AL-ISLAM SESUNGGUHNYA SANGAT BERJIWA WIRA-USAHA

0
867
views

Sungguh sebenarnya ADDIIN AL-ISLAM sangat Interpreneur dan Menyelamatkan.

PERHATIKAN!! AMAL PERBUATAN SAAT INI SANGAT MENENTUKAN!!!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (amal perbuatan saat ini, apa yang dilakukan saat ini menentukan masa depan dalam kebahagiaan, ketentraman atau dalam kesesatan, kegelapan); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. {QS Al-Hasyr 18}

BUKTI REALISTIS

SEKULER MATERIALISTIK

Shalat….. dilaksanakan

Saling menjatuhkan, saling menjegal, saling  menyesatkan, mencari kesalahan, kekurangan dan cacat orang dan golongan…….jadi pekerjaan.

Apalagi……………..

berkelahi…..dilakukan

Korupsi………….ok-ok saja

Minum-minuman………….kebanggaan

Zina………….kesenangan

Apa kita merasa bahagia……. Saat kita iri-dengki

Apa kita merasa bahagia……. Saat kita marah dan dendam

Apa kita merasa bahagia……. Saat kita menyakiti

Apa kita merasa bahagia atau senangkah……. Saat kita mengolok,

SIAPA YANG BERDOSA??? YANG MENGOLOK ATAU YANG DIPEROLOK???

Tidakkah saat orang yang paling kita benci sekalipun saat meninggal juga harus dikubur seperti halnya kita jika meninggal dunia …………..atau kita biarkan, membusuk!!

MAKNA INFORMASI…!!!!???

RENDAHNYA KUALITAS  DALAM SEMUA RANAH, SEMUA LINI, SEMUA  SEKTOR ADALAH MENUNJUKKAN ADA SESUATU YANG SALAH (SOMETHING WRONG)

HAL YANG MENDASAR ADALAH

“PARADIGMA” (TATA NILAI)

PARADIGMA INI BERPENGARUH TERHADAP CARA KERJA, DAN CARA MEMPEROLEHNYA, SERTA HASILNYA.

Tugas kita adalah menjadi lebih pintar dan connect dengan lingkungan untuk menjadikan masyarakat yang memiliki kesadaran kemanusiaan pada perilaku uswatan hasanah (keteladanan dharma). Mencontohlah … Ikutilah dan akhirnya menjadi bagian pelakunya. Dan tentunya kita tidak akan menjadi lebih pintar jika hanya menyalah-nyalahkan sana sini dan pesimistis. Namun jangan hanya ikut-ikutan tanpa memahami dan tidak mengerti.

DUNIA GLOBAL ADALAH GABUNGAN DARI BERBAGAI PERBEDAAN….

KOMUNITAS GLOBAL YANG SUKSES ADALAH YANG MAMPU BERMAIN SEBAGAI PEMAIN LOKAL DI BERBAGAI BIDANG, RANAH KEHIDUPAN.

……………TERAMPIL MENYESUAIKAN DIRI.

BELUM CUKUPKAH AYAT-AYAT-AYAT (NYATA) YANG DIPAMPANGKAN DI HADAPAN KITA SEMUA?

Masihkan kita berpikir lateral, datar dan berpikir kebanyakan??!!

TIDAKKAH KITA MEMERLUKAN “IKATAN” BERDUNIA DALAM TATANAN LAHIR BAGIAN DARI TATANAN SYAREAT??

IKATAN SALING MENGHORMATI, MENGHARGAI, MENGASIHI 

DALAM KEIMANAN PADA KETAATAN DAN KEPATUHAN 

WUJUDKAN KEBERSAMAAN DAN KEKELUARGAAN DAN DALAM BERKESADARAN BERKEMAJUAN NUSANTARA RAYA

(PERILAKU KETELADANAN DHARMA)

KESADARAN TANPA AKSI ADALAH RAGU-RAGU BAHKAN PALSU. YANG BERPIKIR RASIONALITAS, BERTINDAK DALAM AKSI NYATA DAN YANG TIDAK SEKADAR LATAH ADALAH MOTOR PERUBAHAN BANGSA DAN NEGARA.

BERAGAMA ADALAH BER-ADDIIN DALAM POSITIFISME BERPIKIR, HARAPAN DALAM DO’A, PERILAKU DAN TINDAKAN DALAM KESELAMATAN.

BELAJAR ADALAH TANGGUNG JAWAB INDIVIDUAL. JIKA SISTEM PENDIDIKAN TIDAK MENDUKUNG, KITA HARUS MENCARI TAHU SENDIRI.

Sistem pendidikan kita saat ini tidak membangun kesadaran dengan paradigma kemandirian, komunikatif, kreatifitas, dan inovasi kecuali hanya untuk menjadikan faham buruh (followerness), latah (talketive). Pendidikan kita hanya menyiapkan euforia kulit, superfisial dan ke-populis-an.

I FOUND, BAHWA “MENJADI OBYEK” ADALAH MASALAH MENTALIS… MASALAH MINDSET… MASALAH FOLLOWERSHIP.

Obyek, euforia >> Obyek pelaku >>>> Subyek pelaku (tanggungjawab, disiplin, komitmen, istiqomah, tumakninah)

Mentalitas >> orientasi kulit >>>> kedalamannya, orientasi mendasar, yang mendasari tindakan (pemetaan, identifikasi aktifitas terhadap tugas dan fungsi penciptaan)

Mindset >> kerangka pikir >>>> sistemik, berpikir substansif demi kemajuan, kepositifan (pengaruhnya terhadap hasil dari sebuah pekerjaan dan aktifitas, karena sesungguhnya mindset berbicara mengenai qalbu atau ketetapan hati)

Followers >> followerness, paham buruh >>>> followership (dimulai berani mencontoh, berani bertanya, komunikatif, kemudian menjadi perilaku kemandirian dalam “keteladanan darma”)

 

Masa depan sangat ditentukan sikap apa dan bagaimana sekarang…!!

Mau jadi apa, dan menjadi bagaimana…….

Hal yang sering menjebak adalah mentalitas instanisasi, sekarang berpikir, sekarang wujud

Hal yang sering menjebak adalah kesuksesan dan kualitas diukur dari sisi luar (tetangga, orang lain, instansi lain, negara lain)

Seseorang yang sakit, tidak pernah puas dengan satu dokter, tidak hanya dokter juga paranormal, juga dukun, dan segala obat dan semua informasi di ikuti semua.

Jika kita berada di dalam mindset yang baik, maka yang diperhitungkan adalah Rasionalitasnya, supaya tidak terjebak ke dalam subyektifitas dan akan hanya menjadi “obyek” korban pesakitan.

Berusaha mengetahui kandungan obat yang diberikan, sehingga jika pindah dokter atau ganti herbal pertimbangan “daya sembuhnya”nya adalah kandungan obat yang didalamnya.

Tidak sekedar “COCOK” namun apa yang sesungguhnya menjadikan cocok. Disamping karena interaksi sosialnya, namun tetap perlu juga memperhitungkan “apa yang diberikan” supaya tidak terjebak ke dalam ikut-ikutan, kultus, kebekuan, fanatis.

Dan mengetahui batas-batasnya (norma-norma kemasyarakatan dan konstitusinya termasuk tatanan ke-syareatannya)

 

Apakah anda yakin…!! Bahwa orang yang gila kehormatan, gila kemuliaan, gila sanjungan, setelah memperolehnya pasti membahagiakan??!!!

Apakah anda tahu…!! Bahwa orang yang “AMBISI” ternyata tidak bahagia….. selalu didalam kekhawatiran

KITA MASIH NEGARA……SEANDAINYA!!! DAN  MENJADI NEGARA SEBENARNYA???

Orientasi angka-angka merupakan perwujudan akibat orientasi lahiriyah-kulit. Menyebabkan “persaingan” dan skeptisitas watak dan perilaku serta individualis. Sehingga semua interaksi dan bahasa komunikasi yang ada dan yang (kepastian) berkembang adalah kamu berani bayar berapa? Watak jiwa buruh, ketergantungan, masyarakat “manja”, kesukuan, kepentingan, jauh dari gotong-royong, jauh dari respek, respon dan jauh dari rasa peduli. Yang pada saatnya adalah “kepastian” pada kejatuhan pada semua level dan bidang yang kompleksitasnya sangat tinggi dan memunculkan beragamnya dekadensi yang pada saatnya berada di posisi titik terendah pada lembah kejatuhan.

APAKAH ANDA MASIH MENJADI DARI BAGIAN…DARI-NYA ?APAKAH ANDA INGIN MENUNGGU MENJADI KORBAN ? 

SEANDAINYA MAKNA AD-DIIN DAN MAKNA AL-ISLAM DIPOSISIKAN DAN DITEMPATKAN PADA YANG SEMESTINYA

MAKA … LUAR BIASA KEMAJUAN NUSANTARA INDONESIA! TERBENTUKNYA GERAKAN PERILAKU KETELADANAN DHARMA, TERWUJUD UTUH DALAM KEDAULATAN YANG INTEGRITASINYA PADA SEMUA RANAH ELEMEN BANGSA

………….. SANGAT INTERPRENEURSHIP!!!

OLEH KARENA ITU:

  • KENALI DIRI. Dengan mengenali anfus manusianya maka dapat melakukan pemberdayaan kemanusiaannya secara utuh dan komprehensif. (manusia secara lahiri dan manusia secara hakekat fitrah manusianya)
  • KEMBANGKAN POTENSI. Setiap dari diri memiliki potensi “yang batini” untuk diberdayakan dan dioptimalkan spiritualitasnya, tanpa meninggalkan ranah-ranah berdunia. Dan setiap diri manusia juga memiliki potensi lahiri yang berupa akal pikiran dan panca indra organ tubuh manusia yang dapat dikembangkan sesuai dengan minat dan bakat.
  • BANGUN, KEMBANGKAN, DAN TINGKATKAN potensi pendengaran, potensi penglihatan dan potensi berpikir jernih dan murni.
  • BERSUNGGUH-SUNGGUH (JIHADUNNAFSI, memerangi nafsunya sendiri) untuk membangun kebiasaan, masuk pada ranah terbuka, pendengar yang baik, pelihat yang baik, dan penyimak yang baik.
  • BUANG PENUTUP-PENUTUP yang mengotori pikiran dan penyakit-penyakit hati. Dengan MEWASPADAI SIFAT, WATAK, PERILAKU; FANATIS, BEKU, POKOK-E, IRI, DENGKI, GENGSI, MERASA CUKUP, DAN NAFSU EGO KEAKUAN EKSISTENSI.

Maka telah tersebut dalam firman Allah, “tidak akan mampu mengubah jika tidak mengubah apa yang berada di dalam anfusnya”.

Mengubah kebiasaan; perilaku, pola pikir, sifat dan karakter yang sudah terlanjur menjadi aktifitas sehari-hari adalah sesuatu yang memerlukan “energi”, maka mesti diawali dari “kesadaran” siapa diri kita, manusia ini apa dan siapa. Ini adalah “anfus”.

Dimulai dari orientasi “usaha yang dilakukan” sebagai tujuan hidup. Saat kita melakukan usaha berdunia “sebagai apapun dan sebagai siapapun” tetaplah kita ini hamba yang mesti di dalam kesadaran “al-faqir”.

Perilaku “beragama” adalah perilaku ADDIIN”, perilaku pada kehidupan sehari-hari dalam kesadaran “SUBHAANAKA” meMahaSucikan Keberadaan-Nya. Perilaku yang memiliki dimensi lahiriyah dan dimensi batiniyah. Lahir menjalankan tatanan syareat, di samping yang ritualitas, juga yang muamalah serta memakmurkan bumi Allah. Garapan dunia dikerjakan sebaik-baiknya, seoptimal mungkin, namun ranah dimensi batiniyah (yang ditetapkan di dalam hati sebagai tempat bergantung, tempat tujuan dan tempat kembali) adalah Tuhan Yang Allah NamaNya.

Bumi seisinya, dengan segala potensi yang dimiliki. Semua yang berada di dunia adalah ayat-ayat Allah yang mesti dibaca, ditelaah, disimak, diperhatikan, dan nyata berpahala dunia, berpahala akherat.

Dan Allah jelas telah berfirman dalam QS. Ali Imron 190-191, bahwa dalam penciptaan langit dan bumi dan bergantinya malam dan siang adalah tanda-tanda (MengadaNya untuk dikenali KeberadaanNya), bagi mereka yang “ULUL ALBAAB” mereka yang berada di dalam lapis inti terdalam (“ulul” adalah ke dalam, “albaab, jama’ dari lubbun” adalah inti), yaitu mereka yang “selalu ingat kepada Allah sambil beraktifitas apa saja, dimana saja dan dalam keadaan dan situasi apa saja dan mereka yang “bertafakkur”. Di dalam penciptaan langit dan bumi, artinya  berkontemplasi, berdialektika dan aksi pemberdayaan secara praktek nyata dalam menjalani kehidupan bahwa kita hidup di kolong langit dan menginjak bumi milik Allah.

Yang kesemuanya ini diciptakan tidak sia-sia, maka berdayakan! Makmurkan! Dan  MahaSucikan KeberadaanNya! Yakni secara lahir “bersungguh-sungguh” memberdayakan bumi Allah, berikhtiyar, berusaha, memberdayakan diri dan memberdayakan lingkungan seprofesional mungkin, namun orientasi kesadaran mengeluarkan dari dalam dada penyakit-penyakit hati yang mengotori hati nurani, yang menjadikan dalam sifat, watak, perilaku iri, dengki, riya’, sombong, arogan, sum’ah, ujub dan takabur (perilaku “naar”). Hal ini supaya sesuai dengan kalimat “ Yaa Tuhan kami (sungguh) Engkau ciptakan ini semua tidak sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jangan Engkau masukkan kami ke dalam Neraka”.

Manusia dilahirkan dari perut ibu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya, maka Allah memberi pendengaran, penglihatan dan ketetapan hati (af’idah, kecerdasan hati karena akal pikiran yang berfungsi pada KehendakNya), namun sedikit dari hambaku yang bersyukur), [ayat yang sejenis dan yang semaksud dengan hal ini cukup banyak]

Syukur adalah sikap, perilaku dan watak yang terbuka, membuka dan dibuka. Lapang dada, “nyegara” pandai mengalah, belajar sepanjang hayat, kesadaran hamba di dalam penghambaannya.

Kufur adalah sikap, perilaku dan watak yang tertutup, menutup dan ditutup. Saat atasan bertemu bawahan……karena jaim dan gengsi maka menjadi tutup. Saat pejabat bertemu rakyat kecil….diberitahu mengenai “sesuatu” tidak bisa menerima karena hanya rakyat biasa “tahu apa kau??!!”……..maka, menjadi tutup. Saat karena merasa keturunan darah biru, merasa mulia, merasa agung sehingga menutup dari informasi bahkan kebenaran, maka menjadi tutup.

Saat rakyat dan masyarakat dengan arogansinya tanpa rasa menghargai dan rasa menghormati……maka menjadi tutup. Dst…dst.

BERDUNIA DENGAN MENGIKATKAN DIRI DI DALAM SALING MENGHARGAI, SALING MENGHORMATI, SALING MEMAKLUMI, SALING MEMBUTUHKAN, SALING KASIH, SALING SAYANG, SALING MENJAGA ADALAH KEBUTUHAN PERILAKU KETELADANAN DAN BERKEMAJUAN.

Ketidakpastian paradigma, nilai-nilai, visi, misi, tujuan, arah dan sasaran, memiliki efek pada tata aturan, tata krama, moral, dan keringnya jiwa, bahkan terbentuknya jiwa-jiwa yang dikendalikan oleh nafsu materialistik. Orientasi kesejahteraan dan kebahagian pada angka-angka dan materi semata, orientasi fatamorgana, kekeliruan orientasi yang menjadi “penyebab” ketidak pastian.

Sadar atau tidak diakui atau tidak paradigma pandang sudut bangsa selama ini adalah

SEKULER MATERIALISTIK

 

BAROKAH ……..APA…… ISTIDRAJ?

Sangat tergantung dari niat, tekad dan tujuan yang dibuat

SYUKUR. Jiwa yang membuka dan terbuka, lapang dada dan “nyegara”, bisa menerima perbedaan, menerima kelebihan orang lain, mengakui kelemahan dan kekurangan diri.

Kesadaran jiwa alfaqir…..merasa butuh pertolonganNya, AmpunanNya, fadhal dan RahmatNya sehingga, memberdayakan pendengarannya, penglihatannya, dan pikiran serta hatinya. Demi kemajuan spiritualnya dirinya, kemajuan sosial bermasyarakatnya dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kuat dalam menerima seruan kebenaran, dan seruan untuk kemajuan, dan seruan untuk pemberdayaan.

BERSHALAWAT. Adalah kesadaran “antumul fuqoro’ ila Allah” kesadaran bahwa manusia yang butuh kepada Allah, butuh dapat “selamat” kembali kepada Allah kembali, Allah Yang Maha Kaya, Maha Segala-galaNya, maka akan menempatkan penghambaan dalam kesadaran terbimbing, belajar sepanjang hayat, membangun ikatan kekeluargaan, kebersamaan, kesatuan persatuan dalam kedaulatan yang utuh dalam ikatan saling menghormati, salinmenghargai, saling memaklumi, saling mendukung, saling puji-pinuji sadar KEBENARAN ADALAH MUTLAK HAK ALLAH, bukan milik golongan tertentu, kelompok tertentu. Sadar “al-Haq adalah min Robbika”.

Sehingga jauh dari watak ego nafsu keakuan, keangkuhan, arogansi, kesombongan, merasa diri paling pandai dan paling pintar, dan merasa telah benar-benar sebagai penduduk ahli jannah-Nya, sadar hanya karena maghfirahNya, sadar hanya karena fadhal dan RahmatNya maka seseorang ditarik menjadi hamba (dan kekasihNya).

SABAR. Mau memaksa jiwa raganya, menjalankan ibadah yang mahdah pun yang ghoiru mahdah……

  • Mau memaksa jiwa raganya menjalankan perintah-perintah Allah dalam keadaan lapang atau sempit.
  • Menerima dengan ikhlas tidak mudah putus asa, bisa menerima keadaan dan kenyataan…. dengan tetap membuat “lakon” berdunia.
  • SADAR BAHWA DUNIA INI ADALAH LAHAN UJIAN. Enak tidak enak, kaya miskin, semua ini adalah ujian.
  • Berada didalam kesadaran bahwa manusia itu lemah dan tidk bisa apa-apa, bisanya hanya membuat kesalahan dan dosa, maka akan terus memperbaiki diri.
  • Selalu dalam kewaspadaan atas menyusupnya nafsu ego keakuan.

JIHADUNNAFSI, adalah kalimat genderang perang. Yaitu memerangi nafsunya sendiri. Memerangi kebodhohan diri, memerangi sifat dan watak malas, memerangi watak dan sifat ego keakuan, memerangi perilaku berbangga-bangga atas dirinya, berbangga-bangga pada keturunannya, kelompoknya, golongannya, partainya. perilaku kepentingan-kepentingan diri, golongan dan kelompok. Memerangi.

JIHAD, adalah perilaku dalam kesadaran dengan memaksa diri untuk berbuak kebaikan, kesalehan, dan kemaslahatan.

Pemateri sangat sadar banyak kekurangan, kesalahan, kekhilafan bahkan pembuat kesalahan dan pembuat dosa, hanya berharap ampunan-Nya, fadhal dan Rahmat-Nya.

Dan semoga Allah mengampuni kita semua…. Dan segera negara ini terbebas dari belenggu kecarutmarutan, ketidakpastian, dan segera Allah tampakkan AL-HAQNYA. Sehingga menjadi negara yang tersebut “BALDATUN TAYYIBATUN WA ROBBUN GHAFUR”

Wabillaahi taufiq wal hidayah,

Wallahul Muwafiq ilaa Aqwamith Thariq

IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIM, WA BIL HAQ WA BIL HUDA WA DIINIL HAQ LI YUZHIROHU ‘ALAD DIINI KULLIHI

ASSALAAMU’ALAIKUM WAROHMATULLAHI WA BAROKATUHU

Sabtu, 13 September 2015 / 4 Muharram 1437 H

TANJUNG, Pondok Sufi JATAYU, Tanjunganom Nganjuk JATIM

 

 

 

Muh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Abdullah Afandi.

(Kyai Tanjung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here