JAMINAN ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG BERIMAN BERTAQWANYA BENAR DAN DIBENARKAN OLEH-NYA.

0
1914
views

Sebagaimana telah sangat sering dijelaskan bahwa iman yang benar dihadapan Allah adalah ma’rifatun wa tashdiqun. Seyakinnya mengenal dan mengetahui diriNya Zat Ilaahi Zat Yang Al-Ghayb di dalam rasa hati lalu hanya ini yang selalu ditetapkan dengan cara senantiasa diingat-ingat dan dihayati dan dijadikan tujuan tempat kembali (makna kalimah itsbat Illallah). Sebab semua apa saja termasuk wujud jiwaraga manusia sebenarnya adalah hijab yang harus diperjuangkan untuk dinafikan (makna kalimah nafi: Laailaaha). Kulu syaiin halikun illa wajhahu. Dzaalika bi annallaha huwa Al Haqqu wa anna maa yad’uuna min duunihi al baathil. (QS. Lukman 30). Artinya, yang demikian itu karena sesungguhnya Allah itu Huwa Al-haqqu, dan sesungguhnya apa saja yang diseru, disembah, diingat-ingat, dituju selain DiriNya Zat Yang Huwa Al-Haqqu (WangsitNya Guru), batal.

Watashdiqun, sebab Beriman yang secara benar dihadapan Allah harus membenarkan mengadanya seorang rasul yang keberadaannya ditengah-tengah umat yang dibimbingnya menjadi hak mutlaknya Junjungan Nabi Muhammad SAW Rasulullah. Sebagaimana maksud firmanNya: wamaa huwa ‘ala Al-Ghaybi bidhanin (QS : Takwir 24). ‘Alimu Al-Ghaybi falaa yudzhiru ‘ala Ghaybihi ahadan illa manirtadhaa min rasuulin…….(QS. Al-Jin 26) dan 27).

Menduga-duga saja mengenai DiriNya Ilaahi Zat Al Ghayb yang sangat dekat sekali didalam rasa hati oleh Allah benar-benar dianggap kufur.

 (QS. Saba’ 53).

Resikonya sangat mengerikan sebagaimana firmannya :

(QS. Saba’ 51).

Dan (alangkah hebatnya) jikalau kamu melihat ketika mereka (orang-orang yang hanya menduga-duga saja DiriNya Ilaahi Yang Al-Ghayb dari tempat yang jauh) terperanjat ketakutan saat mati yang hanya sekali saja ditemui dan dirasakan) : maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (oleh wadya balanya iblis ke tempat sesat mereka). Dan di waktu itu mereka berteriak : kami beriman kepadaNya, bagaimanakah mereka dapat mencapai (benarnya beriman) dari tempat yang jauh ? Maka mengalami nasib yang hina sebagaimana para jin. An lau kaanu ya’lamuuna Al-Ghayba maa labitsuu fii al’adzaabi al muhiini. (QS. Saba’ 14). Artinya sekiranya mereka mengetahui (DiriNya Ilaahi Yang) Al-Ghayb tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.

Berimannya orang yang benar (ma’rifatun wa tashdiqun) adalah sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Ali Imran ayat 164 :

Artinya : Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman (nya secara benar telah ma’rifatun wa tashdiqun) ketika Allah mengutus dari kalangan mereka sendiri seorang rasul dari fitrah jati diri mereka sendiri (= Nur Muhammad) yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan rasul itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bertaqwanya orang-orang yang berimannya secara benar telah ma’rifatun wa tashdiqun di hadapan Allah, maka taqwanya adalah : mujtahidun fii ‘ibadatihi bi shidqin wa ikhlasin.

Yaitu bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya kepada Allah dengan benar dan ikhlas. Ibadah yang benar : Itba’ Wattabi’ sabiila man anaaba ilaiyya. (QS. Luqman 15). Itba’. kepada rasul yang tugas pokoknya sebagai Wasithah. Dan ikhlas oleh karena Allah dijadikan paham dan mengerti ajaran GuruNya (Wasithah) bahwa : Al ikhlashu sirri min sirri, istauda’tuhu qalba man uhibbu min ‘ibaadi. Ikhlas itu adalah rahasia rasa dari pada rahasia rasa yang merasakan indahnya mengingat-ingat dan menghayati Ada dan Wujud Diri-Ku  Yang Al-Ghayb itu didalam rasanya. Yang demikian itu hanya Aku letakkan di dalam hatinya orang yang Aku cintai dari antara hamba-hambaKu. (Firman Allah dengan susunan kalimat oleh Junjungan Nabi Muhammad SAW.)

Kemudian untuk menjadi hamba yang dicintai olehNya maka harus berusaha keras dan sungguh-sungguh mencintai Allah (sangat ditentang oleh nafsu manusia yang wujudnya nafsu adalah jiwaraganya).

Untuk mencintai Allah dan dicintai olehNya maka harus dengan sungguh-sungguh memahami firman Allah dalam QS. Ali Imran 31.

Qul, adalah fiil amar. Perintah Allah kepada hamba yang di utus, sekarang ini juga. Untuk percaya hal ini sungguh ditentang oleh nafsu dan watak akunya manusia. Inkuntum tuhibbunallah fattabi’uuni yuhbikumullah wa yaghfirlakum dzunuubakum. Wallahu ghafuurun rahiimun.

Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka itba’lah kepadaku. Adalah fiil amar. Perintah yang berlaku sekarang ini juga. Yuhbibkumullah wayaghfirlakum dzuunubakum. Yuhbibkumullah adalah fiil mudhare’ berlaku sekarang ini dan seterusnya, Allah akan lalu mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.

Beriman dan bertaqwa sebagaimana diataslah yang dijamin Allah pasti dibukakan berkah dari langit dan dari bumi. (……………) tetapi apabila benarnya beriman dan bertaqwa itu didustakan, maka yang diturunkan Allah adalah azab di sebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (memenuhi perintah nafsu dan watak akunya yang melebihi batas, memandang dirinya serba cukup. Karena itu abaa wastakbaraa. Dicipta Allah dari setetes mani akan tetapi ternyata hanya menjadi penentang yang terang-terangan terhadap seruan Allah dan rasulNya).

Imam Al-Qaim Al Mahdi yang diajarkan adalah petunjuk Allah tentang Al-kitab, Al-Hukmah dan An-Nubuwah. Senjatanya : Al Qur’an, Nubuwah dan Jamaah. Semua itu demi untuk mengembalikan Hak mutlakNya Allah Swt. Dan hak-hak Junjungan Nabi Muhammad SAW. Dan para penerusnya yang haq dan sah mewakili tugas dan kewajibannya sebagai Rasulullah pada tempatnya semula

Tanjung, 19 Juni 2007

IMAM

GERAKAN JAMAAH LIL-MUQORROBIN

MUHAMMAD MUNAWWAR AFANDI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here