SARASEHAN MEMBANGUN KESADARAN PENGHAMBAAN

0
486
views

KEMURNIAN – PEMURNIAN – DIMURNIKAN

GARUDA  PANCASILA

(upaya melakukan pemahaman, pendalaman, penghayatan dan pengamalan dalam kehidupan nyata)

Diberikan kepada

 “Jamaah” JATAYU (Jamaah Tatanan Wahyu)

Kami melakukan ini, setelah memperhatikan permintaan-permintaan dari beberapa kalangan yang mendatangi kami, yang bersilatur-rahmi di tempat kami atau saat kami bersilaturahmi ketempat mereka.

  • Keluhan-keluhan jamaah dan masyarakat terhadap kondisi situasi bangsa dan negara.
  • Keluhan-keluhan ditingkat level masyarakat akar rumput, masyarakat kecil dan menengah.
  • Diskusi-diskusi kecil dalam pembahasan mengenai IDEOLOGI GARUDA PANCASILA, dan terapannya.
  • Apa mungkin GARUDA PANCASILA diterapkan.
  • Dari hasil diskusi kecil dan memperhatikan mass media, terekam bahwa, ideologi pada fakta realitas belum pernah dapat dilakukan…..ini ada apa…??? dan kenapa…??
  • Kemudian saya cerita wasiat-wasiat dari Guru kami mengenai makna dan filosofinya, serta terapannya.

Kebanyakan dari usulan adalah membuat tulisan dan melakukan saresehan-saresehan. Dari seringnya jamaah dan masyarakat mengeluh, berdiskusi maka kami memberanikan diri menyampaikan secara terbuka sebagai “opsi” sikap yang selama ini telah kami lakukan, telah kami terapkan. Walau nyatanya setingkat kemampuan kami.

PREPOSISI:

TELAH KITA KETAHUI BERSAMA BAHWA, Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa, memang selalu terkendala. Kalau kita menengok sejarahnya semenjak proklamasi memang begitu adanya

Semenjak lahir pada 1945 sampai sekarang, Pancasila TAMPAK belum membumi secara ideal optimal di Indonesia. Dengan rentetan sebagai berikaut (sekilas):

I. Masa sejarah awal

Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), melakukan sidangnya yang berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan tentang “Dasar Negara” yang diberi nama Pancasila.

II. Periode 1945-1950

Tidak sempat/ tidak memungkinkan dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa KNIP diserahi kekuasaan legislatif, karena MPR dan DPR belum terbentuk. Tanggal 14 November 1945 dibentuk Kabinet Semi-Presidensiel (“Semi-Parlementer”) yang pertama, sehingga peristiwa ini merupakan perubahan sistem pemerintahan agar dianggap lebih demokratis. multipartai yang membawa arus liberalisme.

Telah terjadi agresi belanda 1 dan agresi Belanda 2.

Bersamaan pada 1948, sudah ada pemberontakan?????, yang puncaknya adalah PKI Madiun yang berusaha membawa Indonesia ke dalam komunisme.

Selanjutnya ada DI/TII yang hendak mendirikan negara Islam pada 1949.

Juga Periode berlakunya Konstitusi RIS . 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950

III. Periode UUDS 1950 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959

Pada periode UUDS 50 ini diberlakukan sistem Demokrasi Parlementer yang sering disebut Demokrasi Liberal. Pada periode ini pula kabinet selalu silih berganti, masing-masing partai lebih memperhatikan kepentingan partai atau golongannya.

IV. Periode 1960-1966, terjadi revolusioner dan peristiwa penggerogotan ideologi dan UUD 1945 yang pada puncaknya adalah peristiwa G30SPKI.

V. Pancasila, mulai diterapkan pada era Orde Baru, hanya saja pelaksanaannya normatif artifisial, belum menyentuh kejiwaan bangsa, dan diterapkan dalam suasana stabilitas yang sentralistik. Tidak membumi.

Dan sekaligus tahun 1988, puncak reformasi. Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945.

VI. Pada masa ini dikenal masa transisi. Yaitu masa sejak Presiden Soeharto digantikan oleh B.J.Habibie sampai dengan lepasnya Provinsi Timor Timur dari NKRI.

Kita memaklumi setiap kejadian chaos selalu ada unsur dan elemen:

Dalang, Penyusup, Yang disusupi, Pendana, yang memprovokasi, yang diprovokasi, yang terprovokasi, Ikut-ikutan keramaian, sekedar ikut-ikutan.

(kemungkinan) ada kelompok yang membawa kepentingan keinginan atas PERUBAHAN DAN PENGGEROGOTAN “IDEOLOGI” PELEMAHAN BAHKAN MENGGANTI IDEOLOGI PANCASILA atau bahkan MENGHILANGKAN.

Sampai-sampai budayawan nasional Anhar Gonggong, menantang atas pelaksanaan pancasila, dia mengatakan, “bukti Pancasila tersingkirkan bisa dilihat dalam kehidupan ekonomi dan politik”. Anhar mengatakan, “tidak ada rumusan yang bisa diikuti bagaimana Pancasila bisa menghadapi system ekonomi liberal saat ini. kita tak pernah bisa menemukan solusi untuk hal ini,” katanya.

Ia menantang pemikir dan pemerintah menemukan Pancasila sebagai system ekonomi dan politik yang bisa digunakan untuk menghadapai system liberal. Meski di dalam Pancasila sudah tersirat demokrasi ekonomi, (namun) system nyatanya belum ada.

APAKAH INI KENYATAAN ATAU KESALAHAN ATAU PELEMAHAN ATAU PENGGEROGOTAN ATAU KEPUTUSASAAN DAN KEMUSKILAN DITERPAKANNYA IDEOLOGI PANCASILA BAGI BANGSA INDONESIA… ADA APA SEBENARNYA!!???

IDEOLOGI

Dari sekian perdebatan sampai pada kesimpulannya:

Bahwa dari informasi yang kita terima dari berbagai sumber; berita, media sosial, TV, koran, internet majalah, tempat-tempat diskusi, kasak-kusuk, semua menyimpulkan

IDIOLOGI PANCASILA BELUM DITERAPAKAN SECARA MEMBUMI DALAM KEHIDUPAN NYATA MULAI DARI TINGKAT PEMERINTAH PUSAT SAMPAI PEMERINTAH RT, MULAI DARI PEJABAT TINGGI SAMPAI PEJABAT RENDAHAN, MULAI DARI PRESIDEN SAMPAI GELANDANGAN.

Kekuasaan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif yang dikombinasi dengan sistem presidensiil justru menjadikan pilar-pilar kekuasaan yang tidak saling menjaga dan menguatkan satu sama lain, berdiri sendiri-sendiri membela menara gadingnya sendiri, sehingga lupa diri bahwa keberadaanya adalah untuk bangsa dan negara yang ber-pancasila.

Dan TAMPAK SANGAT TIDAK PANCASILAIS. Terus apa yang mesti kita lakukan????

Dari permasalahan yang ada, yang semakin tidak menggambarkan ideologi BANGSA DAN NEGARA NKRI, kenapa setelah kemerdekaan samapi dengan sekarang ini tidak bisa diwujudkan DALAM TATANAN KEBANGSAAN DAN KENEGARAAN.

Sebenarnya ideologi GARUDA PANCASILA ini…………………

HASIL MIMPI…ATAU… HASIL LAMUNAN….. ATAU…… LEGENDA MASA LALU…. atau MITOS SEMATA, ATAU…. REALITAS KEHIDUAPAN masa lalu DAN BAGAIMANA MENERAPKAN DALAM KEHIDUPAN MASA KEKIKINIAN……!!!????

GARUDA ITU………… APA………?? ATAU SIAPA…..???

Namun demikian dengan optimisme, kita selalu memohon kepada Allah.

“Semoga Allah segera menganugerahkan kepada bangsa dan negara tercinta ini, terwujudnya kesatuan-persatuan bangsa, pada semua lapisan masyarakat, dan semua komponen dan terwujudnya respon, tanggap dan kepedulian yang tinggi diantara sesama warganya, diantara masyarakatnya, diantara umat-umat beragamanya, diantara suku bangsanya, diantara kita semua, apapun keyakinan dan kepercayaannya serta agamanya. Dan menghilangkan, menyingkirkan, menenggelamkan segala kebatilan, kelaliman, kedzaliman, kesemrawutan, dan kecarut-marutan, keradikalan dan ketidakadilan”

KITA MEMOHON KEPADA-NYA, MOHON PERRTOLONGAN DAN BELAS KASIHNYA, “Kita berdo’a sesuai dengan agama, keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, kita memohon sesuai dengan bahasa kita masing-masing. Berdo’a untuk ditegakkan Al-HaqNya, diwujudkan hak MutlakNya, dan hak-hak utusanNya, tegaknya Kebenaran adalah Al-Haq min robbika” ditampakkan kebenaran “Al-Haq min robbika”Nya dan keadilanNya, serta disingkirkan olehNya segala bentuk kebatilan-kedzaliman-kelaliman dari permukaan bumiNya, dan  semoga kita selalu dalam KasihNya, selalu ditunjukkan kedalam jalan-Nya..sehingga jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis dapat selamat kembali kepada-Nya… Aamiiin.

DALAM KEMURNIANYA JIKA, IDEOLOGI GARUDA-PANCASILA DITERAPKAN SESUAI DENGAN IDEALISMENYA MAKA;

  • MEREKA YANG KEHIDUPANNYA BERORIENTASI KEKUASAAN, KEKUATAN, MENUMPUK HARTA BENDA, DAN MENGANDALKAN EGO-KEAKUAN PASTI TERSINGKIR,
  • MEREKA YANG MASIH MEMBAWA KEPENTINGAN PRIBADI, KELUARGA, GOLONGAN PASTI TERMALUKAN,
  • MEREKA YANG MASIH BERPIKIR, BERTINDAK, BERPERILAKU FANATIK, BEKU, KULTUS, TERTUTUP, MERASA CUKUP PASTI TERBODOHKAN,
  • MEREKA YANG MASIH SUKA MENGOLOK-NGOLOK, MERASA TELAH BERADA DIDALAM AHLI SURGA-NYA, SEHINGGA MEMBID’AH-NYESATKAN YANG LAIN, PASTI HANCUR,
  • MEREKA YANG SUKA IRI, DENGKI, PRASANGKA, MERASA TERPANDAI AROGANSI AKADEMIK, AROGANSI KEPINTARAN SEHINGGA MERASA CUKUP, AROGANSI DARAH BIRU DAN KETURUNAN, AROGANSI KEHORMATAN JABATAN DUNIA PASTI MUSNAH.
  • MEREKA YANG TIDAK BISA SALING MENGHARGAI, TIDAK BISA SALING MENGHORMATI, TIDAK BISA SALING MEMAKLUMI, TIDAK BISA SALING MEMBANTU, TIDAK BISA SALING MERESPON DAN DAN TIDAK ADA KEPEDULIAN PASTI TERPINGGIRKAN,
  • MEREKA YANG BERORIENTASI KEBENDAAN MATERIALISTIK, SEKULER, LIBERAL DAN KAPITALIS PASTI LULUH LANTAK.

KEMURNIAN PEMURNIAN DIMURNIKAN, DARI: PITUTUR LUHUR; Dari WASIAT; dari LELUHUR, yang tersampaikan dari sebuah rantai “kesilsilahan” penggolowentahan tidak pernah terputus sama sekali.

KEMURNIAN-PEMURNIAN IDEOLOGI  GARUDA PANCASILA BAGI………. JATAYU (JAMAAH TATANAN WAHYU), DAN WARGA MASYARAKAT YANG MAU MURNI

MENUJU KEMERDEKAAN  SEJATI,  LAHIR DAN BATIN WUJUDKAN KEMURNIAN DALAM DIRI MENUJU TERWUJUDNYA BANGSA DAN NEGARA YANG BERJATI DIRI, BALDATUN TOYYIBATUN WARROBUN GHAFUR.

 

KITA SIMAK AGAMA SEPAK BOLA dulu.

BANDINGKAN DENGAN AGAMA SEPAK BOLA

Seperti permainan sepak bola, bedanya jumlah pemain. Kalau sepak bola 11 orang, KESEBELASAN.

sedang kalau “pemain” pemerintah tidak terbatas jumlahnya. Jumlah “pemain” disesuaikan kebutuhan. KEMASLAHATAN. Kalau sepak bola disebut pemain, kesebelasan. Kalau pemerintah disebut “aparatur” kemaslahatan.

Sekali lagi seperti halnya permainan sepak bola, untuk dapat mencapai tujuan kemenangan.

  • Mengetahui peta lokasi lawan, kekuatan lawan, tahu posisi lawan.
  • Mengetahui kekuatan dan kemampuan diri sendiri. Sadar kekuatan diri dan kekuatan tim.
  • Semakin jelas keberadaan lawan akan semakin mudah untuk memenangkan (aku-ku dimananya, diposisi mana jelas ke-akuannya)
  • Semakin diri kita dan tim kita tidak diketahui posisinya, semakin kabur bagi lawan maka semakin besar peluang untuk menang. (ketiadaan wujud aku, meninggalpun tidak masalah)
  • Saat diantara pemain tidak singkron, tentu………..
  • Saat pemain tidak rukun, tidak akur……….
  • Saat pemain salah pengertian………
  • Saat antar pemain tidak mau mengerti teman satu tim……..
  • Saat pemain tidak mau mengoper bola…………
  • Saat pemain karena ego ingin menggolkan sendiri……….
  • Saat pemain melakukan hanya untuk citra diri bukan tim………
  • Saat pemain riyak dan sum’ah….bola di drible sendiri………..
  • Saat pemain marah-marah dengan lawan………..
  • Saat pemain ngamuk dengan penonton………

Dan Kesuksan keberhasilan tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi “MENANG”. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah kesuksesan keberhasilan dalam permainan sepak bola, tergantung dari orientasi pemilik klub, orientasi diri masing-masing pemain, juga penonton serta serapan dana yang ingin diraih (investor dan sponsor). Pandang sudut mana yang akan ditetapkan sebagai niat dan tujuan klub sepakbola itu didirikan:

  • Selalu menang (sukses….????)
  • Menghibur estetika. (terhibur…..sukses…penonton )
  • Bisnis komersial (klub tidak terlilit hutang …….sukses…pemilik klub)
  • Memanfaatkan sumber daya (Pengkaderan dan perekruitan, cepat memanfaatkan pemain muda siap dijual. Keuntungan…sukses….pemilik klub)
  • Kualitas permainan, konsistensi (kerjasama tim, saling menyelami…sukses…pemain)
  • …..(pengelolaan, pendanaan, komunikasi… sukses…)
  • Kebersamaan sebagai satu tim, kerjasama tim (diluar permainan guyub…sukses…manajemen klub dan pemain)
  • Banyak job sponsor (sukses……individu pemain dan klub).
  • Dan lain sebagainya.

Penonton AKAN TERLIBAT JIKA ADA “PELUANG” “dilibatkan” atau jika ada kepentingan; peluang untuk menjadi pemicu kepositipan atau peluang untuk kenegatifan. peluang mengolok, peluang mengkritik bahkan terjadinya keusuhan PERKELAHIAN.

Dan jika pemain sudah tidak mengerti dan tidak memahami “nila-nilai” sepak bola, yang diukur terhadap “pengenalan” mengenai “jati diri” pemain dalam komunitas permainan, tidak mengerti dan memahami sesungguhnya maksud dari sebuah “sepakbola” tidak mau mengerti memahami dan menghayati serta menyadari dalam realitas “permainan” adalah permainan tidak akan pernah melebihi kandungan dalam makna kehidupan yang sesungguhnya maka akan berhenti pada gambling permainan judi, hanya akan digunakan untuk foya-foya dan hura-hura. Menumbuhkan suburnnya kehidupan hidonisme, akibatnya setelah dirinya terhadap masa permainan sepakbola selasai (kehidupan berdunia selesai) hanya akan terjadi penyesalan dan penyesalan.

Sebab saat tidak menyadari mengakibatkan tidak mengingat, saat bermain dalam arogansi kesombongan “lupa diri”. Arogansi jabatan, arogansi skill, arogansi materi, riya’, sum’ah, ujub dan takabur, lupa bahwa kesuksesan keberhasilan ditentukan oleh banyak faktor, elemen dan variabel yang ikut menentukan maka, amal pebuatan yang dilakukan akan menjadi sia-sia.

Demikian permisalan kehidupan “agama” sepak bola yang dianalogikan dalam kasunyatan kehidupan.

GAJAH SEPAK BOLA ????….. SEPAK BOLA GAJAH ???

Dan  gajah-gajah yang tidak mengetahui apapun…… namun dipaksa harus bermain untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Siapa yang sepakbola atau apa yang sepakbola?????

Pemain yang beriman itu

Pertama, terdaftar sebagai pemain kub yang bersangkutan, terikat janji kontrak pemain.

Kedua, saling mengenal diantara mereka. Semakin mengenal maka akan semakin baik dalam memahami, menjalani dan menghayatinya.

Ketiga, saling berintaraksi diantara mereka, berlatih bersama/berjamaah.

Keempat, taat, patuh dan tunduk dan loyalitas dengan klub.

Kelima, berlatih dan mendidik-didik diri terus supaya semakin berkembang, meningkat skill dan ketrampilannya.

Keenam, mengendalikan diri, berani mengakui diri dan orang lain, saling menghargai, saling menghormati.

Ketujuh, ber-anjang sana, melakukan pertandingan, reguler, persahabatan, dan kejuaran-kejuaran.

Dan Jika masa pakai jasanya telah habis maka ikhlas jika dilepas oleh klub

Pemain yang kafir, munafik, fasik itu

Pertama, pernah terdaftar dan belum selesai masa kontraknya… Sudah mbalelo, sudah mengatakan saya tidak pernah main untuk klub ini.

Kedua, tidak mau berinteraksi, suka menghujat klub dan sesama teman satu timnya.

Ketiga, tidak berlatih dengan sesama tim..malah berlatih dengan tim lain. Dan tidak pernah mau berlatih.

Keempat, tidak pernah taat, tidak patuh dan tidak tunduk dan tidak memiliki loyalitas dengan klub.

Kelima, karena beda warna kulit, beda negara (konflik rasis), tidak mau mengoper bola ke teman satu tim karena beda warna kulit.

Keenam, tidak pernah saling menghargai, saling menghormati, benturan terus dengan antar pemain.

Ketujuh, tidak pernah mau melakukan pertandingan, tapi minta dikasih GANJARAN DAN PAHALA terus (surgaNya siapa????).

Pemain yang kafir, munafik, fasik itu

TERTUTUP, FANATIK, BEKU, JUMUD, TA’ASUB, MERASA SUDAH MENJADI AHLI BUKU MENGENAI SEPAK BOLA, SEMUA BUKU PELAJARAN SEPAK BOLA SUDAH KEMPUT DIBACA. RUMANGSENE BENER TERUS, MERASA TELAH PALING PANDAI, PALING JAGO, KARENA DARAH BIRU, KARENA JABATAN TINGGI (KAPTEN), MERASA PENYERANG, SEHINGGA YANG LAINNYA DILECEHKAN!!!…. ………… SOOK AKU kalau MATI MASTI DIGAJI SAMA TUHAN BOLA……..!!!???????????. sebab kenyaatannya jika ada “pemain” yang bisa rumangsa memiliki kemungkinan besar untuk bisa lebih maju dari pada “pemain” yang rumangso bisa.

Sebab pemain yang “bisa rumengsa” berada dalam kesadaran “jembatan” transformasi berkemajuan sedang, pemain yang rumangsa bisa berarti telah menutup diri untuk belajar, dan saat menerapkan rumansa bisadan ternyata tidak dipilih oleh pelatih maka terjadilak konflik, baik konflik didalam diri; dengan marah, kecewa, putus asa dan dilampiaskan kepada yang lainnya yang menjadi konflik tim.

Sikap, sifat, perilaku akibat watak yang jumud (beku), ta’asub (fanatik), taklid buta (kultus sejarah, kultus keturunan, kultus golongan dan kultus-kultus yang lain) tanpa hujah nyata, maka akan sangat mudah berperilaku dalam keprasangkaan, kira-kira, tafsir-tafsir.

PADAHAL PRASANGKA TIDAK AKAN DAPAT MENYENTUH ALHAQ-NYA SEDIKITPUN.

Kembali ke GARUDA PANCASILA

JADI EMPRIT NDAK APA-APA SING PENTING GELEM SINAU DULU…….

Dewasa ini banyak kalangan yang membincangkan kembali relevansi Pancasila dengan kondisi bangsa saat ini. Pancasila kini mulai terpinggirkan dari kancah pergaulan kebangsaan dan imbasnya, mungkin saja akan tergantikan dengan ideologi lain. Hal itu tidak akan terjadi bila semua pihak dan segenap elemen bangsa, konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen sebagai dasar negara dan sebagai sumber hukum positif yang berlaku

Kemerdekaan yang salah dalam terapan kehidupan berbangsa dan bernegara ditandai dengan kebebasan disegala bidang, kebebasan tersebut diukur menurut ukuran nafsu dan benarnya akal pikiranya sendiri, tanpa memperhatikan keberadaan “jati diri” yang fitrah sehingga, dimanfaatkan  kelompok yang konservatif atau radikal. Kelompok-kelompok tersebut sekarang bebas untuk secara lantang atau secara sembunyi-sembunyi memperjuangkan kembali kepentingan politis dan ideologinya.

Ironisnya perjuangan besar itu bermuara pada obsesi mengganti….!!???? Pancasila sebagai ideologi..?? dan dasar negara Indonesia.

Banyak varian bentuk, ide, gagasan dan cita-cita yang dikembangkan dari obsesi kelompok tersebut. Varian tersebut antara lain pendirian Khilafah Islamiyah, pendirian negara Islam, pelaksanaan syariat Islam dan masih banyak lainya dan sebagainya-sebagainya.

Selanjutnya kelompok tersebut menganggap bahwa fanatisme golongan dalam segala varian bentuknya merupakan solusi atas segala problem yang ada.

Permasalahan yang menumpuk bagai seonggok kumpulan file yang satu masalah belum selesai muncul file baru yang semakin menumpuk dan semakin tidak tersentuh, problem berupa meluasnya krisis multi-dimensi. Krisis tersebut terjadi di bidang sosial, politik, ekonomi, kepemimpinan dan sebagainya.

Kondisi tersebut semakin melegitimasi obsesi mengganti Ideologi Pancasila, karena dianggap telah gagal membawa negara ini ke arah yang lebih baik.

Sekali lagi obsesi mengganti ideologi karena “dianggap”, hal ini adalah sebuah obsesi atau kenyataan. Fakta atau prasangka.

Dan lambang GARUDA dan IDEOLOGI PANCASILA ini sesungguhnya

HASIL MIMPI…ATAU… HASIL LAMUNAN….. ATAU…… LEGENDA MASA LALU…. atau MITOS SEMATA, ATAU…. REALITAS KEHIDUAPAN masa lalu DAN BAGAIMANA MENERAPKAN DALAM KEHIDUPAN MASA KEKIKINIAN……!!!????

GARUDA ITU………… APA………?? ATAU SIAPA…..???

Atau kita berani memposisi dalam wilayah “domain” ketidak berdayaan kesadaran al-insan, bahwa manusia tempatnya kurang, lemah tidak bisa apa-apa dan tidak ada apap-apanya, bisanya hanya membuat kesalahan dan dosa. Kesadaran “antumul fuqoro ila Allah”.

Sehingga, bisa jadi kita “menemukan” menuju jatidiri didalam keterbalikan pandang sudut.

YANG JELAS, YANG PERLU HARUS KITA KETAHUI..bersama yang mesti KITA SADARI…!!!

BAHWA,

PERMASALAHAN……BANGSA DAN NEGARA…!!!??
……ADALAH PERMASALAHAN KITA SEMUA!!!


KEMURNIAN DAN PEMURNIAN

NIAT HIJRAH DISERTAINYA realisasi TEKAD SUNGGUH-SUNGGUH pada aktifitas berdunia.

Niat:

  • Hijrah –> Allah dan utusanNya –> Allah dan UtusanNYa (lahir menjalankan kesungguhan realisasi aktifitas berdunia sesuai dengan bidang garapnya, niat didalam hatinya untuk penghambaan “wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin” dan kesadaran untuk membangun jiwa faqirnya, sehingga dalam bimbingan kebenaran bersolawat dalam Cahaya NurMuhammad)
  • Hijrah à dunia dan kebendaan à dunia dan kebendaan. (jika yang ditetapkan didalam hati adalah materi, perempuan, pasangan maka, perolehannya “hanya” atas apa yang ditetapkan didalam hatinya.

Niat hijrah yang “murni” dapat diwujudkan:

  • Kesadaran sesungguhnya yang dirasa wujud dan dirasa adaNya untuk ditetapkan didalam hati nurani adalah Diri Sang Mun’in, Sang Pemilik Pemberi nikmat yang dapatnya ditetapkan didalam hati Nurani, diingat-ingat untuk dzikrullah dengan mengingati Al-Ghayb-Nya, letaknya ditengah-tengah dada, maka dalam Cahaya-Nya.
  • Orientasi berdunia pada kemurnian; sadar lahiriyahnya di dunia, dengan menjalankan bersyareat, mengelola dunia dengan tatanan dunia, disertai kehati-hatian dan kewaspadaan, terhadap menyusupnya nafsu ego keakuan, nafsu ego kepentingan, kepentingan pribadi, keluarga, golongan dan kelompok. MEMAHASUCIKAN Keberadaan Dia Yang Allah (AsmaNya) Yang Ahad (Ahadiyah).
  • meMaha Sucikan Keberadaan Al-Ghaybullah ditetapkan didalam hati nurani, dzikrullah, menyingkirkan pikiran kotor dan membersihkan hati, serta menyingkirkan penyakit-penyakit hati dari dalam dadanya.
  • Niat yang telah ditetapkan didalam hati….disertai ikhtiyar usaha dengan bersungguh-sungguh dalam niatan membangun amal perbuatan “lakon” berdunia.

TUJUAN MURNI ADALAH “KESELAMATAN” LAHIR BATIN, DUNIA AKHERAT. SEHINGGA JIKA SEWAKTU-WAKTU MASA PAKAI JASAD HABIS DALAM KEBAHAGIAN, KETENTRAMAN DAN KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA.

Tujuan yang ditetapkan “mestilah” disertai cara/ methode, dengan cara-cara/ methode-methode yang sejalan dan benar.

Tujuan yang murni dapat diwujudkan:

  • Menempatkan kesadaran hamba dalam penghambaannya. Dengan kesadaran sebagai hamba maka, berperilaku dalam ikatan saling menghargai, saling menghormati, saling memaklumi, membangun guyub rukun, kebersamaan, kesatuan persatuan dalam keaneragaman perbedaan keyakinan, kepercayaan, kelompok dan agama karena hidup berada di dunia maka tatanan berdunia “muamalah” adalah kemestian.
  • Kesadaran “paradigma” atau pola pikir yang menyertai; MEMANUSIAKAN MANUSIA, menjadi manusia Islam kaafah!! Supaya tidak terjebak menjadi manusia kesyaitonan, atau manusia KEJINAN atau manusia kehewanan!!.
  • Mengenali alamat sasaran tujuan dan tidak dalam keraguan dan prasangka, serta mengenali jalannya, serta mengetahui methodenya.
  • Sadar terhadap keberadaan manusia dengan kehakekatannya. Dan dikenali kemanusiannya. Bahwa, manusia adalah makhluk spiritual, karena adanya hakekat fitrah manusia yang asal fitrah dari fitrah Allah Piyambak. Mengenali diri maka, mengenali Tuhannya
  • Methode atau cara ditempuh dengan selalu dalam kewaspadaan, berharap/ memohon, dengan perilaku istiqamah dan tumakninah
  • Bagai orang berkendara yang mengantarkan ketujuan pada suatu tempat, kendaraan adalah identik dengan raga/jasadnya, yang mengemudi adalah fitrahnya.
  • Methodenya dan cara menempuhnya mesti diketahui dan dikenali

Saat niatan kita (tampaknya) sudah benar namun sudahkah tekadnya sesuai dengan niatan tersebut.

Saat tujuan kita (tampaknya) sudah benar namun sudahkan metode/ tata caranya untuk mencapainya sudah sesuai dengan tujuan tersebut.

Bagai anak kecil yang terlatih berbicara, dan mahir meniru pembicaraan, kemudian anak itu dipentaskan, dipertandingkan dieksplorasi. Semua mengetahui dia belum baligh.

Bagai burung “Beo” yang terlatih berbicara dengan baiknya, bisa menirukan berbagai kalimat dan bahasa dan mengucapkan “assalamu’alaikum”,………..tahukan si burung maknanya?????

Niatannya hijrah kepada Allah dan kepada UtusanNya, tujuannya masuk surga. Sudahkah “tekad” menyertai hijrahnya. Dan sudahkah metodenya menunjukkan tujuan yang akan diraihnya.

Pemahaman menuju kesadaran

“KEMURNIAN-PEMURNIAN” GARUDHA-PANCASILA,

disampaikan sebagai

kelengkapan cakupan

pengamalan ke-tauhid-an

dengan Ilmu Nubuwah,

ilmu yang membuka hakekat jati diri

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

Membangkitkan kesadaran kebangsaan, BERBANGSA DAN BERNEGARA dalam ajaran Risalah Al-Kitab Al-Hikmah, dan An-Nubuwah.

Hal ini sungguh karena keadaan dan situasi, yang kami tangkap dan kami asumsikan mendesak dan “terasa” terpaksa oleh panggilan tanda-tanda zaman sebagai bagian dari ayat-ayat Allah, yang sering di dhawuhkan oleh Guru kami, (alm) almaghfurllah, Mbah K.H. Muhammad Munawwar Abdullah Afandi, dari gurunya, dan gurunya dari gurunya pula terus dalam mata rantai silsilah yang tidak pernah terputus, dan sampai kepada kami sehingga dengan berat hati dan dengan memaksa diri, semoga memang sudah “sangat” (dalam Kehendak Allah)

Pertama, “KEPRIHATINAN” dekadensi moralitas, mentalitas, pada (menuju) titik nadir, titik terendah.

Kedua, “KEPRIHATINAN” oleh situasi dan keadaan yang saat ini sangat menegangkan dan mencengangkan, serta mengkhawatirkan pada tingkatan disemua level dan sektor, tidak ada rasa nyaman, dan kedamaian.

Ketiga, “KEPRIHATINAN” oleh tanda-tanda alam yang tampaknya juga mengarah kepada semakin mendekati “goro-goro”, revolusi total, sunnatul awwalin, dengan memperhatikan semakin meningkatknya bencana dimana-mana

Keempat, “KEPRIHATINAN” terhadap semakin suburnya, watak, sifat, karakter jumud atau beku, benarnya menurut diri sendiri dan golongannya atau kelompoknya, dan ta’asub atau fanatik, serta ananiyah, ago kepentingan diri dan golongan

Kelima, “KEPRIHATINAN” terhadap pengelolaan dan kemanajeman pada semua sektor di semua level tingkatan yang hanya menjaga menara gadingnya sendiri-sendiri.

SEMUA BENTUK KEPRIHATINAN TERSEBUT AKIBAT

Disadari ataupun tidak disadari, diakuai ataupun tidak diakui “paradigma” sebagai pandang sudut sistem dan pengelolaan yang dibangun adalah paradigma: kapitalis, liberalis, sekularis, materialis, (bahkan) komunis.

AKIBATNYA!!!!!!!

MUNGKINKAH KUWALAT…..?????!!!!!

KARENA APA…..????

SAMA SIAPA…..??????

DAN DI ZAMAN APA, SIAPA DAN KAPAN…..??????

 

WUJUDKAN KEMURNIAN

DEMI KEMERDEKAAN  SEJATI,  LAHIR DAN BATIN

BANGSA DAN NEGARA YANG BERJATI DIRI, BALDATUN TOYYIBATUN WARROBUN GHAFUR. Negara yang tata titi tentrem karta raharja, negara yang penuh dengan ampunan-Nya.

UNTUK  HAL “kenyataan realitas” ITU,
KOMUNITAS JATAYU,
BERSAMA MASYARAKAT
YANG MAU, YANG PEDULI

KEMURNIAN-PEMURNIAN
UNTUK MAHAMI, MENGHAYATI DAN MENGAMALKAN
SEHINGGA MENJADI BAGIAN DARI PENGALAMAN HIDUP

Bagaimana dengan sistem pemerintahan?? Apa ukuran keberhasilannya???

Sistem pemerintahan, terwujudnya:

  • Pelaku dan Mendorong terciptanya kehidupan ikatan yang harmonis, ikatan pasrtisipasi dan kepedulian yang selaras, serasi, seimbang dalam ranah-ranah ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan persatuan, kerakyatan dan keadilan dalam membangun mengenai pengenalan diri sebagai “jembatan” keselamatan dengan kesadaran spiritualitas bagi warganya.
  • Pengelolaan sumber daya-sumber daya dan optimalisasinya, sumber daya berbagai sektor dan bidang-bidang strategis untuk mengembangkan, meningkatkan fasilitas bagi kehidupan warga dan lingkungan masyarakat.
  • Pelaku dan Mendorong terciptanya Kedaulatan dan keutuhan, kerukunan dan kesatuan-persatuan.
  • Pelaku dan Mendorong terciptanya Kedamaian, kenyamanan dalam kehidupan sosial masyarakat bagi penduduknya
  • Mewujudkan terciptanya Kenyamanan pemeluk keyakinan beragama dalam melakukan ibadah ritualitasnya
  • Pelaku dan Mendorong terciptanya stabilitas yang terjaga bersama wujud kokohnya kesatuan persatuan yakni keutuhan yang nyata dalam berbagai dimensi kehidupan.
  • Memfasilitasi mendorong memajukan bagi rakyatnya dalam lapangan pekerjaan dan kemandirian.
  • Terwujudnya perilaku saling menghargai, saling menghormati, saling memaklumi dan saling berkepedulian.
  • Pemerintah daerah harus mampu mendorong masyarakat agar memiliki kemauan untuk berperan serta dalam kegiatan pembangunan
  • Terwujudnya Struktur, hirarki dan birokrasi (ranah pengorganisasian) yang memberikan kontribusi dan partisipasi serta peduli terhadap terciptanya bangunan kekeluargaan, kebersamaan, kekeluargaan, terwujudnya perilaku karakter moralitas dan mentalitas yang memanusiakan manusia seutuhnya.
  • Membangun kepedulian di semua level pada tingkat kehidupan dan antar wilayah; antar warga masyarakat, antar rumah tangga, antar desa/kelurahan, antar wilayah daerah, antar keyakinan, antar lintas agama, antar lintas organisasi, antar propinsi, antar pulau.

KEPEMIMPINAN: Memerlukan pemimpin!!! Yang GARUDA PANCASILA sbb:

  • Pemimpin yang mengerti, mengenali, dan menghayati serta mengamalkan prinsip-prinsip dasar falsafah dan jiwa ideologi GARUDA PANCASILA, artinya bahwa seorang pemimpin harus jelas beragamanya,
  • Pemimpin yang memahami, mengenali, dan menghayati agamanya dengan baik dan benar dan dibenarkan.
  • Pemimpin dalam perilaku beragama yang taat baik dalam hal ritualitasnya dan yang muamalahnya.

(contoh) Pemimpin dengan latar belakang dari jalur islam maka, dengan indikator-indikator: taat syareat (rukun Islam), memahami menghayati keimanan dengan baik dan benar (rukun Iman), serta berperilaku utuh rukun ikhsan (muamalah penghamba ditengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. taat syareat, menghayati keimanan dan ke-ikhsanan bukan dalam pengertian teks dan konsep superfisial. Bukan seperti anak kecil yang memahami islam sebagai “MATA PELAJARAN”. Bisa menguraikan dan mendifinisikan apa itu sholat apa itu puasa namun, tidak pernah menjalankan.

  • Mengetahui dan memahami arti kehidupan, untuk apa kita hidup, kenapa kita hidup, bagaimana kita hidup dan kenapa kita (mesti) mati, kemana setelah kematian, Mengetahui arah dan tujuan kehidupan. Hal ini supaya tidak dalam perilaku “permukaan” dan pencitraan-pencitraan.
  • Mengetahui dan mengenali permasalahan-permasalahan sosial, kemasyarakatan baik dalam ranah perspektif yang bersifat aksioma (supaya mempredikisi kemjungkinan-kemungkinan) dan secara data serta statistik.
  • Pandai mengadili diri sendiri, evaluasi diri, koreksi diri sehingga, hukum dijalankan dengan moralitas akhlak dan adab, unsur kemanusiaan, bahkan profetis.
  • Mengetahui dan mengenali cara-cara melakukan toleransi.
  • Perilaku keteladanan dan Mendorong, memotivasi menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya.
  • Mengetahui cara-cara methode penyatuan pemikiran dalam musyawarah
  • Mengetahui dan mengenali tujuan inti hidup dalam kehidupan manusia seutuhnya

Jadi seorang pemimpin (sepertinya)

adalah (menggambarkan):

  • Merupakan wakil dari perilaku, toleransi sikap, watak karakter dalam berpegang pada keyakinannya.
  • Merupakan wakil dari perilaku guyub-rukun, respon, tanggap dan berkepedulian dalam kehidupan bersosial kemasyarakatannya.
  • Merupakan wakil dari perilaku saling menghargainya, saling menghormatinya, sikap maklumnya dalam interaksi sebagai individu yang hidup ditengah-tengah masyarakat.
  • Merupakan wakil dari harmonisasi, keserasian, keselaransan dan keseimbangan lingkungan sosial kemasyarakatannya
  • Merupakan wakil dari perilaku uswah darma; perilaku ketedanan dan membangun, mengembangkan, meningkatkan kesadaran: ‘spiritualitas kemanusiaannya’, ‘sosial masyarakatnya’, dan ‘ilmu pengetahuan serta teknologi dan alat mediator perkembangannya’.
  • Merupakan wakil dari profesionalisme bidang pekerjaannya.

Merupakan wakil dari skill, ketrampilan, kreatifitas, dan inovasi berkemajuannya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” Q.S Ahzab 72.

Amanat” yang dimaksud dalam ayat tersebut diatas adalah bukan sekedar tertib dalam melakukan pengelolaan manajemen dan administrasi dengan sikap ikhlas, jujur, adil, tidak korupsi, kolusi dan notisme…..bukan. NAMUN, AMANAT dalam pengertian apapun akifitas yang dilakukan dalam penyelengggaraan “PENGELOLAAN” adalah dalam kesadaran hamba, kesadaran asal-usul kejadian dari Diri yang Satu dari Diri Tuhan Sendiri dan dalam pengelolaan berdunia yang dilakukan supaya di gunakan sesuai dengan Kehendak-Nya yaitu untuk “subhanaka” guna meMahaSucikan Allah supaya jika sewaktu-waktu masa pakai jasad habis selamat kembali kepada-Nya. Maka jujur, adil, tidak korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi otomatis, karena sadar diri sebagai hamba butuh lakon berdunia untuk ibadah supaya dalam amanah.

IDEOLOGI GARUDA PANCASILA

Kemudian mengenai ke-GARUDHA-AN DAN KE-PANCASILA-AN, dalam kemurnian-pemurniannya, dari perspektif hal yang “esensi” yang berpengaruh pada perilaku ketuhanan pada ranah keselamatan, ke-imanan dan ke-ikhsanan.

Keberanian untuk menyampaikan “sekali lagi” dikarenakan kondisi dan situasi yang tanda-tandanya tampak sekali menuju semakin carut marut dan semakin tidak terkendali bahkan bisa terjebak dalam situasi pada kerusuhan atau chaos, BAHKAN!!!! goro-goro. Goro-goro adalah revolusi total.

IDEOLOGI GARUDA PANCASILA YANG BELUM (PERNAH) MEMBUMI DI INDONESIA

Keberanian melihat fakta sejarah terhadap berlakunya ideologi GARUDA PANCASILA. Berani melepas atas segala sikap, watak dan perilaku nafsu ke-egoan pada “apapun”, sebab-akibat “bagaimanapun” sebagai “siapapun” bahkan, fakta sejarah IDEOLOGI GARUDA PANCASILA belum tersentuh kedalamannya, belum membumi, belum menjadi orientasi hidup sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara bahkan sejak diproklamirkan pada tahun 1945.

MEMBANGUN MINDSET  IDEOLOGI GARUDA PANCASILA

Keberanian merubah mindset mengenai diri demi keselamatan lahir dan batin, keberanian melihat jatidiri manusianya, menuju jatidri bangsa dan negaranya. Sehingga tidak terjebak kedalam simbol-simbol, legenda-legenda, atribut-atribut plakat-plakat dan lain sebagainya.

BERJATI DIRI GARUDA PANCASILA

GARUDA PANCASILA sebagai ideologi adalah keseriusan, bukan permainan yang bisa dijadikan “dolanan” game. Ideologi menyangkut arah hidup, keyakinan bahkan, ke-imanan. Hal ini tentu berpangaruh terhadap kehidupan bagi pemeluk agama dan keyakinan.

Seberapa kuat dan besar dalam mendukung keimanan bagi pelaku penganut agama. mendukung terwujudnya kehidupan beragama yang harmonis, bagaimana cara dan methodenya. atau justru adakah pertentangannya, jika ada bertentangan dimananya dan jika sejalan dan, jadi memerlukan kontemplasi (jw. Jlimeti) menyeluruh, tidak sekedar artikulasi supervisial.

GARUDA PANCASILA SEBAGAI JEMBATAN

JEMBATAN pengenalan “siapa” sesungguhnya manusia seutuhnya, apa dan siapa itu manusia. Bagaimana masing-masing individu dari setiap dari diri  untuk dapat mengetahui diri manusia seutuhnya, jati diri secara diri yang ranah  lahir dan secara hakekat diri yang ranah batin.

JEMBATAN yang “membuka” menuju kesadaran penciptaan mengadanya manusia seutuhnya, Sesungguhnya manusia ini disusun atas “jladren” ranah “tlatah” apa saja, supaya dapat di identifikasi unsur kejadiannya,

Sehingga perilaku “apa, bagaimana, kenapa, untuk apa” dalam menjalani hidup dan kehidupan dalam berdunia dapat tepat sasaran, dan menyelamatkan.

Usaha “jlimeti” (kontemplasi) atas pemahaman pada kesadaran mengenai diri, “mengenal” diri, individu yang berjati diri karena mengenal hakekat kedirian, ini akan sangat berpengaruh langsung dalam kedaulatan kesatuan persatuan Indonesia, pada ranah ke-nusantara-an terhadap jati diri bangsa dan negara, juga terhadap sistem pengelolaan bangsa dan negara tercinta kita semua

Keberanian membangun Jembatan yang akan membuka “jati diri” dan kehakekatannya serta menghantarkan kepada terwujudnya cita-cita menjadi negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghafur, dengan memurnikan, kemurnian dan pemurnian paradigma GARUDA dan PANCASILA

Sebab, Saat idiologi kurang atau tidak memperhatikan elemen ruhaniyahnya dan tidak menyentuh hal  yang esensial yang bersifat inti dan tidak membuka hal yang mendasar perihal ketuhanan dan tidak menyentuh kemanusiaannya sebagai karakter yang diterapkan kehidupan bersosial dan bermasyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka nusantara berkemajuan menjadi sesuatu yang muskil untuk diwujudkan kecuali hanya superfisial, tampak permukaan saja, tidak menyentuh kedalamannya dan hanya akan terjadi manipulasi pemikiran dan tindakan serta terjadi penyimpangan pemahaman dan distorsi pengamalannya.

Dan selama ini dalam perjalanan sejarah ideologi pancasila memang di gunakan sebagai “artikulasi kepentingan gerakan/organisasi” semata.

 GARUDA PANCASILA
MEWUJUDKAN KEMERDEKAAN SEJATI

Hal yang mesti dilakukan dengan maksud pemurnian Ke-GARUDHA-an dan ke-PANCASILA-an supaya dapat diwujudkan dalam ranah “kontekstualisasi, dan pembumian makna kemerdekaan, yang masih berhenti pada dimensi kemerdekaan lahir, perjuangan ini harus dilanjutkan untuk mewujudkan kemerdekaan dimensi batin sehingga makna “kemerdekaan” menjadi utuh komprehensif dan massif yakni terwujudnya KEMERDEKAAN LAHIR dan BATIN

GARUDA PANCASILA
DALAM MELANGGENGKAN DZIKRULLAH

Tidakkah semua agama mengajarkan tentramnya hati adalah dengan mengingat Tuhan jika, kita berada didalam Tuhan jika, kita bersama dengan tuhan, jika kita menuju kepada Tuhan artinya, menuju untuk mendekati kepada KeberadaanNya hingga mengenali-Nya. “ingatlah hanya ingat kepada Allah (didalam rasa hati nurani) maka hati menjadi tentram”

Jembatannya adalah mengenal diri Sendiri, kenali hakekat fitrah manusia sebagai intinya. GARUDA PANCASILA adalah ideologi kemurnian untuk mengenali supaya “berjati diri”.

GARUDA PANCASILA SEBAGAI JEMBATAN TERWUJUDNYA CITA-CITA LELUHUR DAN PENDAHULU, SESUNGGUHNYA ADALAH WUJUD CITA-CITA SETIAP INDIVIDU BAGI WARGA NEGARANYA

Jika kita menyimak dan memperhatikan atas cita-cita Bangsa dan Negara ini oleh leluhur, baik saat jauh sebelum kemerdekaan, menjelang kemerdekaan pun saat setelah bangsa dan negara ini menjadi nama Indonesia, jika kita jlimeti kita gali, kita telaah adalah terwujudnya negara yang merdeka sejati, merdeka lahir dan merdeka batin, kemerdekaan yang sesungguhnya.

Bangsa dan negara yang terbebas dari segala bentuk penjajahan lahiriyah dari bangsa apapun dan dari arah manapun bangsa manapun, dan terbebas dari segala bentuk penjajahan nafsu ego kepentingan pribadi, golongan, dan partai apapun dan siapapun, golongan apapun dan partai apapun, terbebas dari nafsu ego keakuan kepentingan, kelompok bahkan kepartaian

Cita-cita selanjutnya adalah bangsa dan negara yang tata titi tentram karta raharja, bangsa yang penuh dengan kedamaian, kesejukan, kenyamanan dan sejahtera rakyatnya dan masyarakat yang harmonis, penuh dengan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan dan gotong royong.

Kedua hal diatas guna mewujudkan “bangsa dan negara yang baldatun toyyibatun warrobun ghafur”, sebuah bangsa dan negara yang gemah ripah loh jinawi penuh dengan ampunan Allah.

GARUDA PANCASILA yang telah diproklamirkan pada kemerdekaan, 17 Agustus 1945, 17-8-45. Yang telah direkam pada bulu-bulu GARUDA, hal ini adalah angka filosofis atas perwujudan kemerdekaan, yang memiliki makna mewujudkan kesadaran kemerdekaan yang membebaskan dari penjajahan lahiriyah dan (mestinya diteruskan) kemerdekaan yang sejati murni, kemerdekaan yang sesungguhnya merdeka lahir dan merdeka batin.

GARUDA
DARI MASA KE MASA

GARUDA dikenal dalam epos Ramayana dan Mahabarata sebagai kendaraannya Wisnu. Dalam banyak kisah Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, Garuda dimuliakan sebagai “Tuan segala makhluk yang dapat terbang” dan “Raja agung para burung”. Di Bali ia biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap, dan cakar elang, tetapi memiliki tubuh dan lengan manusia

GARUDA yang dalam legenda nenek moyang dan pewayangan dalam epos masa lalu sebagai legenda adalah fenomena-fenomena yang menyertai perjalan kisah-kisah GARUDA dengan kehakekatannya, dan di bumi Nusantara beberapa kali muncul sebagai baik, sekedar sebagai “simbol” atau sebagai “panuntun” tata-nilai moral pada kerajaan-kerajaan masa lalu.

Banyak candi-candi nusantara bercerita mengenai GARUDA, dalam bentuk gambar. MANUSIA BERSAYAP

LEGENDA ATAU KENYATAAN. MIMPI ATAU REALISASI.
BAGAIMANA KALAU TERNYATA “IMPIAN”…… APA MUNGKIN DIREALISASIKAN MENJADI “IDEOLOGI” BANGSA DAN NEGARA

GARUDA DARI MASA KE MASA

DARI Guru kami penjelasan dari Gurunya pula terus keatas bahwa GARUDA itu awal pengertiannya adalah “SESEORANG”. Seseorang yang memiliki tekad yang kuat mewujudkan niatan dan tujuan “keselamatan, dan terwujudnya kemerdekaan sejati, merdeka lahir dan batin sehingga didalam kedamaian, ketentraman dan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Seseorang yang membelah dadanya artinya “JIHADUNNAFSI” memerangi nafsunya sendiri, supaya patuh dan tunduk dijadikan kendaraannya hati nurani, ruh dan rasa kembali pulang kepada Yang Maha Esa. NYIGAR JERU DADA.

Seseorang yang memiliki peringai sifat, sikap dengan berkarakter 5 sifat yang menyertai sebagai perilaku uswah darma.

Sekilas Mengenai Penulis.

Penulis, Muhammad Dzoharul Arifin Alfaqiri bin Munawaar Abdullah Afandi, (Kyai Tanjung) adalah bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Sungguh merupakan menusia wantah, normal dan lemah, tidak bisa apa, tidak ada apa-apanya, tempatnya salah, kurang dan bisanya hanya membuat dosa.

Saya (penulis) sadar-sesadar-sadarnya, bahwa sesungguhnya saya tidak layak dan tidak pantas menyandang predikat kyai, hanya karena memimpin sebuah pondhok Pesantran POMOSDA dan Jamaah Lil-Muqorobin (JAMAAH JATAYU), hal ini dikarenakan saya hanya “sak dermo menjalankan Dhawuh Guru saya, (alm) Mbah Kyai Haji Muhammad Munawwar Abdullah Afandi, tidak pantas dan tidak layak karena:

  1. Dilihat dari pandang sudut kepesantrenan saya tidak memiliki latar belakang pondok dipesantren teretentu.
  2. Dilihat dari pandang sudut akademik, tidak memiliki latar pendidikan yang layak dan pantas, karena tidak memiliki latar belakang pendidikan apapun.
  3. Dilihat dari birokrasi, dan perpolitikan, serta ke-organisasian (ORMAS) sama sekali tidak pernah memiliki latar belakang dan pengalaman dalam dunia politik dan kenegaraan, dan keorgansisasian.
  4. Jika saya sebutkan satu-persatu tidak ada satupun yang bisa dihaturkan pada berkatagori layak dan pantas sebagai penyampai, dan saya sangat sadar akan hal ini, namun hanya karena nuhoni dhawuh Guru kami, untuk menyampaikan maka kami sampaikan sekedar yang kami ketahui (semoga dalam ridho dan maghfirahnya), mencuplik kalimat Guru kami, “sampaikan, sing penting nyampekne, ojo mikir diterima atau tidak, dipercoyo opo ora, kuwi dudu wilayahmu, Sing penting ojo ngaku, ojo diaku, wong nyoto sing iso, sing obah, ki ya Pengeran dhewe, ‘laa haula wala quwwata illah billah’, kowe wujud kok aku wujud. Kowe menyampaikan kok aku kuwi isamu, kuwi dosa kang gedhe, hananging yen ora nyampaikake kowe ugo dosa, wis milih sing ngendi wis mongso borongo”

Saat saya sekolah, pada tahun 1996, ditengah perjalanan ditimbali/dipanggil untuk mesti pulang, untuk membantu bapak (Mbah Kyai Munawwar Abdullah Afandi), untuk mulai ikut terlibat di manajemen pesantren POMOSDA dan di jamaah Lil-Muqorrobin (GERJALIBIN), dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Di tahun 2008, mbah kyai mulai sering gerah (sakit), sehingga saya sering didhawuhi untuk mengganti mengaji pada jamaah Lil-Muqorrobin (jamaah ini adalah jamaah tauhid ilmu Syatoriyah, yang lebih dikenal dengan tariqah Syatoriyah), dan ditahun 2009 bapak mulai dhawuh mewakili “menunjukkan” Al-Ghaybullah, “Alimul Ghoibi” ilmu yang menunjukkan keberadaan Diri Dzatullah bagi calon jamaah yang meminta ilmu dengan methode inisiasi bisik (lebih dikenal dengan “BAI’AH” persaksian), dan ditahun 2012 pada tanggal 5 Agustus bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, Bapak, yang sekaligus Guru kami meninggal Dunia, pulang ke Rahmatullah.

Mengenai baiah dan persaksian.

Bai’ah persaksian adalah Ikatan janji “persaksian”, “(ikatan) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (tidak mengatahui bahwa ikatan itu adalah “persaksian” sehingga mengenali Keberadaan-Nya, Yang Al-Ghayb Yang Allah Nama-Nya) (QS. Ruum 6)

Didalam Q.S Fath 10, di firmankan bahwa bai’ah adalah kemutlakan, supaya dalam ikatan persaksian dan kasunyatan “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu (kaf-nya ini adalah bermuwajahah, artinya berhadpap-hadapan) sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (QS. Fath 10)

Mbah K.H. Muhammad Munawaar Abdullah Afandi, almaghfurllah, memberi wasiat, bahwa Ilmu Tauhid yang kemudian disebut dengan Ilmu Tauhid Syatoriyah “proses” keabsahan hak dan sah dalam gilir gumanti adalah dalam mata rantai silsilah “gulowentah” artinya atas Kehendak Allah Piyambak, tidak dalam rekayasa akal pikiran manusia, bukan hasil kesepakatan manusia namun jelas dan terwoco antara Guru yang menunjuk yang melanjutkan dan yang akan ditunjuk yang nantinya akan melanjutkan pasti pernah hidup bersama dalam kurun waktu yang sama dalam satu waktu dan pasti pernah kedhawuhan mewakili tugas-tugas Gurunya, dan ini pasti tidak sebentar bahkan tahun-tahunan, INI ADALAH “GULOWENTAH”. seperti halnya KN Muhammad kepada Sayyidina Ali (mohon untuk tidak difahami Syi’ah, sebab ilmu ini dan kami sama sekali tidak berkaitan dengan syi’ah, syiah adalah golongan kelompok karena sisi lahiriyah sedang di kami adalah sisi ke-ilmuan “ketauhidan). Sama sekali tidak berorientasi kepada kekuatan dan kekuasaan pemerintahan, namun berorientasi dalam PERSAKSIAN dan KESELAMATAN.

Dan sungguh selama kedhawuhan saya tidak pernah berpikir kalau hal apa yang dilakukan bapak (maghfurllah Mbah Kyai Munawwar Abdullah Afandi) kepada saya adalah “proses” Gulowentah, sampai pada tahun 2012 bulan maret, bapak merekam “inti” makna dan maksud gulowentah tersebut, bagian dari ilmu kasunyatan.

Dan pada bulan Juli akhir mulai wasiat-wasiat, yang saat itu saya sangat sadar-sesadar-sadaranya bahwa, saya sangat tidak layak, tidak pantas, sebab banyak murid beliau (perlu diketahui bahwa keberlangsungan Ilmu Tauhid Syatoriyah belum tentu putra darah daging kulit yang digulowentah, semuanya atas Kehendak Allah, tidak ada unsur campur tangan manusia siapa yang akan melanjutkan nantinya dan siapanya yang akan berada dalam rantai silsilah gulowentah) dan juga beberapa paman, baik secara akademik dan kepesantrenan jauh lebih layak dari saya.

Sehingga saat mBah kyai Munawwar Abdullah Afandi “ngendikan”, “kowe kudu wani rekoso lan kangelan, ojo wedi loro lopo, sing tatag, sing teteg, sing lugas lan tegas, iki wis sangat titi wanci bukak, namun jangan sampai berani ngaku, sebab kowe ki ya tetep ‘murid’ sing kedhawuhan mewakili aku, koyo dene aku mewakili Mbah Kyai Muhammad Khusnun Malibari, yen kowe wani ngaku sak gedhe-gedhen dosa, malah dadi murtad, neroko jahanam disik dhewe, wis titi wanci sangat untuk memberi tahu, menginformasikan mengenai “kebenaran yang tersembunyi yang selama ini dipingit dan telah dianggap hilang, sampaikan kebenaran ini semampumu, mengenai diterima atau tidak, itu berkaitan dengan ‘hidayah’ milik Allah, ojo nganti dadekake pegelmu, lan susahmu, kudu tansah nyegara lan lapang dada, dan penuh dengan permakluman bahwa, mesti tetep harus berbaik dan menanamkan kebaikan dengan siapapun, golongan apapun, aliran apapun, agama apapun, bab dunia dengan segala tatanannya adalah wilayah syareat, mati sendiri-sendiri, selamat sendiri-sendiri” Pengeran Sendiri yang membuat keputusan.

Sungguh “demi Allah” demi yang kepala dan embun-mbunan “kulo” dalam genggamanNya, saya sempat “matur” kebaratan karena saya tidak memiliki latar belakang “apapun” untuk mendukung seperti apa yang “beliau” ngendikak-ake tersebut dalam poin diatas, sampai pada titik “penegasan”, sambil ngendikan, “ora iso opo-opo, ora dhewe opo-opo, ora dhuwe latar belakang opo-opo malah gampang anggone nafi’ake lan gampang anggone deleh (meletakkan) akunya, wis lakonono, sak dermo ngakoni, dilakoni tandange panggah ning ora wani ngaku, mongso borongo!!” akhirnya saya hanya menjawab, “DALEM TANSAH NYUWUN PANGESTUNIPUN”.

Untuk hal semua tersebut, mohon maaf, mohon dimaklumi atas segala hal yang tersampaikan ini kepada pembaca atas hal poin-poin diatas yang saya haturkan, sungguh saya hanya sak dermo. Setelah memperhatikan keprihatinan keadaan dan situasi bangsa dan negara yang tampak “menuju” carut marut, semrawut dan setelah melihat perkembangan-perkembangan dan kondisi saat ini yang memerlukan langkah-langkah semua komponen dalam membangun kebersamaan, kekeluargaan, kesatuan persatuan bangsa maka, dengan keterbatasan diatas ketidak-layakan dan ketidak pantasan, kami  melakukan partisipasi “kepedulian” semoga dalam ridha Allah, dan dalam maghfirahNya.

Kemudian dengan ini mengucap “bismillah tawakkaltu ‘alaallah, laa haula walaa quwwata illa billah” bagian dari “sak dermo” menyampaikan maka kami akan menyampaikan mengenai “kepancasilaan” dan kegarudaan” dalam terapan kehidupan sehari-hari dan dalam pengelolaan kebersosialan dan kebermasyarakatan dalam pandang sudut ahli Syatoriyah (wasiat dari Guru kami).

Selama ini kami sesungguhnya telah terlibat bersama dengan jamaah kami yang menyebar di seluruh nusantara dengan program-program pemberdayaan kepada jamaah dan masyarakat, namun banyak bersifat “kemandirian” dan tidak membawa bendera apapun kecuali hanya “bendera” lillahi, billahi, fillahi, sehingga menjadi wajar bahwa keberadaan” kami, tidak banyak dikenal oleh masyarakat.

Dan kami secara pribadi, kepada peserta saresehan dan handai tolan serta semua tokoh dan pembaca mohon dengan kebesaran hati, longgar ing penggalih dan dengan lapang dadanya, mohon untuk maklumnya, dan mohon maafnya atas segala kekurangan, kelepasan, kesembronoan dan juga jika tidak berkenan dihati….sekali lagi mohon maaf.

Semoga kita semua dalam ampunan Allah, dalam maghfirahNya dan ditarik dengan fadhal dan RahmatNya, dan semoga selalu dalam syafaat Rasulullah SAW. Dan negara Ini segera diKersak-aKe Pangeran diwujudkan negara Yang “baldatun toyyibatun warrobun Ghafur.

“wabillahi taufiq wal hidayah” “wallahul muwafiq ila aqwamith thaiq”

IHDINASH SHIRATAL MUSTAQIM, wa bilhaq wa bilhuda wa diinil haq li yudzhirahu ‘alad diini kullihi”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu.

Sabtu, 17 Oktober 2015 / 4 Muharram 1437 H

TANJUNG, Pondok Sufi JATAYU, Tanjunganom Nganjuk JATIM

Muh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Abdullah Afandi.

(Kyai Tanjung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here