0
363
views

Surat terbuka :

Perihal Kebenaran Al-Haq dan Yusubih Mubahalah demi Nagari.

 

Kepada Yth.

Bapak Presiden Republik Indonesia

Cc : Bapak / Ibu : Para Tokoh Negara, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Unsur-Unsur Elemen Pimpinan Rahimakumullah, yang kami hormati, dan kepada Warga Masyarakat, handai-tolan masyarakat penduduk bumi Nusantara Indonesia yang berbahagia serta warga JATAYU. Semuanya, Rahimakumullah,

Saudara-Saudaraku sebangsa dan setanah air.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuhu

Salam sejahtera, salam bahagia, salam damai, salam bagi kita semua.

Teriring hatur mohon maaf yang sebesar-besarnya telah mengganggu kamardikan “panjenengan” semua, semoga panjenengan semua dalam keadaan sehat wal afiat sehat lahir dan sehat batin, dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Pertama perkenankan kami menghaturkan rasa syukur atas segala nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kami dan kepada kita semua, dan kedua, menghaturkan sholawat salam “allahumma sholli ala (sayyida) Muhammad wa ala ali (sayyidina) Muhammad.

Saya (yang kemudian akan saya alihkan menjadi kami, karena terasa lebih nyaman). Kami sebagai salah satu anak bangsa ini bangsa tercinta Indonesia ini, manusia marginal dan tentu sebagai hamba Allah yang menghamba kepada-Nya dengan menjalankan perintah-Nya untuk membuat perilaku penghambaan.

Dan sebagai manusia penduduk bumi yang berada di bumi Nusantara yang secara konstitusi politis bernomenklatur Indonesia, merasa ikut prihatin atas kondisi bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Karena di negara inilah kami berbuat lakon pitukon sebagai bagian dari tatanan syareat yang ammah.

Kami sangat berharap negara ini untuk segera terbebas dari segala jerat yang menjadikan terpuruk dan  jatuh bangun untuk membangun dan mengembangkan jati diri bangsa dan demi kemaslahatan rakyatnya. Kami hanya bisa berharap dan berdo’a, karena kami bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya, manusia tanpa berlatar belakang apapun dan bukan sebagai siapapun dan sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan apapun. Dan tidak ingin menjadi apapun dan menjadi siapapun kecuali hanya menjadi hamba Allah.

Namun sebagai rakyat yang manjadi bagian dari masyarakat Indonesia, merasa terpanggil setelah melihat, memperhatikan dan mencermati kondisi dan situasi yang tampak semakin anharmonis dalam tatanan kemasyarakatan dalam bertata berbangsa dan bernegara. Dan tampak semakin jauh dari ranah-ranah kebenaran, keadilan, ketentraman, kedamaian, kesantunan, keakhlakan dan ke-adaban.

Semuanya tampak menjaga menara gadingnya sendiri-sendiri. Namun semuanya bercita-cita dan berharap hal yang sebagian besarnya adalah sama yaitu terwujudnya negara yang baldatun toyyibatun warrobun ghafur. Sebuah cita luhur nan agung. Negara yang tata titi tentrem karto raharjo loh jinawi, negara yang penuh dengan ampunan Allah dan negara yang dianugerahi barokah dari langit dan barokah dari bumi.

Akan tetapi disisi yang lain pertikaian, nafsi-nafsi ego keakuan juga semakin kuat membangun kerajaannya, membangun status qua kehormatan kemuliaan duniawi dengan segala isi materialnya, yang dikemas dengan masing-masing bahasa sesuai dengan latar belakangnya sendiri-sendiri, simbolnya sendiri-sendiri sehingga sampai pada titik kultus, jumud, kaku dan fanatik: Kesukuan, kepartaian, keagamaan, darah biru keluarga dan keturunan, tanah kelahiran dan sebagainya dan seterusnya.

Untuk itu kami sebagai bagian dari rakyat yang berharap terwujudnya kesatuan dan persatuan yang diikat oleh kebhinnekaan. Melihat uraian sekilas tersebut diatas maka MENGAJAK, BERMUNAJAT BERDO’A PADA LEVEL “YUSYBIH MUBAHALAH”.

SEKILAS MENGENAI MUBAHALAH DAN YUSYBIH MUBAHALAH.

Mubahalah hampir pernah dilakukan oleh nabi Muhammad SAW, yang intinya adalah saat ada dua atau lebih kelompok atau golongan yang memusuhi, memfitnah, kemudian berbuat klaim kebenaran, klaim benarnya sendiri maka diserahkan penghakimannya kepada Allah. Yaitu memohon kepada Allah Swt dengan tulus dan ikhlas supaya yang lalim dan yang batil untuk disingkirkan, ditenggelamkan, dimusnahkan dari permukaan bumi Allah. Dan yang benar, yang hak untuk di angkat di tampakkan sebagai kebenaran dari Allah. Sebenarnya Nabi SAW lebih memilih ini dari pada perang berhadap-hadapan.

Yusybih mubahalah adalah bermunajat kepada Allah setingkat dengan mubahalah, saat perilaku kerusakan, perilaku kelaliman, perilaku kedzaliman, kesemrawutan, kecarut-marutan dan perilaku-perilaku kekufuran, kefasikan, kemunafikan, dan keluar dari tatanan norma ketuhanan telah merajalela dan tidak terkendali. Hal ini hampir semua Nabi Rasul Allah juga melakukan. Saat para Nabi mengingatkan, memberi peringatan atas perilaku kufurnya, atau perilaku merusaknya, perilaku maksiyatnya akan menghijab dan menghalangi serta menyesatkan maka, para Nabi dan Para Rasul bermunajat kepada Allah supaya memberi keputusan. Seperti halnya saat Nabi Nuh, As ditentang oleh kaumnya maka beliau berdo’a, dalam QS 71. Nuh,“ 26. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi, 27. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir”. Dan hal ini tertulis didalam Ayat AlQur’an.

Yusybih mubahalah atau mubahalah, dilakukan guna sebagai hujah kebenaran “Al-Haq min robbika” atas kepastian ikatan persaksian supaya dalam kebenaran AlHaq min Rabbika, sebab manakala tanpa hujah yang terang dalam ikatan persaksian akibatnya akan menimpa kepada yang memohon, namun jika dilakukan oleh yang memang dalam ikatan kebenaran Al-HaqNya maka munajat yusybih mubahalah akan berlaku secara otomatis, hanya waktunya Allah Sendiri yang memiliki ketetapan. Semoga Allah menghijabahi dan segera mewujudkan.

SEKILAS MENGENAI BID’AH.

Kami disini hanya sekilas saja, bahwa inti bid’ah adalah sesuatu yang ditambah-tambah yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW, pertanyaannya apakah perbuatan baik walaupun tidak dilakukan oleh Nabi maka bisa jadi katagori bid’ah. Bukankah sholat dhuhur empat rekaat namun tetap akan sah saat seseorang karena lupa menjadi lima rekaat atau menjadi tiga rekaat. Namun Allah akan mengancam saat orang melakukan sholat namun tidak dzikrullah, saat hatinya tidak hadir untuk mengingati Keberadaan Sang Empu Nama Allah, sekalipun lupa kalau sedang sholat. Saat seseorang puasa namun lupa jika sedang berpuasa kemudian makan ditengah hari maka ini tetap tidak membatalkan puasanya namun, saat puasa kemudian mengeluarkan kata-kata keji, mengolok-ngolok walaupun dalam keadaan terlupa kalau sedang berpuasa maka puasanya hanya memperoleh lapar dan dahaga puasanya menjadi sia-sia.

Hal ini menunjukkan arti dan makna yang sangat jelas terang dan gamblang bahwa bid’ah adalah posisi batin hati nurani yang tidak dalam ingatan kepada Sang Empu Nama Allah. Bid’ah memberikan gambaran situasi melupakan makna nilai ibadah adalah perilaku hamba sebagai al-‘abid terhadap Sang MakbudNya. Haji mestinya untuk ibadah, namun jika niat dan tujuannya adalah untuk kemuliaan duniawi maka menjadi bid’ah, begitu seterusnya. Nabi saat sholat hatinya khusyuk artinya hati nuraninya hadir mengingati Keberadaan Diri Tuhan Yang berAsma Allah, Nabi tidak mengingat-ngingat tempe, tahu, pekerjaan, iri dengki,  su’udzon, prasangka, kemudian mengingat seseorang yang dibenci, mengingat yang diprasangkai dan sebagainya dan seterusnya, karena ini berarti menambah-nambah “sesuatu” didalam hatinya.

SEKILAS MENGENAI BALDATUN TOYYIBATUN WARROBUN GHAFUR, NEGARA YANG TATA TITI TENTREM KARTA RAHARJO GEMAH RIPAH LOH JINAWI.

Negara yang toyyib dan dalam ampunan Tuhan:

Baldatun Toyyibatun adalah negara yang baik dalam pengertian penduduk negerinya penuh dengan perilaku “subhanaka” perilaku berdunia dengan semangat kerja, kreatif, inovatif dan kepedulian kepada sesama penduduknya tinggi; sosialnya tinggi, kemasyarakatannya tinggi, namun, semua yang dilakukan dalam kesadaran bahwa semua yang dilakukan dalam kerangka meMahaSucikan Keberadaan Diri Tuhan, sadar bahwa sebagai hamba harus berbuat kebaikan sebab ini menjadi bagian dari tatanan ibadah yang ammah. Bahkan berbuat baik kepada siapapun adalah ibadah.

Negara yang baldatun ini, orientasi niat dan tujuan penduduknya dalam menjalani kehidupan berdunianya tidak diletakkan kepada kebendaan materialisme dan kemuliaan-kemuliaan, gengsi-gengsi duniawi namun yang dijadikan tujuan hidupnya adalah apa yang ditetapkan didalam hati yaitu Keberadaan Diri Tuhan Yang Allah NamaNya sehingga dalam keselamatan lahir batin dunia akherat.

War rabun ghafur adalah bentuk anugerah ampunan Allah terhadap penduduknya, sebab dalam perilaku kemasyarakatannya, perilaku ke-darmaannya, perilaku uswah atau keteladannya adalah tinggi, kepeduliannya, sosialnya, interaksi yang dibangun adalah bangunan kekeluargaan, kebersamaan, kepedulian gotong royong. Sadar bahwa manusia ini adalah makhluk ruhiyah yang beraktifitas berdunia adalah kemestian untuk melalui pengalaman-pengalaman manusiawi. Sehingga saat melakukan aktifitas berdunianya adalah membangun kesadaran spiritualitas yang bersifat ruhiyah, sadar tanpa Ruh Ilahi nyata manusia tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya. Dan bukan sebagai manusia untuk mengejar pengalaman-pengalaman mistik.

Sehingga penduduk negeri yang baldatun toyyibatun warrobun ghafur adalah saling menghormati, saling menghargai, saling memiliki rasa maklum yang tinggi, suka saling menolong, suka saling membantu, suka gotong royong, suka komunikasi yang komunikatif, saling respon, respek, tanggap dan memiliki kepedulian operasional. Jauh dari watak dan sifat: suka mengolok, suka menjatuhkan, suka menghujat, suka memfitnah, suka menghakimi karena merasa benar sendiri dan lain sebagainya.

SEKILAS PERIHAL MADANA, MADINA, MADANI.

Sepertihalnya pada penjelasan baldatun toyyibatun warrobun ghafur. Masyarakat madani adalah peradaban dengan perilaku adab dengan akhlak yang tinggi sebagai tolok ukur terwujudnya komunal masyarakat yang madaniyah, sebuah masyarakat yang berorientasi kepada keilmuan dan praktek operasionalnya, bukan masyarakat yang hanya berhenti dan tenggelam pada: jargon-jargon, simbol-simbol, plakat-plakat, legenda-legenda, wacana-wacana, wawasan-wawasan, gambar-gambar, simbol-simbol. Bukan masyarakat yang hanya berorientasi pada superfisial kulit semata namun, komunitas komunal yang berada didalam kesadaran Al-Haq min Robbika.

Sebuah ilmu yang menunjukkan hakekat hidup, ilmu yang membuka hakekat jati diri manusia sehingga dalam menjalani kehidupannya manusia mengetahui asal-usul kejadian diri, ilmu yang menunjukkan jati diri fitrah manusia yang hakekat asal fitrah manusia dari Fitrah Allah Piyambak.

Ciri sebuah “Ilmu” adalah ada obyek yang dikaji, ada kelompok jamaah yang menjalaninya, ada methode atau sistem untuk memperolehnya, dan ada tujuan yang diraih melalui proses keilmuan dan ada ahlinya. Maka nabi bersabda, “saya adalah rumah “ilmu” dan Ali adalah pintunya, itulah ilmu Nubuwah.

SEKILAS PERIHAL AGAMA DALAM BER-ADDIIN.

Kami tidak akan mengurai panjang lebar mengenai beragama, kami hanya menekankan bahwa agama dalam pengertian diin adalah perilaku kehidupan yang dijalani. Al-Diin, menjadi addiin “AL”nya sebagai penekanan isim makrifat, artinya melengkapi atau menggenapi supaya didalam kesempurnaan makrifat, sehingga kehidupan yang dijalani dalam orientasi niat dan tujuan yang jelas-jelas dikenali: dikenalinya tujuan hidupnya, dikenali hakekat fitrah manusianya, dikenali Keberadaan Tuhan Yang Allah AsmaNya. Dan Islam dalam pengertian selamat. Artinya bahwa kehidupan yang dijalani manusia akan dalam perilaku hamba dalam penghambaan al-abid terhadap Sang Makbud yang dikenali, sehingga kehidupan yang dijalani berada dalam perilaku selamat, dengan cara yang selamat.

Sehingga agama dan islam bukan dalam pengertian golongan atau kelompok atau apalagi partai. Sebab tegaknya addiin adalah tidak berpecah belah.

Sehingga addiin komponen intinya ada dalam keimanan yang makrifat. Dan al-Islam adalah tata perilaku dalam tatanan keselamatan lahir dan batin.

Sehingga orang yang ber-addiin al-Islam akan jauh dari watak, sifat dan perilaku iri, dengki, arogan, sombong, merusak, merasa diri paling benar, merasa diri paling suci, menghujat, mengolok-ngolok, memfitnah, su’udzan, prasangka. Dan saya yakin perilaku ini juga diajarkan di agama-agama yang lain juga, demikian pula budaya adat istiadat suku bangsa Nusantara.

Sedang Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, yang menjadi penekanan adalah “menyempurnakan” artinya bahwa akhlak yang telah baik akan mulia saat telah disempurnakan, yang sempurna adalah Tuhan Sendiri. Maka disempurnakan dengan ilmu yang menunjukkan Keberadaan Diri Tuhan maka didalam ayat disebutkan orang yang muttaqiin adalah mereka yang yukminuuna bil Ghaybi. Ghayb adalah mufrad atau tunggal ya… Tuhan Sendiri, dan Al-nya adalah isim makrifat. Sehingga AL-Ghayb adalah sesuatu yang tidak tersentuh oleh mata kepala karena Gaib namun sangat jelas dan terang serta gamblang untuk dapatnya dikenali keberadaan-Nya. Sebab ba’-nya bermakna bersama artinya keimanan yang memakrifati tidak hanya namaNya saja. Karena inilah inti Risalah ke-Rasul-an.

KEADAAN DAN SITUASI FAKTA-FAKTA SEKARANG   

  • Perebutan pengaruh, kekuasaan dan kekuatan serta pertikaian merajalela
  • Saling klaim kebenaran, dan prasangka-prasangka hal yang dianggap biasa.
  • Saling sindir saling menjatuhkan saling mengolok saling memfitnah, menjadi-jadi.
  • Dekadensi moral, mental dan perzinaan, semakin nyata.
  • Berbangga-bangga terhadap diri, kelompok, golongan, jadi sandangan sehari-hari.
  • Ego nafsu keakuan, fanatik, kaku, beku, taklid dan kultus, dianggap kebenaran.
  • Perilaku sara (suku, agama ras dan antar golongan) semakin tidak terkendali.
  • Hanya orientasi lahiriyah, simbol-simbol, plakat-plakat, dan pencitraan, jargon-jargon dianggap telah beragama.
  • Orientasi kehidupan pada paradigma hidonis, sekuleris, materialis, kapitalis di tuhankan, yang diutamakan.
  • Orientasi system ideologi kehidupan pada paradigma hidonis, sekuleris, materialis, kapitalis yang di diutamakan, dipedomi bahkan, tuhankan.

HARAPAN PERMOHANAN DALAM MUNAJAT

Yang pertama, demi terwujudnya kebenaran Al-Haq min Robbika sehingga bukan sebagai kebenaran menurut akal pikiran, bukan kebenaran karena penguasa juga bukan karena kekuatan, juga bukan kebenaran karena pendapat orang banyak. semoga Allah menampakkan yang benar dan dibenarkan sebagai haq mutlak Allah dan hak-hak junjungan Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan ajaran para Nabi para Rasul, semoga Allah menampakkan di permukaan bumi-Nya. hal ini supaya kebenaran tidak didalam keragu-raguan dan samar serta rancu. sehingga semua mengklaim sebagai yang benar dan dikatakan kebenaran dari Allah.

Yang kedua, Demi terwujudnya negara yang baldatun toyyibatun warrobun ghafur, negara yang tata titi tentrem karta raharja loh jinawi, yang mimpin dan yang dipimpin pandai mengadili diri sendiri, negara yang damai, tentram, respon, respek, tanggap, kepedulian gotong-royong, bangunan, kebersamaan dan kekeluargaan, terwujudnya kesatuan dan persatuan dengan ikatan mahabbah birouhillah dalam perilaku kesalehan semoga Allah wujudkan dan ditampakkan di bumi Nusantara ini.

Yang ketiga,  Ya.. Allah Ya Tuhan Kami… Dan janganlah Engkau biarkan dan tambahkan bagi orang-orang yang dzalim dan lalim, pembenci, pendengki, penggunjing, penghujat, pengolok, perusak, penghalang terwujudnya kebenaran keadilan, penghalang wujudnya kesatuan dan persatuan, pemfitnah, apalagi pembunuh kebenaran Al-Haq Engkau, ya.. Allah Ya Rabbi selain kebinasaan, cabutlah, singkirkan, tenggelamkan, hilangkan dari permukaan bumi-Mu, kecuali yang kemudian bertaubat dan kembali kepada yang benar dan dibenarkan dan mengikuti kapada yang atas kehendakNya dalam AlHaq adalah min rabbika, ya Allah keputusan dan penghakiman semuanya kami haturkan kepada Engkau Piyambak.

Setiap orang memiliki kiblatnya masing-masing, maksudnya setiap orang memiliki wali yang dengannya seseorang itu meneladani keimanannya. yakni “sesuatu” yang disandari dan kepada walinya itu disandarkan segala sesuatunya, kecenderungan yang sangat kuat untuk dipedomi untuk mencapai tujuannya, maka dimana saja kamu berada, sebagai siapapun dan sebagai apapun berlomba-lombalah membuat kebaikan. (kandungan QS. Al-Baqarah 148)

Kepada para pembaca, dan seluruh komponen bangsa dan negara, sekali lagi keputusan dan penghakiman kita serahkan semua kepada Allah Swt.

Dan siapapun, golongan apapun, keyakinan apapun, agama apapun, sebagai siapapun dan sebagai apapun jika tidak berkenan marah dan kecewa maka, kami mengajak bermunajat berdo’a “yusybih mubahalah” yang sesuai dengan keyakinan dan agama dengan bahasa masing-masing keyakinan. Dan kami bersama dengan jamaah AnNubuwah, dengan ilmu Nubuwah memunajatkan do’a “yusybih mubahalah” semoga meridhoi sebagai ketetapan qudrat iradat Allah Swt.

Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum menghilangkan keadilan, kemudian berbuat kerusakan, berbuat kedzaliman dan kelaliman.

Demikian surat terbuka kepada seluruh komponen bangsa dan negara Indonesia ini kami haturkan,

Dari Anak Bangsa, Sang Feqir.

Imam JATAYU AnNubuwah

Muhammad Sulaiman Kurdi Tanjung AlFaqiri Abdullah

(Kyai Tanjung)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here