan yang bersifat bathin (hati, ruh dan rasa) diislamkan dengan mengikat keberadaan diri Tuhan. Sadar bahwa semua gerak gerik kita, tanpa dengan Dia nyatanya tidak bisa apa-apa. Menjaga supaya rasa hati selalu menghayati keberadaan diri Tuhan. Ini merupakan Islam yang kaffah.

Percaya bahwa yang menunjukkan yang Haq dan Sah, silsilahnya tidak pernah putus, mutlak harus ada. Dan yang ditunjukkan dengan lisan, dengan metode bisik mengenai Al-Ghayb Tuhan melalui telinga kiri, dari yang Haq dan Sah menunjukkan dalam mata rantai gulowentah.

Yang menjadikan seseorang “tampaknya” sering sholat, suka ibadah, tapi jika benci & dengki dibiarkan, bahkan dilisankan, maka menjadi GAGAL dan sia-sia. Bila perlu hilangkan rasa benci itu hingga pecah dadamu.

Rasul itu sebagai pembawa “Huda”, penerang hidup supaya manusia dapat berjalan di muka bumi. Seperti matahari yang memberikan kehidupan bumi. Pun demikian dengan keberadaan Nur Muhammad sebagai cahaya nubuwwah. Sehingga dapat membedakan antara yang haq dan bathal.

Sinyal untuk digelarnya AnNubuwwah untuk menyempurnakan akhlaq yang baik. Jika guyub, rukun, maka akan digelar (gumelarnya ilmu). Tapi jika tidak siap, maka 600 tahun kemudian baru akan digelar. Namun jika tidak sekarang, maka kita akan diserang habis-habisan dan Tauhid ini akan tenggelam lagi.

Manusia itu seperti robot, tampak mempelajari sesuatu tapi sia-sia. Segera respek dan tanggap untuk memiliki perilaku pejuang. Selama ini kita berfikir gumelar akan datang dengan tiba-tiba. Kita sering berfikir bahwa dunia ini seperti lembean. Sering ngrumpi, ngrasani, menyuburkan rasa iri dan dengki tapi selalu berharap gumelar.

Yang dikatakan bahwa Allah sendiri yang akan bergerak adalah saat kita bergerak, penyebabnya hanya adalah karena ruh illahi. Tanpa dengan-Nya kita tidak bisa apa-apa yang kita lakukan sia-sia. Jika kita mengakui apa yang kita bisa, maka itu adalah nafsu, ego keakuan.

Sebagian besar dari kita adalah pendherek, belum menjadi pejuang. Digelar atau tidak digelar (ilmu Nubuwwah) tetap berusaha dan berikhtiar. Syaratnya, guyub rukun dan bebarengan melalui program, merekatkan sebagai keluarga.

Kalau sudah punya ilmu  (wal amru) bergeraknya itu karena perintah Allah, disadari sebagai perintah gurunya. Menjalankan program Guru, tetapi tidak guyub rukun, masih males, itu berarti memahami dhawuh Guru hanya sampai otak, orientasi material yang tidak terasa. Obahe mergo upah, bukan karena ibadah, mandeg ditengah jalan, tidak guyub rukun.

Saat kita memahami sesuatu tapi tidak beraksi maka sesungguhnya ragu-ragu. Belajar untuk beraksi, peduli operasional adalah salah satu syarat gumelarnya ilmu. Membuat kebaikan di masyarakat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (Ash-Shaff : 2)

Hai orang-orang yang beriman (yang telah memiliki ilmu) kenapa kamu hanya suka berbicara tapi tidak pernah mempraktekkan.

Lahir menjalankan syari’at dan bathin menjalankan hakikat. Menjalankan perintah Allah dalam hal berdunia ada di dalam Ad-Diin, kehidupan yang memiliki tujuan. Fasholli menjalankan perintah Allah dengan menyambung (bersandar).

Jika suatu kelompok tidak satu visi misi dengan ajaran kita, maka tetap bangun dan bina guyub rukun dan tidak/jangan saling memperolok. Saatnya perjuangan ini ditingkatkan, tegas, berani mengungkapkan kebenaran saat ada peluang. Saatnya bergerak, beraksi utuk mewujudkan gumelarnya ilmu karena membangun kebersamaan butuh perjuangan. Kuatkan respek dan peduli akan dhawuh Guru.

Pada saat bermain blog dan medsos yang lain, ungkap kebenaran secara utuh tentang Ad-Diin tanpa ada yang ditutupi. Jangan merasa enak dan gak enak. Berani mengendalikan diri dan menyampaikan kebenaran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ (Al Maidah: 35)

Ayat tersebut mengatakan untuk tidak menunggu. Golek’ano hingga ketemu penghubung yang menunjukkan jalan pulang kepada Allah. Karena  sak soro-soro ne dunya tidak pernah melebihi kesengsaraan orang meninggal tidak selamat.

Adanya program untuk nengahke, jangan menjadi orang iman yang manggon di pinggir. Memberdayakan diri adalah bagian dari syare’at. Sistem musyawarah bertujuan agar tidak melibatkan ego yang ada.

Mari membangun guyub rukun dan bebarengan setingkat mampunya masing-masing. Niatkan untuk ibadah. Sekecil apapun aksinya. Orang yang memiliki jiwa pejuang itu tidak takut fitnah dan olokan karena lebih takut jika mati tidak selamat.

Pola Tatanan Sehat dan Amanah, pemberdayaan bukan berarti tidak menghitung untung rugi, namun tidak berorientasi pada materi. —


Oleh : Imam JATAYU Jamaah AnNubuwah – Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung Alfaqiri Abdullah (Kyai Tanjung)
Penulis : Uswatun Khasanah
Penyunting : Jarwo
Ilustrator  : Bambang Wahyu HD

 

Video selengkapnya –>

Part 1

Part 2

Part 3

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here