0
400
views

Perihal : Yusybih Mubahalah demi Nagari NKRI
Lampiran : 2 bendel buku dan 4 kaset DVD

Kepada yang terhormat :
Bapak Ir. H. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, yang berbahagia, rahimakumullah.
Cc. Para Tokoh Negara, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Unsur-Unsur Elemen Pimpinan Rahimakumullah, yang kami hormati, dan kepada Warga Masyarakat, handai-tolan masyarakat penduduk bumi Nusantara Indonesia yang berbahagia serta kepamongan JATAYU.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuhu,
Salam sejahtera dan berbahagia bagi kita semua.
Bapak Presiden yang mulia, yang saya hormati, teriring do’a dan salam Nusantara Bangkit (NKRI), semoga Bapak dalam keadaan sehat, dan terjaga, dan kita semua semoga dalam ampunan Allah, Tuhan YME.
Kami sangat berharap negara ini untuk segera terbebas dari segala jerat yang menjadikan terpuruk dan jatuh bangun untuk membangun dan mengembangkan jati diri bangsa dan demi kemaslahatan rakyatnya. Kami hanya bisa berharap dan berdo’a, karena kami bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya, manusia tanpa berlatar belakang apapun dan bukan sebagai siapapun dan sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan apapun. Dan tidak ingin menjadi apapun dan menjadi siapapun kecuali hanya menjadi hamba Allah.
Dalam Bahasa yang berbeda, di semua agama sesungguhnya mengajarkan hal yang mendasar dalam menjalani kehidupan perihal kesatuan umat, sebagai ummatan wakhidah min nafsin wakhidah. Ummat yang satu dari diri yang satu.
Ada kehidupan dunia dan ada kehidupan akherat. Kehidupan dunia direfleksikan dengan perilaku jasadiyah dan kehidupan akherat direfleksikan perilaku batiniyah.
Pertama, Jasadiyah berperilaku dalam tatanan syareat ammah dan muamalah. Kehidupan bersosial dan bermasyarakat dengan segala interaksi bersosialnya kepada siapapun dan sebagai apapun tanpa memperhatikan latar belakang keyakinan dan agama serta suku bangsa apapun. Kuncinya adalah ibadah membangun kebaikan dan kemaslahatan. Maka dalam tatanan berdunia semua agama sama, hanya berbeda dalam Bahasa, ada Firman, siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena membunuh dan berbuat merusak maka, sama saja membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memberi kehidupan seorang manusia maka sama saja telah memberi kehidupan manusia seluruhnya.
Kalimatnya adalah “manusia” tidak berbicara khususiyah untuk orang yang seiman. Karena ini perilaku berdunia saat masih menjalani kehidupan berdunia. Berbuat baik dan kemaslahatan kepada sebagai apapun dan sebagai siapapun adalah bernilai ibadah.
Jasadiyah inilah berperilaku dalam islam dalam pengertian perilaku dalam tatanan selamat, damai, penuh cinta kasih dan saling mengasihi, perilaku darma dan budi. Diterima atau tidak diterima sebagai amal ibadah seseorang adalah hak mutlak Tuhan, bukan lagi wilayah manusia untuk menilai, diterima atau tidak diterima. Penilaian adalah wilayah keimanan yang berada dalam kehidupan batiniyah, ini hak Mutlak Tuhan. Sebagai hamba berbuat kebaikan di kehidupan berdunia merupakan keniscayaan dan kewajiban manusia sebagai hamba.
Kedua, batiniyah berperilaku dalam koridor keimanan, kondisi untuk memiliki kehidupan akherat. Namun ini adalah sudah bukan lagi wilayah manusia untuk menilai keimanan dan kadar keimanan seseorang. Iman dan tidak imannya seseorang sesungghnya dilihat dari posisi batin.
Tegasnya lahiriyah sebagai wadah dengan perilaku berada dalam tatanan berdunia dengan sebaik-baiknya, dengan hukum-hukum yang membangun kebersamaan, kesatuan dan persatuan, membangun integritas kedaulatan berbangsa dan bernegera, serta berikhtiyar dengan berjihadunnafsi sedang, wilayah batin hal yang inti dan mendasar adalah wilayah masing-masing diri.
KEADAAN DAN SITUASI FAKTA-FAKTA SEKARANG
– Perebutan pengaruh, kekuasaan dan kekuatan serta pertikaian merajalela
– Saling klaim kebenaran, dan prasangka-prasangka hal yang dianggap biasa.
– Saling sindir saling menjatuhkan saling mengolok saling memfitnah, menjadi-jadi.
– Dekadensi moral, mental dan perzinahan, semakin nyata.
– Berbangga-bangga terhadap diri, kelompok, golongan, jadi sandangan sehari-hari.
– Ego nafsu keakuan, fanatik, kaku, beku, taklid dan kultus, dianggap kebenaran.
– Perilaku sara (suku, agama ras dan antargolongan) semakin tidak terkendali.
– Hanya orientasi lahiriyah, simbol-simbol, plakat-plakat, dan pencitraan, jargon-jargon dianggap telah beragama.
– Penuhanan pada Orientasi kehidupan pada paradigma hidonis, sekuleris, materialis, kapitalis di tuhankan, dan yang diutamakan.
– Orientasi system ideologi kehidupan pada paradigma hidonis, sekuleris, materialis, kapitalis yang di diutamakan, dipedomi bahkan, dituhankan.
Untuk hal tersebut diatas maka kami memberanikan diri menghaturkan “seratan” semoga memiliki faedah dan manfaat serta kehati-hatian dan kewaspadaan bagi kami dan kita semua:
Pertama, buku perihal “TERNYATA ISLAM SANGAT INTERPRENEUR”.
Kedua, buku perihal “KEBENARAN AL-HAQ DAN YUSYBIH MUBAHALAH DEMI NAGARI.
Dengan isi yang terdiri dari:
1. Surat terbuka PERIHAL MENGAJAK KEBENARAN AL-HAQ DAN YUSYBIH MUBAHALAH DEMI NAGARI……………………… hal 1
2. MUNAJAT DO’A “YUSHBIH MUBAHALAH”……… hal 9
3. “YUSHBIH MUBAHALAH” versi pendek………….. hal 18
Ketiga, dua keping Kaset DVD, dengan judul “KAJIAN ILMU TAUHID ANNUBUWAH”
Demikian hatur surat pengantar “buku” KEBENARAN ALHAQ DAN YUSYBIH MUBAHALAH DEMI NAGARI kami haturkan. Semoga negara kita Indonesia selalu dalam lindunganTuhan YME, dan dalam ampunan Tuhan, terkhusus kepada Bapak Presiden, Bapak Ir. H. Joko Widodo semoga mendapatkan kesehatan lahir dan batin, dalam lindungan dan ampunan Allah Swt, diberi kekuatan menjalani amanah, demikian juga kepada pimpinan-pimpinan birokrasi pemerintahan, tokoh-tokoh masyarakat dan penggerak masyarakat, dan kepada seluruh rakyat bangsa Indonesia ini.
Keniscayaan banyak hal yang kurang dan tidak pantas dan tidak patut, sehingga tidak berkenan, kami mohon maaf yang sebasar-besarnya, dan mohon maklumnya.
Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wa barokatuhu

Dari Imam Jamaah AnNubuwah JATAYU

Ttd.
Moh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Abdullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here